|
LIMOPULUAH KOTO, METRO-- Terganggunya kesehatan masyarakat
Limopuluah Koto, umumnya disebabkan beberapa faktor. Antara lain,
akibat ketidaktahuan, ketidakberdayaan dan ketidakpedulian masyarakat
dalam menerapkan pola tingkah hidup sehat. Hal ini dapat dibuktikan
dari angka sepuluh penyakit terbanyak yang dilaporkan Puskesmas dan
rumah sakit.
Kepala Bidang P2P&PL Dinas Kesehatan Limopuluah Koto Gusdian Laora SKM mengatakan, selama tahun 2006 lalu, sebagian besar penyakit masyarakat terjadi akibat penyakit-penyakit yang didominasi penyakit berbasis lingkungan, pemukiman dan perilaku. “Seperti penyakit ISPA, diare, TBC, hepatitis, flu burung, campak, dan polio. Selain itu, masalah kekurangan gizi juga mulai menonjol pada anak balita maupun remaja putri. Bahkan saat ini mulai pula bermunculan penyakit lama maupun baru seperti penyakit kusta dan filariasis atau penyakit kaki gajah,” kata Gusdian saat ditemui di Limopuluah Koto, Minggu (20/4). Tapi menurutnya, terjadinya kondisi tersebut tidak terlepas dari faktor lain, seperti kurangnya sarana pelayanan kesehatan, belum optimalnya akses masyarakat untuk mendapatkan air bersih, jamban keluarga, bahkan perumahan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.
Dikatakannya, selain kondisi geografis daerah, serta perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan, yang juga turut memengaruhi peningkatan penyakit tertentu dan ikut menentukan perkembangan pola penyakit yang ada termasuk pula gizi buruk, anemia gizi hamil maupun remaja putri, hipertensi, bahkan jantung koroner yang mulai diderita sebagian masyarakat akibat pola konsumsi yang tidak terkontrol. Terjadinya transisi epidemiologi menyebabkan double burdens masyarakat dan pemerintah. “Di mana pada saat sebagian besar masyarakat menghadapi penyakit infeksi menular seperti TBC, ISPA, diare, penyakit kulit dan penyakit menular lainnya, namun pada saat itu pula terjadi lagi peningkatan kasus penyakit tidak menular (degeratif) yang disebabkan life style atau pola hidup yang mulai berubah konsumtif,” tutur Gusdian.
Selain itu, katanya melanjutkan, masyarakat serta semua pihak berkompeten juga dihadapkan pada emerging diseases seperti demam berdarah dengue, chikukunya, avian influenza, dan penyakit menular lainnya yang berpotensi menimbulkkan wabah. Kata Gusdian, sampai saat ini dari kasus yang terjadi selama kurun waktu 2007-2008 sudah ada 9 orang penderitanya. Tujuh orang diantaranya mengaku tidak pernah ke luar kota dalam satu bulan terakhir sebelum menderita demam berdarah. “Itu artinya sudah diduga terjadi penularan langsung dari vektor nyamuk Aedes Aegypti kepada manusia,” katanya. (sas)
|