|
BATOMBE sudah menjadi budaya sejak dahulu kala di Nagari Abai
Sangir Batang Hari Solok Selatan sejak dahulu kala. Dari buku profil
Budaya dan Pariwisata Kabupaten Solok Selatan, Batombe diyakini sebagai
salah satu bentuk kesusastraan Minangkabau dimiliki masyarakat Abai.
Batombe ini adalah sejenis pantun yang berfungsi sebagai sebuah
ungkapan rasa dan perasaan hati yang memiliki makna sangat mendalam
bagi masyarakat Abai.
Dengan kata lain, merupakan seni berbalas pantun antara pria dan perempuan. Banyak keunikan di dalamnya, salah satunya ada kesempatan seorang pemain mendapatkan jodoh dengan cara membalas pantun secara spontan. Pelaksanaannya di ruang dalam Rumah Gadang 21 Ruang. Ruangan dihias sedemikian rupa, dinding dan plafonnya dilapisi kain bermotif kotak, segitiga, dan garis berwarna merah, kuning, hijau, putih, biru dan hitam. Bagian atapnya dihiasi potongan-potongan kain yang menjuntai ke bawah dengan warna-warni cerah. Begitu pun pintu masuknya diberi hiasan kain berbentuk pintu melengkung aneka corak dan warna meriah. Sedangkan sebuah tiang kayu yang ada di tengah ruangan itu, dibiarkan telanjang apa adanya.
Masyarakat yang bakal memainkan batombe, duduk bersila dengan tenang di atas lantai beralas tikar berwana cerah. Mereka mengenakan pakaian khusus, sepintas mirip pakaian pemain pencak silat. Bedanya, pakaian berlengan panjang diberi motif sulaman benang emas di bagian leher dan lengan. Warna pakaiannya pun bermacam-macam, ada merah, hijau dan hitam. Dilengkapi ikat kepala berwarna kuning keemasan serta sehelai kain diikatkan dipingang. Sedangkan celana panjangnya dirancang komprang atau lebih besar pada bagian pahanya, seperti sarung. Usai tokoh masyarakat setempat memberi sambutan, para pemain mulai berpantun irama dengan menggunakan bahasa daerah. Isinya tentang kisah nasihat orangtua kepada anak, pergaulan, percintaan, dan sebagainya. Pantun ini dilakukan secara bergantian. pertama dilakukan olek pria kemudian disusul wanitanya.
Tak lama kemudian, sembilan pria dan tiga orang perempuan pemain membentuk lingkaran. Satu orang pria lagi berada di tengah lingkaran sebagai penyanyi. Kemudian mereka melakukan gerakan berputar dan kemudan berbalik namun tetap dalam bentuk lingkaran sambil bernyanyi. Gerakan penari lelaki sesekali memukul bagian celananya yang komprang dengan kedua tangan seolah bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara khas, bug-bug-bug. Semakin lama gerakan semakin cepat dan dinamis. Sebuah suguhan yang dijamin bakal menggugah, menyemangati serta menghibur penonton. Batombe juga kerap digelar pada acara pesta perkawinan, pengangkatan datuak, dan upacara adat lain.
Dari sejarahnya, Batombe muncul memang sebagai penyemangat (pemicu semangat) orang-orang yang sedang bekerja mengambil kayu di hutan dalam membuat rumah gadang di Nagari Abai Sangir Batang Hari Solok Selatan. Jauh sebelum masa penjajahan Belanda, Nagari Abai masih begitu sunyi. Wilayahnya diselimuti hutan belantara berikut satwa liar yang hidup bebas di dalamnya. Penduduknya masih sedikit, hanya terdiri dari beberapa keluarga yang hidup rukun, tenang dan bersahaja. Suatu hari, pemuka adat, agama, dan tokoh masyarakat berkumpul. Mereka membicarakan sesuatu 'proyek' besar, yakni membuat Rumah Gadang (besar) 21 Ruang pertama di sana. Tujuannya; selain menjaga keselamatan warga dari binatang buas dan rumah tinggal, rumah gadang tadi digunkan sebagai tempat pertemuan serta pusat seni dan budaya. Bahan bakunya, diambil dari hutan yang ada di sekitar Nagari Abai.
Di tepi hutan, masyarakat berkumpul. Ada orang tua, muda-mudi, dan anak-anak. Semua nampak sibuk dengan tugas masing-masing. Kaum pria dewasa membawa alat-alat menebang kayu. Mereka menuju hutan untuk menebang pohon besar secara bergotong royong. Sebagian lagi membersihkan batang pohon untuk dijadikan tiang. Batang pohon lainnya dipotong-potong menjadi balok, papan, dan sebagainya. Sementara kaum ibu menyiapkan makanan dan minuman ala kadarnya. Tak pelak, kepenatan pun mendera mereka dalam bekerja. Tiba-tiba—entah muncul ide dari mana, beberapa muda-mudi termasuk orangtua berpantun irama seperti melantunkan lagu. Pantun tadi berisi kata-kata semangat. Tak lama, mereka menari bersama dengan energik. Ihwal inilah diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Batombe.
Disela keceriaan tadi, sebuah keanehan muncul. Saat mengulang kembali mengambil kayu di hutan (untuk tonggak utama rumah gadang)—usai istirahat melepas lelah, entah kenapa sebatang kayu usai ditebang tidak bisa ditarik Masyarakat kembali berkumpul dan berembuk. Akhirnya memutuskan untuk menyembelih seekor kerbau serta menceceri darahnya ke kayu tadi. Hasilnya cukup memuaskan. Kayu bisa ditarik dan pekerjaan mereka selesai. Semenjak itu, dalam penyelenggaraannya diwajibkan melakukan penyembelihan kerbau atau sapi minimal seekor kambing. Kalau tidak, bakal dikenai denda adat. Itulah BATOMBE. (tusrisep/dari berbagai sumber)
|