Saat ini ada 5 tamu online
Kesenian Tradisi Minangkabau, Randai pdf  | cetak |
Minggu, 04 Mei 2008
DUA belas muda-mudi  berpakaian tradisional Minangkabau membentuk lingkaran di tengah arena. Lima pemain lain, duduk di pinggir arena. Para pemain randai (anak randai) bergerak melingkar. Sesekali melakukan galombang randai secara serempak, yang pada dasarnya bersumber pada gerakan-gerakan silat atau seni pencak silat. "Hep... ta...ti...hai," terdengar teriakan seorang di antaranya (tukang gore), dibarengi dengan tapuak galembong (menepuk celana) yang bunyinya tingkah-meningkah.
Setiap anak randai punya gaya sendiri dalam gerak dan menepuk celana yang didesain khusus-mempunyai pisak yang dalam, sehingga menghasilkan bunyi beragam waktu ditepuk, tapi serempak. "Hep...ta... Dugudung-dak-dik-dung." Kaba (kisah) Rambun Pamenan—sebuah randai dari Sungayang, Tanah Datar—pun dimulai. Terjadi dialog dan akting. Kemudian diikuti saluang dan dendang (nyanyian). Penampilan anak randai penuh pesona dan seru. Diiringi cerita yang didendangkan (gurindam) dan diiringi saluang. Cerita bergulir, mengisahkan tentang seorang anak muda yang mencari ibundanya. Sang ibu, ditawan oleh Harimau Tambun Tulang—tukang samun paling kesohor di Bukit Tambun Tulang. Harimau Tambun Tulang adalah perampok beringas. Ia jatuh cinta pada seorang wanita.

Itulah ibu Rambun Pamenan. Kisah akhirnya dapat ditebak, si anak menemukan ibunya dalam penjara batu dengan tangan dirantai. Tidak saja bisa membawa ibunya pulang, tapi ia berhasil membunuh Harimau Tambun Tulang. Penonton bersorak, bertepuk tangan dan berdecak kagum. Sebuah pementasan theatre tradisi yang memukau. Yap.., inilah yang dinamakan Randai, kesenian tradisi Minangkabau (Sumatera Barat). Randai berasal dari perkataan merandai yang berarti mengarang atau melingkar suatu kawasan lapang.  Menurut informasi, randai pada awalnya dimainkan di halaman surau, sebagai perintang-rintang waktu bagi para pemuda. Pemuda yang sesungguhnya sudah punya rasa cinta, memendamnya dalam-dalam di dada, tapi mereka tuangkan dalam kesenian berupa randai. Dalam sejarah Minangkabau, randai  memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Kesenian ini, biasanya dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Dalam randai, ada beberapa cerita yang dibawakan. Seperti; cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Dengan tujuan untuk menghibur masyarakat, pertunjukkan randai biasanya diadakan di lapangan terbuka. Randai ini dimainka oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita. Pemeran utama bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan. Di zaman dahulu, kaum wanita tidak diperkenankan menjadi anggota randai, sehingga untuk peran wanita, seorang anggota laki-laki anggota randai akan didandani mirip wanita. Jelasnya, Randai adalah sebuah drama tradisional Minangkabau yang sarat dengan pesan budaya, agama dan moral yang menggabungkan seni peran, tari, musik, dan beladiri.

Yang menarik dan mengagumkan, perwatakan tokoh dalam penampilan randai tidak diungkapkan melalui tata rias, tetapi disampaikan lewat dendang (gurindam). Kemudian, yang menjadi musik selain tepuk galembong, juga tepuk tangan, tepuk kaki, tepuk siku, petikan jari, hentakan kaki, dan teriakan-teriakan "hep... ta...ti... hai" oleh tukang gore, dan nyanyian atau dendang yang dilakukan oleh para pemain sambil melakukan gerakan-gerakan galombang (tarian randai). Selain pemain galombang, juga ada pemain naskah. Andalan pemain ini adalah vokalnya yang rancak (bagus). Karena, ia akan berbicara lantang menyampaikan narasi demi narasi yang menjadi 'ruh' cerita randai. Berikut juga pemain musik/dendang. Pemain musik memang harus orang yang berbakat. Sebab, mereka lah yang akan memainkan talempong, gendang, serunai, saluang, puput batang padi, bansi, rabab dan lainnya.

Selain itu, keberhasilan sebuah randai juga ditentukan oleh tukang dendang. Tukang dendang (penyanyi) yang tidak piawai, otomatis akan membuat randai kehilangan 'darah'. Sebagus apapun cerita yang dibawakan terlihat akan hambar. Pemain ini dendang lah yang akan memberi bobot dan pesan moral lewat kiasan yang ia sampaikan. Biasanya, randai memang sarat dengan pesan-pesan seperti itu. Randai juga hadir ke pentas dengan pemain silat. Bukan saja diperlukan dalam gerakan bersama membuat lingkaran di pentas, tapi akan ada perkelahian antara jagoan pada suatu tempat. Dan itu, memerlukan keahlian bermain silat. Sutradara atau Tuo Randai, menentukan seorang pemain berperan sebagai raja, permaisuri, putri raja, anak muda, dubalang, hulubalang dan lainnya. Lagu-lagu (dendang) dibawakan, memang banyak sekali terdapat di dalam masyarakat Minangkabau. Karena merupakan bagian dari tradisi seni budaya musik seperti saluang dan dendang, atau seni tutur seperti bakaba, barabab, dan basijobang.

Semasa Orde Baru berkuasa, kesenian randai nyaris tenggelam—pemerintahan nagari digantikan oleh pemerintahan desa. Kini, dengan kembalinya ke sistem pemerintahan nagari, kesenian randai kembali tumbuh. Untuk Sumatra Barat—menurut Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto salah seorang ahli dan pelestari randai (tuo randai)—sedikitnya terdapat 300 grup kesenian randai di Sumbar. Beberapa di antara, sudah tampil di luar negeri. Misalnya; Grup Palito Nyalo, tampil dalam Pesta Gendang Nusantara di Malaka, Malaysia, 11-16 April 2002. Akhir tahun 2002, ada pula tawaran dari Brunei Darussalam. Musra Dahrizal, juga sempat mengajarkan randai di University of Manoa, Hawaii, selama enam bulan dan bersama mahasiswa mementaskan randai dengan cerita Umbuik Mudo yang dialihbahasakan ke bahasa Inggris. Profesor di sana menilai bahwa kesenian randai tak kalah hebat dan mengagumkan. Sama besar dengan kekagumam kepada karya Williams Shakespeare.

Randai adalah keindahan, derai air mata, harapan dan keagungan cinta. Tapi juga kekejaman. Randai merupakan simpul khalayan anak Minangkabau yang bisa mewakili generasi ke generasi. Kisah cinta bertabur kebencian, kekerasan. Si kuat mengalahkan yang lemah. Namun, pada akhirnya kebenaran juga yang menang. Sebuah pertunjukan paling mengagumkan sepanjang sejarah tradisional Minangkabau. Usianya membentang panjang berabad-abad. Kini, kesenian ini terlihat makin tergeser, menyusul maraknya seni modern. Ingat, ini tidak bisa dibiarkan. Kesenian tradisi randai harus tetap dijaga dan dilestarikan. Harus ! (tusrisep/dari berbagai sumber)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

PDAM Dinilai Langgar Prosedur, Azhar: BPKP Telah Mengaudit

11.10.2008 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO-- Anggota DPRD Kota Padang menilai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, tidak profesional dalam melaporkan…



advert-4.jpg

indosat.gif