|
Bobolnya Kampus Universitas Andalas (Unand) di Limau Manih Padang,
membuat Sistem Keamanan petinggi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
tertua di luar Pulau Jawa itu tidak habis pikir. Kepala Biro Umum Unand
H Gusmardi mengatakan, seharusnya dengan sistem keamanan saat ini,
tidak ada lagi tindakan pencurian dapat terjadi. Dia berpikir, apakah
Unand harus mengadopsi sistem keamanan PT Semen Padang yang menggunakan
mantan aparat?
"Sejak sebulan yang lalu, palang besi di gerbang Unand mulai ditutup pukul 21.00 WIB. Seluruh kendaraan yang melewati gerbang, benar-benar disortir keluar masuk kampus. Untuk itu, kita mendukung upaya pihak kepolisian, yang meminta keterangan kepada penjaga masing-masing fakultas yang berhasil dibobol," ujar Gusmardi yang dihubungi via telepon genggamnya tadi malam yang mengaku mengetahui kasus itu pada pagi harinya.
Gusmardi mengatakan, selain gedung rektorat dan gerbang yang dijaga oleh satuan pengamanan (Satpam) khusus, pada masing-masing fakultas juga ditempatkan 2 orang penjaga malam. Karena itulah, 6 orang yang berjaga di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH) dan Program Pasca Sarjana dimintai keterangannya.
"Saat ini, kita akui ada kendala pada sistem keamanan Unand, pasca meninggalnya kepala Satpam. Yang bertugas sekarang, adalah wakil kepala Satpam yang tentunya tidak sehandal pendahulunya. Dengan kasus ini, maka sistem keamanan akan dibenahi segera, tidak terkecuali dengan mengadopsi sistem PT SP," tandas Gusmardi yang menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kasus ini ke polisi. Selain mencari kepala Satpam baru, kata Gusmardi, perombakan besar-besaran pada anggota Satpam juga akan dilakukan. "Kalau perlu, memang kita harus memakai petugas keamanan dari mantan militer. Pelatihan untuk pengamanan juga akan diberikan," tandas Gusmardi. (rvi)
|