|
BALAIKOTA, METRO-- Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bukiktinggi
menjadwalkan, pengobatan masal filariasis (penyakit kaki gajah) secara
serentak 16 Juli mendatang. Sebelumnya, pengobatan yang sama telah
dilaksanakan 16 Juli 2007 lalu. “Penyakit ini ditularkan melalui
gigitan nyamuk, yang air liurnya mengandung larva cacing filaria dari
seorang penderita ke penderita lain.
Penyakit ini bersifat menular menahun (kronis). Apabila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki,” ungkap Kepala DKK dr Hj Fauziah Elytha MSc kepada POSMETRO, Rabu (14/5). Menyukseskan pengobatan massal tersebut, diadakan sosialisasi pengobatan massal filariasis di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Kota Bukiktinggi. Hadir camat, Bundo Kanduang, Dinas Pendidikan, Organisasi Wanita, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UMSB dan paramedis di Kota Bukiktinggi.
Diterangkan, penyebab penyakit kaki gajah ada tiga spesies cacing filarial wucheria bancrofti, brugia malayi dan brugia timori. Di Indonesia, hingga saat ini telah diketahui 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah. “Seseorang dapat tertular (terinfeksi) penyakit kaki gajah, apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil (mikrofilaria/ mf) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria,” sebutnya.
Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, pertama perkembangan dalam tubuh nyamuk (vector) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair. Kata Fauziah, gejala klinis Filariais Akut berupa demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat, pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit, radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis).
Sementara, filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah, pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (earlylymphodema). Gejal klinis yang kronis berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti). Sedangkan gejala klinis filariasis dipengaruhi oleh kerentanan individu terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya larva infektif masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi bakteri/jamur.
Cara pencegahan dan pemberantasannya antara lain memutus rantai penularan melalui pengobatan massal filariasis pada satu wilayah endemis, menjaga kebersihan lingkungan dengan goro dengan gerakan 3 M, tidur menggunakan kelambu, memakai obat nyamuk semprot/ lotion. Obat yang dipakai pada pengobatan massal nanti Diethyl Carbamazine (DEC), Albendazole dan obat reaksi pengobatan. “DEC berfungsi melumpuhkan, mematikan, dan membantu pertahanan tubuh untuk menghancurkan cacing filaria tersebut,” imbuh Fauziah. (ham)
|