|
GELISAH dan pasrah, cemas serta kuatir terlihat di wajah Hengki Saputra
(29) salah seorang sopir Taxi yang selalu beroperasi di Kota
Payokumbuah, yang sering mangkal di depan rumah makan Asia Baru.
Kecemasan itu mulai datang, sejak seminggu lalu, disebabkan karena akan
naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada akhir Mei ini oleh
pemerintah.
“Bagi kami harga BBM mau naik, mau turun, tidak soal, asal BBM lancar, tidak seperti sekarang ini, mencari BBM terasa sekali sulitnya dan tidak mungkin setiap sore hingga larut malam antrian di depan SPBU, untuk menunggu giliran mengisi BBM, “ujarnya Hengki kepada POSMETRO, Selasa (13/5). Sebagai seorang sopir mobil Taxi, yang mengharapkan sewa dari penumpang, tentu kami butuh mengisi BBM setiap hari, karena BBM adalah merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakan. BBM adalah modal utama untuk urusan perut. Pada saat ini, sopir Taxi rata-rata mengalami kesulitan untuk mencari penumpang.
Biasanya kondisi sopir Taxi normal-normal saja, tapi sekarang apa hendak dikata, untuk memenuhi setoran saja susah, “induak samang, selalu mambuduik”, karena setoran kurang. “Terkadang induak semang bisa memaklumi, dengan kondisi sekarang, terkadang, mengerutu nada-nada malas,” kata warga Kelurahan Daya Bangun, Kecamatan Payokumbuah Barat ini. Untunglah saya masih lajang, hanya mencari hidup untuk sekedar penganjal kampung tengah dan sebatang rokok. Tapi bagi kawan-kawan yang sudah bekeluarga yang harus dan wajib menyambung hidup untuk keluarganya dengan jerih payah sebagai sopir Taxi, memang terasa sulit. Kini BBM bakal naik lagi, tentu sewa akan ikut naik, dengan naiknya sewa akan muncul lagi masalah baru.
Harapan kita, pemerintah daerah seyogianya melirik juga terhadap kehidup sopir Taxi, agar perekonomian sopir Taxi bisa meningkat. “Kami juga ingin hidup sejahtera, seperti layaknya kehidupan seseorang yang berkecukupan dibarengi dengan bantuan-bantuan lepas lainnya. Sekarang keberadaan sopir Taxi, dengan akan naiknya BBM ini, memang sedikit goyang dan panik, sudahlah BBM naik, mengisinya saja antrian pula. Keantrian itu, kami lihat, lebih antri lagi pengusaha kios yang membawa jerigen, “ujar Hengki. (***)
|