Saat ini ada 2 tamu online
Penumpang Dicabuli Supir pdf  | cetak |
Jumat, 16 Mei 2008
Image Dua orang yang diduga telah menggerayangi tubuh penumpangnya. Perbuatan itu dilakukan  supir Angkot warna putih (insert) itu bersama temannya, karena penumpang yang masih mahasiswi tersebut, tidak memiliki uang untuk membayar ongkos.

PADANG, METRO-- Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tidak ada uang untuk bayar ongkos, tubuh pun direlakan. Setidaknya, inilah yang dialami Marni (bukan nama sebenarnya, red). Karena tidak ada ongkos untuk membayar sewa Angkot jurusan Tabiang-Singgalang-Pasarraya, Kamis (15/5) sekitar pukul 01.30 WIB, tubuh korban yang baru berumur 24 tahun itu, dijadikan ‘bayaran sewa Angkot’ oleh supir ‘RR’ (21), dan temannya ‘Ar’ (21). Di atas Angkot putih BA 2917 JP, sekujur tubuh korban yang merupakan mahasiswi sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Padang digerayangi. Seusai beraksi, dua pelaku ditangkap petugas patroli Poltabes Padang di Tepi Laut menjelang pagi. Tak lama berselang setelah ditangkap, korban membuat laporan polisi. Kapoltabes Padang melalui Kasat Reskrim Kompol Hendri Budiman SH SIK didampingi Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (P2A) AKP Epi Maria SH menyebutkan, pelaku diringkus oleh anggota yang tengah berpatroli rutin di sekitar lokasi kejadian. Kepada Brigadir D Indarto, penyidik pembantu,  Marni mengaku bahwa sebelum kejadian, dirinya naik Angkot di depan SMAN 2 seorang diri.

Saat itu, dia baru kembali dari rumah teman. Karena malam sudah larut pada Rabu (14/5) sekitar pukul 23.00 WIB itu, korban akhirnya menghentikan laju Angkot yang disupiri ‘RR’ dan temannya ‘Ar.’ Karena ada yang ingin menumpang, jelas Hendri, akhirnya supir memberhentikan Angkotnya, yang waktu itu melaju menuju Asrama Haji. Sampai di Asrama Haji, penumpang yang hanya korban sendiri itu turun.  “Sebelum turun, Rio menagih uang sewa sebanyak Rp 2 ribu kepada Marni. Karena tak punya uang, Marni ngutang dulu. Tapi, pelaku terus mendesak korban agar uang sewa dibayar kemudian baru pulang. Lantaran tak ada uang, korban pun dibawa kembali naik Angkot dengan tujuan GOR H Agus Salim. Berhubung banyak orang di lokasi, korban pun dibawa ke pinggir pantai Padang di kawasan Koto Marapak. Disitu mobil diparkir. Di atas Angkot itulah, tubuh korban digerayangi habis-habisan. Saat didesak melakukan hubungan isteri, korban mengelak,” ungkap Hendri seputar hasil penyelidikan sementaranya.

Hebatnya lagi, tutur Hendri Budiman, puas melampiaskan nafsu bejatnya, ‘RR’ justru memberi uang kepada korban. Tapi korban tak mau menerimanya. “Sebab saat itu, kondisinya tengah seorang diri di atas Angkot,” tandas Hendri. Lantas, terkuaknya perbuatan itu? Hendri kemudian menjelaskan, bahwa terkuaknya perbuatan itu karena petugas piket SPK Poltabes Padang sedang patroli rutin ke lokasi. Karena curiga ada Angkot parkir, petugas pun berhenti. Sewaktu ditanyakan apa yang terjadi, tiba-tiba korban menjadi histeris. Kemudian, korban mengadu atas kejadian yang telah dialaminya. Kontan saja, dua pelaku cabul ini diringkus. “Dalam kasus ini, pelaku sudah mengakui perbuatannya. Dua pelaku dijerat pasal percobaan perkosaan yakni Pasa 285 KUHP dengan ancaman kurungan 9 tahun penjara,” tegas Hendri. (ped)

Pengakuan Ir (Supir Cabul) ‘Tidak Ada Pemaksaan...’

Sekilas, masih terlihat raut wajah pria berambut ala Mandarin ini rasa penyesalan, dengan kejadian yang terjadi di penghujung malam di tepi pantai kawasan Koto Marapak. Perbuatannya itu, dilakukan di dalam Angkot putih BA 2917 JP yang disampingnya bertuliskan “Pecinta Wanita” ini. Usai menjalani pemeriskaan oleh penyidik pembantu Brigadir D Indarto pada Pelayanan Perempuan dan Anak (P2A), ‘RR’ tertunduk lesu. Tapi, saat ditanyai POSMETRO, pelaku justru bersemangat menceritakan pengalaman yang akhirnya membawa sengsara ini. Dengan tegas, pelaku justru mengakui perbuatannya yang dilakukan terhadap Marni (24), (nama pinjaman, red), penumpangnya itu tidak ada unsur paksaan.

“Perlu diketahui pak. Usai kejadian, saya memberi uang sebanyak Rp 20 ribu kepada korban. Tapi ditepis korban. Korban minta Rp 100 ribu. Apakah ini ada unsur pemaksaan,” tanya pelaku. Anehnya lagi, lanjut pelaku, saat kejadian korban tidak berontak. Jadi, aksi itu berjalan mulus-mulus saja. Bahkan dibangku belakang itu, tubuh korban sempat dipangku Ar.’ “Artinya, perbuatan itu tidak ada unsur pemaksaannya,” tukasnya. Hal demikian juga diakui ‘Ar.’ Sementara, menurut hasil keterangan Marni kepada Brigadir D Indarto sangat bertolak belakang, dengan pengakuan pelaku. Bahwa dirinya sudah dikerjai. Karena takut sendirian di atas Angkot, makanya korban tidak dapat berbuat banyak. “Untunglah patroli polisi datang ke lokasi, sehingga kejadian yang sangat menyakitkan tidak terjadi,” aku Marni. (ped)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Pabukuoan Jadi Lahan Bisnis

07.09.2008 | Metro Gaya

Selama menjalani puasa, kreativitas kalangan remaja sedikit menurun. Tentunya, hal tersebut tidak berlaku pada setiap remaja. Bagi sebagian…

peristiwa.gif

Deplu Siap Fasilitasi KPU

06.09.2008

JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tradisi Asmara Subuh, Pelampiasan Ruang Kontak Sosial?

07.09.2008 | Metro Padang

LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…


selamat_metro.jpg

advert-4.jpg

indosat.gif