|
PADANG, METRO-- Tiga RW di Kelurahan Indaruang Kecamatan Lubuak
Kilangan mengeluhkan pencemaran yang dilakukan pabrik PT Semen Padang.
Keluhan yang disampaikan ke Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
(Bapedalda) juga masih belum berhasil merubah keadaan. Sehingga, Komisi
C DPRD Kota Padang harus unjuk gigi. Kamis, (15/5) Komisi C, Bapedalda
dan Direksi PT SP melakukan hearing di dewan guna membahas keluhan
masyarakat itu.
Ketua Komisi C DPRD Padang Ir Priyanto MM mengatakan, dewan akan menjadi mediator antara 3 unsur yaitu PT SP, Bapedalda dan masyarakat. “Semen Padang harus melakukan langkah konkrit, untuk mengatasi polusi udara yang kian meresahkan. Selama tahun 2007, dalam beberapa bulan, polusi udara meningkat drastis menembus ambang batas normal polusi,” kata Priyanto pada hearing yang juga dihadiri Direktur Produksi PT SP Ir. Munadi Arifin.
Priyanto mengingatkan, dampak polusi sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Apalagi jika sudah diambang batas kewajaran, yaitu di atas 80 mg/Nm3. Menurut data PT SP, ada beberapa bulan dimana tingkat polusi di atas ambang yaitu mencapai 128 mg/Nm3. “Harus ada pencegahan yang cepat, agar imbasnya tidak sampai merugikan masyarakat,” tegas politisi PPP ini. Anggota Komisi C Heri Ramadan BSc mengatakan, keluhan masyarakat saat dia melakukan reses beberapa waktu lalu memang berupa keresahan akibat polusi PT SP. “Bahkan pada malam hari, debu bisa turun seperti salju, sehingga sangat meresahkan,” tegasnya.
Kepala Bapedalda Kota Padang Indang Dewata menambahkan pada beberapa parameter pengukuran polusi, ternyata PT SP sudah melewati baku mutu. Bahkan pihaknya juga mendapatkan pengaduan masyarakat Batuangtaba melalui Yayasan Padi Serumpun yang menginformasikan bahwa, panen padi dan ikan mereka terganggu akibat limbah dan polusi PT SP. “Jika PT SP ingin menyelesaikan masalah ini, lebih baik dengan cara Coorporate Sosial Responsibility (CSR), sehingga kemauan masyarakat dan PT SP bisa dijembatani. Bila tidak, maka akan terbuka peluang konflik,” tandasnya. Direktur Produksi PT SP Ir Munadi Arifin mengatakan, pencemaran udara akibat emisi cerobong pabrik terus diminimalisir PT SP. Bahkan saat ini, PT SP telah melakukan pengolahan asap sebelum dilepaskan ke udara, di mana asap-asap yang akan dilepaskan itu melalui proses pengikatan dengan listrik tegangan tinggi sehingga yang keluar dari cerobong lebih ramah terhadap lingkungan.
Untuk mengetahui besaran emisi yang keluar itu, PT SP juga melakukan pengecekan setiap jam. “Kita telah melakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum asap dilepaskan ke udara bebas dan sebagai pabrik yang punyai visi ramah lingkunag, kita telah melepaskan asap yang jauh di bawah ambang batas yang diizinkan,” ujar Munadi yang didampingi Direktur Litbang dan Operasi Ir Tresdi Arma MM dan Sekretaris perusahaan Ir Benny Wendry MM. (rvi)
Ditambahkan Munadi, sebenarnya yang sekarang lebih banyak melakukan pencemaran itu adalah truk-truk yang keluar masuk pabrik dengan berbagai keperluan. “Kita akan terus berupaya menurunkan dampak terhadap polusi udara ini. Berbagai uapaya terus dilakukan dengan menggukan tekonologi terbaru,” katanya.(rvi)
|