Saat ini ada 4 tamu online
Keluarga Tuna Netra Dibantu, ‘Oji Ingin Pandai Mangaji’ pdf  | cetak |
Sabtu, 17 Mei 2008
BULIR air mata tanda keharuan, membasahi wajah keriput Netra Zaiti (41). Perempuan tegar ini punya tiga anak, Desri Yune (13), Arif Firman (12) dan Fauzi Fajri (6) terlahir buta sejak dilahirkan ke muka bumi ini. Terlihat, perempuan yang sudah kelilangan suaminya enam tahun lalu itu gemetaran, ketika menerima sumbangan dari seorang aparat negara di Kecamatan Koto Tangah Burhendra Koto. Burhendra mengaku, sumbangan yang diberikannya itu mewakili warga Jl Enggang, Tabiang.
Waktu itu, Burhendra mengaku terenyuh, setelah membaca kisah Ibu dan tiga anak ini di POSMETRO.  “Tarimokasih pak, semoga bapak sarato kawan-kawan apak nan peduli samo penderitaan ambo jo anak-anak ambo, dibaleh yang Maha Kuaso,” ungkap Netra Zaiti terbata-bata.  Bantuan itu diserahkan Burhendra, di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Padang, Jumat (16/5). “Bagi ambo jo anak-anak, bantuan yang apak bari, ndak takiro gadangnyo do,” tambah Netra.

Kepada POSMETRO, Burhendra mengungkapkan telah terketuk hatinya untuk membantu sewaktu membaca koran POSMETRO di sebuah warung kopi. “Nurani saya dan teman-teman, yang pada saat itu sedang duduk-duduk di warung kopi terketuk. Apalagi, menyimak penderitaan panjang yang dialami keluarga Netra dan tiga buah hatinya yang mengalami kebutaan sejak lahir. Tanpa dikomandoi kami mengumpulkan uang apa adanya, sekedar membantu Ibu ini. Tapi hanya sebatas ini yang bisa kami bantu,” terang Burhan, yang turut di cekam suasana haru.

Salut. Satu kata ini layak disematkan pada Burhan Dkk. Mungkin, jiwa-jiwa penuh belas kasih yang bersemayam di kepribadian mereka, hanyalah satu dari seribu. Dikarenakan, di era yang serba canggih ini, rasa saling berbagi antar sesama terasa kian menipis. Entah karena orang-orang terlalu sibuk dengan rutinitas penyambung hidup ataupun mungkin memang, rasa belas kasih telah musnah di jiwa masyarakat kita. Sedangkan anak ke-3 Ibu Netra, Fauzi Fajri yang selalu tidak lepas dari pangkuan ibunya terlihat sangat cekatan dan agresif. Walau yang ada pada pandangan matanya hanyalah kegelapan, tapi nampaknya bocah ini mempunyai tekad menjadi ‘orang besar’ nantinya. “Bu, bantuak apo wajah urang nan ma agiah Oji pitih. Indak nampak dek Oji do Bu. Kalam kasadonyo. Bu, bisuak kalau lah gadang Oji taragak jadi dosen. Mangaja di paguruan tinggi. Oji taragak pulo pandai mengaji sarupo AA Gym. Tapi Oji indak punyo al Quran do. Ibu Oji indak nio mambalian do. Kecek ibu, inyo alun punyo kepeang lai,” sebut Fauzi bercerita dengan polosnya.

Mendengar ungkapan putra bungsunya itu, Netra kemudian berucap, “Sabar ya nak, besok Ibu belikan.”  Dengan sedikit tertunduk, Netra mengungkapkan keinginan Fauzi yang terus saja merengek mintak al Quran dengan tulisan braile. “Karena belum punya uang untuk membelikan al Quran yang harganya mencapai Rp 1,5 juta itu, terpaksa saya hanya mendiamkan saja permintan Fauzi . Saya harus beli dengan apa, untuk makan saja kami sudah kelimpungan,” pungkas Netra. Pastinya, Netra beserta ke-3 anaknya, butuh santunan dari kita yang dianugrahi reseki melimpah dari yang Maha Pengasih. Kini, Bapak Burhan beserta teman-temannya telah memberikan bantuan tersebut. Selanjutnya siapa lagi yang mau saling berbagi dengan saudara kita yang tak pernah henti dirundung kemalangan ini. (*)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Pedagang Rokok di Jalan Veteran, Mengasuh 9 Anak Yatim Piatu

04.07.2008 | Metro Humaniora

Tubuh renta Eni (40),  terlihat sosoknya lebih tua dari umurnya. Sesekali pandangannya menyapu para pengguna jalan Veteran yang tak…

Nonton Konser, Bebas Berekspresi

04.07.2008 | Metro Gaya

Beragam gaya menghiasi pelataran parkir Lanud Tabing saat konser salah satu band papan atas digelar. Walaupun terkadang tak matching…

peristiwa.gif

Jalinsum Butuh Rambu

04.07.2008

DHARMASRAYA, METRO-- Tingginya angka kecelakaan lalulintas di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), harus segera dihentikan. Jika tidak, tentu korban…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

4000 Calon Siswa Tak Dapat Kursi

04.07.2008 | Metro Padang

TANMALAKA, METRO-- Sekitar 4.000 siswa tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dipastikan tidak bisa mencicipi Sekolah Menengah Atas (SMA) dan…


advert-4.jpg

indosat.gif