Saat ini ada 6 tamu online
Soal Kelangkaan Pupuk di Agam, KP2SP Himpun Data Lapangan pdf  | cetak |
Senin, 19 Mei 2008
AGAM, METRO-- Mahalnya harga pupuk dan sulit ditemukan di pasaran, disikapi Pemkab dengan turun ke nagari-nagari yang ada di Kabupaten Agam. Pemantauan itu dilakukan, untuk menghindari petani menjerit akibat mahalnya harga pupuk. Pemantauan yang dilakukan Komisi Pengawasan Pupuk Subsidi dan Pestisida (KP2SP) itu, hingga ke tingkat pengecer.
“Kita akan tindaklanjuti, kenapa harga jual tersebut tidak sesuai dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) sebagaimana yang telah ditetapkan gubernur Sumbar dan juga bupati Agam,” ujar Koordinator KP2SP Lukman SP. Tim ini, turun sepanjang Jumat dan Sabtu pekan lalu ke seantero Kabupaten Agam. Tim yang terdiri dari Lukman SP yang mewakili Dipertabunhut, Ir Adrinal (Dinas Koperindag), Poni S dan Rita (Polres Agam) serta Zulmarni SP dan Asmardi. Juga turut serta dalam rombongan KP2SP itu, wartawan POSMETRO perwakilan Agam. 

Dikatakan Lukman, pada beberapa kios harga pupuk bersubsidi bervariasi dan yang terendah adalah Rp 65 ribu per karung. Dibeberapa tempat, harganya bahkan mencapai Rp 110 ribu per karung. Dibeberapa titik distribusi, juga terjadi kekurangan pasokan pupuk. Ditandai dengan tidak tersedianya pupuk di dalam gudang pengecer. Pupuk yang kerap habis itu jenis Urea. Tidak jarang, HET-nya melebihi ketentuan. “Kita akan cari tahu kenapa kondisi ini bisa terjadi dan siapa sebenarnya yang berbuat,” ujar Lukman dengan manambahkan jika kondisi seperti ini tetap terjadi, petani akan kesulitan dan hasil tani tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka dengan ini bantuan dan dukungan masyarakat termasuk para distributor dan kios sangat diharapkan demi kestabilan harga pupuk tersebut.

Sementara, terhadap kios yang baru saja terbentuk dan belum lagi memiliki izin, diharapkan untuk segera mengurus izin usahanya kepada pemerintah setempat seperti Camat. Kemudian, dalam menjual pupuk bersubsidi untuk menjjual sesuai dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Untuk pupuk urea, harga kepada petani eceran adalah Rp 1.200 per Kg,” sebut Lukman yang juga diamini Adrinal. Dalam pengawasan yang dilakukan kemarin itu memang ada yang menjual harga HET kepada kios. Amat disayangkan, distributor membebani pedagang pengecer ini dengan biaya angkut dari gudang ke-lokasi. Sehingga, harga per karung bisa termodal sebesar Rp 62.500. Selain itu, juga ditemui berat pupuk yang kurang dari yang tertera. (den)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Tetap Cantik dengan Blazer

11.10.2008 | Metro Gaya

Blazer dan wanita karir, sudah seperti satu kesatuan dalam hidup keseharian. Bagi wanita karir yang bekerja di perkantoran…

peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

PDAM Dinilai Langgar Prosedur, Azhar: BPKP Telah Mengaudit

11.10.2008 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO-- Anggota DPRD Kota Padang menilai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, tidak profesional dalam melaporkan…



advert-4.jpg

indosat.gif