|
Minggu, 25 Mei 2008 |
|
ANAK kecil biasanya sulit menceritakan dengan tepat apa yang sedang dirasakannya. Untuk itu orang tua harus peka dan teliti mengamati kondisi kesehatannya. Nah, jika si buyung merasa sakit atau tampak kesulitan saat buang air kecil, bisa jadi ada gangguan pada organ kelaminnya. Hal ini jangan diabaikan. Pasalnya jika tidak ditangani dengan segera dapat terjadi infeksi atau hambatan seksual lainnya kelak di kemudian hari.
Salah satu gangguan yang mungkin timbul pada organ kelamin si buyung
adalah tertutupnya ujung kulup penis. Dalam istilah kedokteran gangguan
ini disebut fimosis. Akibatnya air kencing tidak dapat keluar secara
normal dan kepala penis tidak dapat dibersihkan. Kondisi ini memicu
timbulnya infeksi di kepala penis (balanitis). Jika keadaan ini terus
berlanjut, dengan muara saluran kencing diujung penis tersumbat, maka
dokter akan menganjurkan jagoan kecil Anda disunat. Tindakan ini
dilakukan dengan membuka dan memotong kulit penis agar ujung terbuka.
Apa penyebabnya?
Fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di
antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini
menyebabkan kulup menjadi melekat pada kepala penis, sehingga sulit
ditarik ke arah pangkal. Penyebabnya bisa dari bawaan dari lahir, atau
didapat, misalnya karena infeksi atau benturan. Bagaimana gejalanya?
Untuk menandai apakah si Buyung memang mengalami fimosis, orang tua
sebaiknya mencermati beberapa gejala berikut : Kulit penis si Buyung
tak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan. Si Buyung
mengejan saat buang air kecil karena muara saluran kencing diujung
tertutup. Biasanya ia menangis dan pada ujung penisnya tampak
menggembung. Air seni yang tidak lancar, kadang-kadang menetes dan
memancar dengan arah yang tidak dapat diduga. Kalau sampai timbul
infeksi, maka si buyung akan mengangis setiap buang air kecil dan
dapat pula disertai demam.
Jika gejala-gejala di atas ditemukan pada si Buyung, sebaiknya bawa ia
ke dokter. Jangan sekali-kali mencoba membuka kulup secara paksa dengan
menariknya ke pangkal penis. Tindakan ini berbahaya, karena kulup yang
ditarik ke pangkal dapat menjepit batang penis dan menimbulkan rasa
nyeri dan pembekakan yang hebat. Hal ini dalam istilah kedokteran
disebut para Fimosis. Jika si Buyung mengalami kesulitan buang air
kecil, dokter akan mencoba melebarkan kulit yang melekat, namun hal ini
harus dilakukan dengan sangat hati-hati oleh seorang dokter yang
berpengalaman.
Jika upaya ini gagal, maka tindakan sirkumsisi (sunat)
adalah jalan keluarnya, apalagi jika fimosisnya menetap atau terjadi
infeksi. Untuk melakukan sirkumsisi pada anak juga harus
dipertimbangkan masalah pembiusannya karena jika si Buyung takut dan
merasa sakit maka hal ini akan mempengaruhi kondisi kejiwaannya kelak
kemudian hari. Selain itu jika si Buyung meronta-ronta karena takut
atau sakit, maka tindakan sirkumsisi ini malah akan membahayakan,
karena dapat melukai penisnya dan jahitan kulit penis tidak dapat
dikerjakan secara sempurna.(info-sehat.com)
|
|
|
|
06.09.2008
JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…
07.09.2008 | Metro Padang
LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…
|
|