|
Harga BBM baru yang diberlakukan per Sabtu (24/5) dini hari WIB mengimbas ke semua aspek. Sektor perbankan pun ikut ketar-ketir. Sebuah tugas yang tidak ringan, khususnya terkait stabilitas moneter pasca kenaikan BBM. Semua kekhawatiran terhadap imbas kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah sebesar 28,7% bermuara kepada inflasi. Diyakini, tren peningkatan inflasi dipicu kenaikan harga sejumlah barang dan jasa.
Mengatasi dampak buruk dari situasi itu, BI akan melanjutkan kebijakan
moneter untuk mengendalikan tekanan permintaan dan meredam ekspektasi
inflasi yang tinggi. BI memperkirakan inflasi Indonesia pada 2008
berada di kisaran 9% hingga 2 digit ketika harga baru BBM diberlakukan.
Karenanya, penyesuaian strategi kebijakan menjadi suatu keharusan.
Deputi Gubernur BI Budi Mulia menilai sinyal kuat kenaikan BI Rate 25
basis poin (bsp) menjadi 8,25% sebagai awal antisipasi perbankan dalam
mengendalikan permintaan domestik dan meredam lonjakan inflasi pada
2008. “Sasaran penting kita adalah mengatasi inflasi berkelanjutan,”
ujarnya.
Pengendalian inflasi melalui BI Rate akan didukung langkah stabilisasi
nilai tukar rupiah guna mengurangi tekanan imported inflation sekaligus
mengendalikan ekspektasi inflasi masyarakat. BI pun akan mengendalikan
likuiditas dengan melakukan intervensi valas dan menjaga volatilitas
kurs rupiah agar ada ruang bagi perbankan memfasilitasi ekspansi usaha.
“Jadi, kemungkinan tidak ada perubahan kebijakan giro wajib minimum (GWM),” kata Budi seperti dilansir inilah.com.
Yang harus dilakukan pemerintah dan BI saat ini adalah meningkatkan
sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. BI menjaga laju inflasi
dalam kisaran yang masih bisa ditoleransi, pemerintah mengamankan
pasokan barang.
Kelangkaan bahan kebutuhan pokok, termasuk BBM seperti saat ini, baik
akibat mismanajemen maupun karena penimbunan, harus dihindarkan. Dengan
demikian, meski ekonomi melambat, hal itu tidak akan sampai membawa
Indonesia ke jurang resesi.
Lalu, bagaimana dengan kredit perbankan?
BI memprediksikan kenaikan harga BBM 28,7% tidak akan berpengaruh
terhadap pertumbuhan kredit perbankan tahun ini yang mencapai 24%.
Sampai Maret 2008, pertumbuhan kredit masih 28,1% YoY dengan rasio
kredit bermasalah (gross) turun jadi 4,33%. Ketahanan sistem keuangan masih terjaga di tengah meningkatnya berbagai
tekanan. Dari sisi internal, sumber tekanan meliputi ancaman inflasi,
sustainability fiskal, dan kenaikan harga bahan pokok.
Di sisi eksternal, sumber tekanan akibat harga binyak internasional,
terus meningkatnya harga minyak dunia dan komoditas, serta kondisi
pasar global yang masih sangat volatil pascakrisis subprime mortgage. Situasi ekonomi yang cukup rentan saat ini menuntut perbankan lebih
pandai dalam melihat potensi bisnis yang ada. Tapi, bukan berarti tidak
ada risiko, apalagi harga baru BBM bakal juga berdampak terhadap sektor
riil. (net)
|