|
Sebagai tokoh muda yang sedang mengalami lonjakan dalam kariernya dan sebagai pemimpin dalam keluarganya, Wendra Yunaldi mampu membagi waktu di antara kesibukan kerja, kesibukan dalam organisasi serta dalam keluarga. Wendra yang juga menjadi dosen luar biasa di tiga Universitas, antara lain : Universitas Tarumanegara, Universitas YARSI dan Universitas Sahid harus bolak-balik Jakarta-Padang. 15 hari dihabiskan di Jakarta dan 15 harinya lagi di Padang. Belum lagi kesibukannya sebagai Ketua KNPI Kota Kelahirannya, Payakumbuh.
“Saya tidak ingin terlalu larut dalam pekerjaan dan kesibukan
organisasi. Walaupun waktu saya memang banyak disita oleh pekerjaan
tapi bagi saya keluarga adalah segala-galanya. Setiap hari Sabtu dan
Minggu, pasti saya luangkan untuk keluarga saya. Bagaimanapun istri
terutama anak saya yang sekarang sedang lucu-lucunya dan sangat butuh
bimbingan dari sosok seorang Ayah. Keluarga adalah segala-galanya. Saat
penat dan letih menyerang sekujur tubuh sepulang bekerja, sambutan
derai tawa dari anak saya adalah jurus terjitu dalam mengusir segala
kepenatan tersebut,” ujar Wendra.
Dulu, Wendra kecil tidak pernah terbayang akan menjadi seorang yang
selalu sibuk dengan semua rutinitas hidupnya sekarang ini. Wendra yang
pernah menjadi siswa teladan tingkat SDN Kota Payakumbuh, dulunya hanya
bertekad untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Segala buku, baik
fiksi maupun non-fiksi, tidak pernah luput dari bacaan Wendra, semua
yang dia baca dia renungkan untuk kemudian dijadikan sebagai pedoman
dalam kehidupan.
“Bagi saya, buku adalah jendela dunia, dengan buku saya bisa tahu apa
yang belum saya ketahui. Sampai sekarang membaca itu masih belum bisa
saya tinggalkan. Sedikit waktu saya luangkan untuk membaca apa saja,
pokoknya menambah wawasan,” ujar Wendra.
Ternyata dari membaca Wendra bisa menggapai semua impian yang dulu
hanya jadi angan-angan dalam mimpinya. Kehidupan yang mapan, dengan
istri yang senantiasa menyokong segala pekerjaannnya dan ditambah
kehadiran seorang buah hati, Wendra semakin mantap menantang segala
hadangan di dunia.
Tidak itu saja, walaupun telah dilimpahi segala kemurahan, tapi mantan
ketua Umum Osis MAN I Payakumbuh ini tidak pernah melupakan Sang
Pencipta-Nya. “Sesibuk-sibuknya saya, yang namanya sholat lima waktu
serta mengaji tidak pernah saya tinggalkan, rasanya ada yang hilang
kalau sholat saya tinggalkan,” terang Wendra yang sedari kecil telah
dibekali oleh berbagai ilmu agama oleh ke-2 orang tuanya.
“Saya ini hanya orang kecil, apa yang saya dapatkan adalah anugerah
dari Maha Kuasa untuk itu apa salahnya kita membalas segala apa yang
diberinya dengan bersedekap dan bersujud padanya. Semua yang ada di
dunia ini tidak ada yang abadi, nantinya di kehidupan ke dua kita
diakhirat yang menolong kita adalah amal ibadah kita, bukan harta,”ujar
Wendra.
“Saya hanya ingin menjalani hidup sesuai apa yang saya mampu, bekerja
dengan jujur dan serius serta yang terpenting, apa yang saya kerjakan
tidak merugikan orang lain. Saya ingin berbakti untuk bangsa ini,
berbakti untuk orang tua dan keluarga,”timpalnya.
Seorang Wendra Yunaldi SH MH yang sering terenyuh melihat penderitaan
sanak saudaranya se-Indonesia, berharap suatu saat dia bisa membawa
bangsanya ke masa kejayaan, kejayaan yang berpegang teguh pada budaya
dan agama. “Saya ingin merubah nasib bangsa ini ke arah yang lebih
baik, karena bagaimanapun juga Indonesia, khususnya Ranah Minang adalah
tanah kelahiran saya, tempat saya menghabiskan waktu khelak dimasa tua.
Akan saya jaga dan bela untuk selamanya. (Benny Okva Della)
|