Saat ini ada 3 tamu online
Tokoh Muda, Wendra Yunaldi SH MH, Peduli Mutu Pendidikan pdf  | cetak |
Minggu, 25 Mei 2008
Sejurus, pandangan mata pria elegan ini terlihat sedikit menerawang, menembus langit-langit. Warung bakso tempat kami bertukar pikiran. Entah apa yang berkecamuk dibenak seorang Wendra Yunaldi. Sembari sesekali menghirup minuman di depannya, ia tak berhenti mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari.

"Negara kita telah terkungkung oleh pendidikan ambivalen, pendidikan yang mendua, dimana kinerja guru telah dibatasi oleh kungkungan kompetensi pelajaran yang tiap periode berganti arah, berlabuh tanpa berkesinambungan," ujarnya memecah kesunyian, yang sedari tadi membelenggu intensitas pertemuan kecil kami.

Ketua KNPI Kota Payakumbuh ini terus berceloteh secara terinci, membuka lebaran-lembaran uneg tentang sistem pendidikan bangsa Indonesia tercinta yang sampai saat ini masih belum konkrit dengan apa yang seharusnya terevaluasi dengan baik dan sewajarnya.

"Kita belum bisa merumuskan apa yang menjadi suatu kebutuhan dalam pendidikan. Pendidikan bukan hanya sekedar jejeran angka-angka. Lebih dari itu, pendidikan adalah suatu yang sakral. Tentu saja untuk mewujudkan kesakralan pendidikan tersebut, diperlukan suatu sistem pendidikan yang mumpuni, anggaran yang memadai serta aparatur yang memang mengerti kemana arah pelabuhan dunia pendidikan kita," ujar Dirut PT Sehati Indah Prima ini serius.

Suami dari Meuthia Sweethearly Nurfa mengungkapkan, secara sistem dan bertolak dari UUD Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) kita bisa mengkaji ulang bagaimana mutu pendidikan kita sekarang ini. Apakah sudah sesuai dengan apa yang kita cita-citakan maupun apakah yang kita targetkan sudah tercapai dengan sebaiknya?.

“Secara pribadi saya menilai apa yang kita cita-citakan tersebut belum kita capai secara baik. Bagaimana mungkin bangsa ini akan meningkatkan mutu pendidikan yang diinginkan, sementara penerepan sistem transformasi pendidikan mulai dari kurikulum 1984, Kurikulum berbasis Kompetensi pada tahun 2004, belum sempurna saja. Sistem KBK pun berganti menjadi sistem KTSP. Tentu saja transformasi pendidikan antar waktu ini menjadi polemik di tubuh, baik pendidik maupun terdidik. Walaupun dengan kilah menuju mutu pendidikan yang lebih koefisien tapi tentu saja dengan perubahan sistem tersebut, kemerdekaan guru kita untuk mendidik, sedikit banyaknya terkebiri oleh pertukaran sistem tersebut.

Bagaimana tidak, guru yang menjadi tolak ukur, yang menjadi tonggak untuk menerapkan sistem perubahan tersebut, seakan ditampar kiri-kanan. Akibatnya, konsentrasi guru seperti disekat. Belum usai pemahaman tentang suatu kompetensi yang akan diajarkan pada siswanya, sang guru pun dicekcoki lagi dengan sistem pengajaran yang baru. Sementara harkat guru sebagai penguasa pendidikan, yang memoles setiap insan anak bangsa ini memperoleh suatu ketidak tahuan, hingga detik ini masih belum tersertifikasi sebagaimana mestinya. Pengecualian dari hal kesejahteraan tersebut berimbas dengan pola kerja sang guru, bagaimana mungkin seorang guru akan mengajar dengan sempurna kalau saja imbalan yang didapatkan belum bisa menutupi segala tetek bengek kebutuhannya.

Sementara, para siswa mendapat imbas yang lebih berat dari ketidak konsistennya sistem pendidikan yang diterapkan Pemerintah melalui pihak yang berkompeten dalam hal pendidikan. Siswa ataupun pihak terdidik merasa menderita dengan penerapan tranformasi sistem tersebut. Belum sempat benak mereka memamah pembelajaran dari suatu sistem, ternyata sistem yang barupun telah menghadang jalan. Siap tidak siap mereka harus mulai menyesuaikan dengan sistem yang baru tersebut, walaupn serabut syaraf yang mereka miliki belum siap menerima perubahan tersebut.

Belum lagi persoalan anggaran yang tidak konsisten, peningkatan mutu pendidikan yang digadang-gadangkan Pemerintah belum diikuti dengan komitmen anggaran pendidikan secara sempurna dan terangkai dengan baik, yang sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dalam hal pendidikan tersebut. Walaupun semua lini mendukung untuk perbaiakan mutu pendidikan, tapi kalau anggaran pendidikan sendiri tidak mencukupi untuk itu, bagaimana kita akan bergerak?.

Tahap ketiga dalam mewujudkan cita pendidikan yang baik adalah, bagaimana kita bisa meletakkan aparatur yang benar-benar mengerti akan pendidikan, aparatur yang benar-benar ingin menciptakan sinergis yang nyaman dalam pendidikan. Karena aparatur Pendidikan tersebut adalah suatu instrumen yang memperindah suara pendidikan bangsa ini.

Dalam lingkup skala yang lebih kecil, pendidikan di Sumbar sendiri, mantan Presidium Forum Komunikasi Komunikasi Mahasiswa Minang se-Indonesia ini berujar, Sumbar yang notabenenya sebagai daerah industri otak sewajarnyalah mengkedepankan apa yang menjadi icon tersebut. ”Pendidikan di Sumbar khususnya, haruslah dibarengi dengan pendidikan kebudayaan, karena kalau sudah demikian cikal-cikal pengganti M Hatta, Buya Hamka akan kembali lahir dari generasi sekarang ataupun nanti. Generasi yang akan membawa kegemilangan dimasa depan,” imbuhnya.

Kita seharusnya, sebagai suku berkebudayaan tinggi, lebih mendalami arti dari kebudayaan kita sendiri. ”Saya masih ingat dari apa yang pernah ditulis oleh seorang Kepala Sekolah SMAN 3 Payakumbuh, Drs Resnulius. Bagaimana dia dalam mendidik para muridnya menerapkan sistem "Cerdas Budaya", yang artinya, basis pendidikan haruslah berbasis budaya. Bukan hanya kecerdasan intelektual dalam ilmu tapi juga dalam kebudayaan".

Untuk terakhir kalinya, saya berharap dalam rangka memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa, 80 tahun sumpah pemuda dan 10 tahun reformasi berjalan. Para intelektual maupun Pemerintahan, haruslah lebih mengkedepankan mutu pendidikan, bukan hanya sekedar mengkedepankan angka-angka sebagai tolak ukur kesuksesan pendidikan bangsa. Lebih dari itu, tingkatkanlah pendidikan lebih dari apa yang telah kita capai, pendidikan yang cerdas berbudaya, berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan adalah salah satu langkah yang konsekwen untuk menciptakan mutu.

“Dalam hal pemerintahan, saya berharap pemerintah lebih mengkedepankan generasi muda. melaksanakan regenarasi dalam estafet membangun bangsa, agar kita lebih berkembang disemua lini. Bagi para Angkatan '98 yang pada tempoe doeloe telah gigih menegakkan reformasi untuk kembali kegelanggang bangsa ini, karena yang namanya pekerjaan kita dalam membangun negeri belumlah usai. Masih banyak yanh harus kita benahi, reformasi yang kita tegakkan belumlah seperti yang kita harapkan, masih terkontamidasi oleh hal-hal yangtidak lazim. Saya harap angkatan '98 kembali menakhodai bangsa ini, karena kita yang memulainya tentu saja haruslah kita yang mengisinya.

Percakapan kamipun terhenti, setelah azan Isya berkumandang lirih, memanggil setiap insannya untuk bersedekap kepada Sang Khalik. "Kita shalat dulu," ujar aktivis reformasi ini mengakhiri percakapan kecil yang telah membawa suatu pengertian, Indonesia belum bangkit, reformasi total baru sebatas impian. (Benny Okva Della)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Deplu Siap Fasilitasi KPU

06.09.2008

JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tradisi Asmara Subuh, Pelampiasan Ruang Kontak Sosial?

07.09.2008 | Metro Padang

LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…


selamat_metro.jpg

advert-4.jpg

indosat.gif