|
Sejurus, pandangan mata pria elegan ini terlihat sedikit menerawang, menembus langit-langit. Warung bakso tempat kami bertukar pikiran. Entah apa yang berkecamuk dibenak seorang Wendra Yunaldi. Sembari sesekali menghirup minuman di depannya, ia tak berhenti mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari.
"Negara kita telah terkungkung oleh pendidikan ambivalen, pendidikan
yang mendua, dimana kinerja guru telah dibatasi oleh kungkungan
kompetensi pelajaran yang tiap periode berganti arah, berlabuh tanpa
berkesinambungan," ujarnya memecah kesunyian, yang sedari tadi
membelenggu intensitas pertemuan kecil kami.
Ketua KNPI Kota Payakumbuh ini terus berceloteh secara terinci, membuka
lebaran-lembaran uneg tentang sistem pendidikan bangsa Indonesia
tercinta yang sampai saat ini masih belum konkrit dengan apa yang
seharusnya terevaluasi dengan baik dan sewajarnya.
"Kita belum bisa merumuskan apa yang menjadi suatu kebutuhan dalam
pendidikan. Pendidikan bukan hanya sekedar jejeran angka-angka. Lebih
dari itu, pendidikan adalah suatu yang sakral. Tentu saja untuk
mewujudkan kesakralan pendidikan tersebut, diperlukan suatu sistem
pendidikan yang mumpuni, anggaran yang memadai serta aparatur yang
memang mengerti kemana arah pelabuhan dunia pendidikan kita," ujar
Dirut PT Sehati Indah Prima ini serius.
Suami dari Meuthia Sweethearly Nurfa mengungkapkan, secara sistem dan
bertolak dari UUD Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) kita bisa
mengkaji ulang bagaimana mutu pendidikan kita sekarang ini. Apakah
sudah sesuai dengan apa yang kita cita-citakan maupun apakah yang kita
targetkan sudah tercapai dengan sebaiknya?.
“Secara pribadi saya menilai apa yang kita cita-citakan tersebut belum
kita capai secara baik. Bagaimana mungkin bangsa ini akan meningkatkan
mutu pendidikan yang diinginkan, sementara penerepan sistem
transformasi pendidikan mulai dari kurikulum 1984, Kurikulum berbasis
Kompetensi pada tahun 2004, belum sempurna saja. Sistem KBK pun
berganti menjadi sistem KTSP. Tentu saja transformasi pendidikan antar
waktu ini menjadi polemik di tubuh, baik pendidik maupun terdidik. Walaupun dengan kilah menuju mutu pendidikan yang lebih koefisien tapi
tentu saja dengan perubahan sistem tersebut, kemerdekaan guru kita
untuk mendidik, sedikit banyaknya terkebiri oleh pertukaran sistem
tersebut.
Bagaimana tidak, guru yang menjadi tolak ukur, yang menjadi tonggak
untuk menerapkan sistem perubahan tersebut, seakan ditampar kiri-kanan.
Akibatnya, konsentrasi guru seperti disekat. Belum usai pemahaman
tentang suatu kompetensi yang akan diajarkan pada siswanya, sang guru
pun dicekcoki lagi dengan sistem pengajaran yang baru. Sementara harkat
guru sebagai penguasa pendidikan, yang memoles setiap insan anak bangsa
ini memperoleh suatu ketidak tahuan, hingga detik ini masih belum
tersertifikasi sebagaimana mestinya. Pengecualian dari hal
kesejahteraan tersebut berimbas dengan pola kerja sang guru, bagaimana
mungkin seorang guru akan mengajar dengan sempurna kalau saja imbalan
yang didapatkan belum bisa menutupi segala tetek bengek kebutuhannya.
Sementara, para siswa mendapat imbas yang lebih berat dari ketidak
konsistennya sistem pendidikan yang diterapkan Pemerintah melalui pihak
yang berkompeten dalam hal pendidikan. Siswa ataupun pihak terdidik
merasa menderita dengan penerapan tranformasi sistem tersebut. Belum
sempat benak mereka memamah pembelajaran dari suatu sistem, ternyata
sistem yang barupun telah menghadang jalan. Siap tidak siap mereka
harus mulai menyesuaikan dengan sistem yang baru tersebut, walaupn
serabut syaraf yang mereka miliki belum siap menerima perubahan
tersebut.
Belum lagi persoalan anggaran yang tidak konsisten, peningkatan mutu
pendidikan yang digadang-gadangkan Pemerintah belum diikuti dengan
komitmen anggaran pendidikan secara sempurna dan terangkai dengan baik,
yang sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dalam hal pendidikan
tersebut. Walaupun semua lini mendukung untuk perbaiakan mutu
pendidikan, tapi kalau anggaran pendidikan sendiri tidak mencukupi
untuk itu, bagaimana kita akan bergerak?.
Tahap ketiga dalam mewujudkan cita pendidikan yang baik adalah,
bagaimana kita bisa meletakkan aparatur yang benar-benar mengerti akan
pendidikan, aparatur yang benar-benar ingin menciptakan sinergis yang
nyaman dalam pendidikan. Karena aparatur Pendidikan tersebut adalah
suatu instrumen yang memperindah suara pendidikan bangsa ini.
Dalam lingkup skala yang lebih kecil, pendidikan di Sumbar sendiri,
mantan Presidium Forum Komunikasi Komunikasi Mahasiswa Minang
se-Indonesia ini berujar, Sumbar yang notabenenya sebagai daerah
industri otak sewajarnyalah mengkedepankan apa yang menjadi icon
tersebut. ”Pendidikan di Sumbar khususnya, haruslah dibarengi dengan
pendidikan kebudayaan, karena kalau sudah demikian cikal-cikal
pengganti M Hatta, Buya Hamka akan kembali lahir dari generasi sekarang
ataupun nanti. Generasi yang akan membawa kegemilangan dimasa depan,”
imbuhnya.
Kita seharusnya, sebagai suku berkebudayaan tinggi, lebih mendalami
arti dari kebudayaan kita sendiri. ”Saya masih ingat dari apa yang
pernah ditulis oleh seorang Kepala Sekolah SMAN 3 Payakumbuh, Drs
Resnulius. Bagaimana dia dalam mendidik para muridnya menerapkan sistem
"Cerdas Budaya", yang artinya, basis pendidikan haruslah berbasis
budaya. Bukan hanya kecerdasan intelektual dalam ilmu tapi juga dalam
kebudayaan".
Untuk terakhir kalinya, saya berharap dalam rangka memperingati 100
tahun kebangkitan bangsa, 80 tahun sumpah pemuda dan 10 tahun reformasi
berjalan. Para intelektual maupun Pemerintahan, haruslah lebih
mengkedepankan mutu pendidikan, bukan hanya sekedar mengkedepankan
angka-angka sebagai tolak ukur kesuksesan pendidikan bangsa. Lebih dari
itu, tingkatkanlah pendidikan lebih dari apa yang telah kita capai,
pendidikan yang cerdas berbudaya, berpegang teguh pada nilai-nilai
keagamaan adalah salah satu langkah yang konsekwen untuk menciptakan
mutu.
“Dalam hal pemerintahan, saya berharap pemerintah lebih mengkedepankan
generasi muda. melaksanakan regenarasi dalam estafet membangun bangsa,
agar kita lebih berkembang disemua lini. Bagi para Angkatan '98 yang
pada tempoe doeloe telah gigih menegakkan reformasi untuk kembali
kegelanggang bangsa ini, karena yang namanya pekerjaan kita dalam
membangun negeri belumlah usai. Masih banyak yanh harus kita benahi,
reformasi yang kita tegakkan belumlah seperti yang kita harapkan, masih
terkontamidasi oleh hal-hal yangtidak lazim. Saya harap angkatan '98
kembali menakhodai bangsa ini, karena kita yang memulainya tentu saja
haruslah kita yang mengisinya.
Percakapan kamipun terhenti, setelah azan Isya berkumandang lirih,
memanggil setiap insannya untuk bersedekap kepada Sang Khalik. "Kita
shalat dulu," ujar aktivis reformasi ini mengakhiri percakapan kecil
yang telah membawa suatu pengertian, Indonesia belum bangkit, reformasi
total baru sebatas impian. (Benny Okva Della)
|