Si Kecil Alergi Makanan pdf  | cetak |
Minggu, 01 Juni 2008
KATA alergi tentu tak asing lagi bagi Ibu muda. Belum lagi kerepotan yang timbul karena jadi harus ekstra hati-hati. Bila anak bereaksi tak biasa saat dikenalkan pada suatu makanan. Jangan buru-buru membuat kesimpulan sendiri, apalagi jika belum berkonsultasi ke dokter. Sebab sebuah studi menunjukkan, orang tua sekarang cenderung lebih gampang memberi cap alergi pada anak dan ini bisa merugikan.
Akibat vonis orang tua, yang kurang hati-hati, banyak bayi dan anak balita (bawah tiga tahun) terpaksa berpantang sejumlah makanan, seperti susu sapi, ikan, telur atau kacang sementara mereka sebenarnya tidak menderita alergi. Alergen Journal of Allergy and Clinical Immunology seperti dilansir info-sehat.com menyebutkan, membatasi akses anak terhadap beragam makanan justru dapat membuatnya kekurangan asupan nutrisi penting pada periode pertumbuhan emas 1 sampai 3 tahun. Sebenarnya kekhawatiran para orang tua terhadap alergi makanan bisa dibilang wajar. Sebab kondisi ini memang merepotkan. Gejalanya termasuk rash atau ruam kulit, sesak napas, keram perut dan mual. Reaksi ini bisa muncul dalam hitungan menit setelah mengonsumsi makanan pemicunya. Beberapa penderita alergi makanan bahkan dapat mengalami reaksi ekstrim yang disebut anafilaksis.

Alergi makanan disebabkan oleh reaksi sistem imun terhadap protein yang terkandung dalam jenis-jenis makanan yang tertentu umumnya telur, susu, ikan, kacang, gandum atau kedelai. Ketika bayi Anda beranjak besar dan mendekati masa akhir balita, urusannya lebih repot lagi. Sebab ia memasuki era gila camilan. Rumitnya, alergen seperti telur, kedelai dan kacang banyak menyusup dalam bahan-bahan dasar makanan olahan, bahkan sereal. Label dalam kemasan pun sering kali dibuat terlalu ilmiah, sehingga sulit dicermati orang tua dari kalangan awam. Istilah albumin, misalnya, sebanarnya artinya telur. Sementara kasein sama saja dengan susu. Perasa makanan juga kerap disebut natural flavors, tanpa menyebutkan secara rinci bahan yang terkandung di dalamnya. Sementara stabillzer biasanya mengandung sekelumit susu. Untuk menghindari risiko, di Amerika Serikat, pemerintah mewajibkan para produsen mencantumkan makanan pencetus alergi dalam nama sebenarnya.

Payung ASI Eksklusif

Risiko alergi makanan pada bayi dapat dikurangi dengan peran aktif ibu memberi ASI eksklusif selama 6 bulan penuh. Jangan kenalkan makanan tambahan apapun pada periode ini, terlebih susu formula berbahan dasar sapi serta produk-produk turunan susu. Mengenalkan makanan padat pada usia terlalu dini, yaitu 4 bulan pertama kehidupan anak, dihubungkan dengan peningkatan risiko alergi hingga usia 10 tahun. Bayangkan dampaknya pada anak. Anjuran studi Dr Fiocchi yang dimuat di jurnal Annals Allergy, Asthma & Immunology disarankan mengenalkan makanan satu persatu. Para peneliti juga mengingatkan bahwa makanan padat harus dikenalkan dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jangan langsung memberi bayi campuran beberapa jenis bahan makanan. Sebab, dengan begini akan sulit diketahui apakah bayi Anda alergi terhadap bahan makanan tertentu.

Kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan susu sapi dan telur? Setelah dokter menganalisa risiko alergi bayi Anda berdasarkan riwayat keluarga, sang buah hati harus menunggu sampai usia 12 bulan untuk berkenalan dengan susu sapi dan produk turunan. Kemudian pada usia 24  bulan, ia mulai boleh mencicipi telur ayam. Bagaimana dengan kacang-kacangan? Tunggulah sampai anak menginjak usia 36 bulan, baru kenalkan ia pada berbagai jenis kacang, seperti kacang tanah maupun kacang mede. Untuk amannya, para peneliti juga menganjurkan untuk menunda pembelian ikan dan seafood hingga usia ini. Seperti halnya ASI atau air susu ibu, segala sesuatu yang alami memang lebih baik karena diracang oleh Sang Pencipta. Demikian pula dengan yang satu ini.

Bayi yang dilahirkan melalui operasi cesar ternyata menghadapi risiko alergi atau intoleransi susu sapi dua kali lipat ketimbang bayi yang dilahirkan secara normal. Diduga, bayi yang lahir melalui operasi cesar lebih sedikit terpapar pada bakteri maternal. Ini terpengaruh terhadap system pencernaannya. Akhirnya, system kekebalan tubuh bayi akan bereaksi berlebihan terhadap substansi pemicu alergi seperti telur, ikan dan kacang. Nah, jika Anda sedang hamil, ini kesempatan emas untuk membulatkan tekad agar bisa melahirkan normal. Namun jika operasi cesar adalah pilihan satu-satunya, jangan kecil hati. Mantapkan niat untuk memberi ASI eksklusif. Paling tidak Anda akan berperan besar dalam mengurangi risiko alergi makanan pada si kecil.(int)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Deplu Siap Fasilitasi KPU

06.09.2008

JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tradisi Asmara Subuh, Pelampiasan Ruang Kontak Sosial?

07.09.2008 | Metro Padang

LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…


selamat_metro.jpg

advert-4.jpg

indosat.gif