|
Lembah Harau mulai bersolek, mempercantik diri agar gaungnya mulai
terdengar ke berbagai pelosok negeri. Tidak hanya mengandalkan
keindahan dan keasrian yang dimilikinya, Lembah Harau kini juga mulai
‘berimprovisasi mencoba mambangkik batang tarandam”, melestarikan
kembali kebudayaan Luak Nan Bungsu yang tanpa disadari mulai terkikis
olah peradapan zaman yang semakin modern.
Diawali dengan tekad yang kuat, Dinas Pariwisata Seni Budaya Kabupaten Limopuluah Kota digawangi Ir M Yunus MT dan dibantu seluruh jajarannya, termasuk Kabag Promosi , Husin Daruhan. Punggawa-punggawa Dinparsenibud berhasrat mempromosikan segala daya tarik Harau yang biasa disebut ‘setumpak tanah syurga yang jatuh ke Bumi’. Maka, dibuatlah suatu rangkaian acara yang bernamakan “Event Gemilau Lembah Harau". Awal bulan pertengahan tahun, tepat-nya awal Juni, beragam kegiatan mulai digelanggangkan demi kembali mengangkat kembali Wisata Luak Nan Bungsu khususnya dan Sumbar umumnya.
Adapun event yang dilaksanakan dalam rentang waktu tanggal 1 - 8 Juni tersebut, Pacu Itiak se-Luak Limopuluah dan Kota Payokumbuah. Pelaksanaan atraksi tradisional yang berlangsung dari tanggal 1 - 2 Juni berlokasi di 11 gelanggang. Diikuti ribuan pesertanya “Pacu Itiak Mania” yang datang dari berbagai Nagari di Kabupaten Limopuluah Kota dan Kota Payakumbuah. Uniknya, kalau di daerah lain pacu itiak dilaksanakan di daratan yakninya di sepanjang jalan raya, Lembah Harau justru di ‘sawah bancah’. Selain itu itik yang digunakan adalah itik lokal yang dibudidayakan masyarakat-Pesertanya — berumur sekitar lima bulan. Itik tersebut diberi nama diparuhnya, sesuai dengan nomor Lot (undian peserta) yang telah ditentukan. Itik yang dinyatakan sebagai pemenang adalah itik yang mampu terbang dalam jalur yang sudah ditentukan dan mendarat di garis finish.“Ondeh yo sabana rami pacuan sakali ko, kami minta kapado Panitia untuak taruih ‘manggadangan’ acara ko. Salain sabagai wadah pemersatu, pacu itiak ko sarat pulo akan unsur budaya Minang,” kaya salah seorang peserta yang juga ikut bertanding.
Adu Balam se-Sumbar; Atraksi yang satu ini sangat kental dengan aroma mistik dan untuk memulainya pun diperlukan ritual khusus. Dimana, burung Balam sebelum di adu, terlebih dahulu dibacakan berbagai mantera dan ditiupi asap kemenyan. Para pesertanya pun tidak tanggung-tanggung karena setiap peserta yang akan mengadu Balam harus memakai pakaian adat. Itupun sudah menjadi tradisi adat yang tidak bisa dibantah serta gugat. Setelah dibacakan mantera, burung Balam dilepaskan dalam ‘karangkeng’ yang sudah disediakan, dengan sendirinya akan mengejar lawannya, saling patuk dan terjang. Adu Balam yang saat ini sudah langka ditampilkan berasal dari daerah Suliki, tepatnya Sungai Rimbang, Kabupaten Limopuluah Kota ini adalah sebagai ajang Silaturahmi bagi anak Nagari Luak Limopuluah Kota. Namun, dalam event Gemilang Lembah Harau, Adu Balam yang digelar tanggal 1 Juni ini peserta malah banyak datang dari luar daerah. Seperti; dari Pasaman, Pasisia dan Solok yang jumlah peserta mencapai ratusan. Lomba Melukis Alam Harau; 1 Juni 2008 lalu, Lembah Harau diserbu berpuluh pasukan yang bersenjatakan kanvas, kuas serta cat beraneka warna. Eitt..jangan cemas dulu. Harau bukan dibuat porak-poranda oleh mereka. Pasukan yang menyerbu Harau tersebut tidak lain adalah para pelukis yang datang dari berbagai daerah Sumbar. Mereka, ‘para pakar kuas” tersebut berniat memindahkan pesona alam Harau ke kanvas yang telah mereka tenteng sedari tadi.
Para pelukis tersebut berjejer disepanjang jalan menuju Harau, mencari tempat strategis agar bisa dengan sempurna memindahkan keindahan tanah syurga tersebut ke atas kanvas. Walau teriknya matahari telah panas menyengat tapi itu semua tidak mempan untuk memecahkan konsentrasi para pelukis. “Sungguh indah, setiap lekukan yang ada di alam Harau, semuanya menarik untuk digambarkan. Hanya Green Canyon di Amerika sana yang seperti ini. Kalau boleh jujur, Harau lebih indah dari itu,”ujar salah seorang pelukis bertato yang mengambil latar sawah dan tebing curam dalam lukisannya. Buru Babi se-Sumbar, Riau, Jambi; Memasuki 4 Juni 2008, Solok Bio-Bio yang terletak di Kecamatan Harau, dibisingkan gonggongan Anjing berjumlah ribuan yang datang bersama majikannya dari berbagai daerah termasuk daerah Riau dan Jambi. Anjing-anjing beringas tersebut, mengamuk dan berkejaran melewati alam Harau nan indah. Anjing-anjing yang mengamuk itu bukan anjing sembarangan, bukan pula anjing gila tapi anjing-anjing itu adalah binatang yang sudah terlatih untuk berburu babi. Jika ditanya mengapa mereka bisa sampai ke Solok Bio-Bio, jawabannya karena pada tanggal tersebut, untuk memeriahkan event Gemilang Lembah Harau, Pihak Parsenibud mengadakan acara “Alek Buru Babi”. Mencengangkan, acara yang sedia-nya dianggap akan ‘lengang’ peserta ternyata tumpah ruah oleh para maniak buru babi. Ratusan babi hutan yang biasanya sering ‘mencuri’ tanaman petani, hari itu dibuat kalang kabut oleh serbuan mendadak tersebut. Ratusan ekor babi terpaksa jadi korban Anjing-anjing yang datang bak prajurit nan gagah dengan dilengkapi aksesoris rantai dan kalung yang mahal.
Pacu Jawi se-Luak Limopuluah dan Kota Payokumbuah; Siapa kira, Pacu Jawi (Karapan Sapi) yang menjadi icon daerah Madura ternyata juga ada di Luak Nan Bungsu? Bahkan keberadaan Pacu jawi tersebut sudah ada dari dahulu kala dan umumnya sering dipertontonkan di daerah Taram dan Batu Balang, Kecamatan Harau. Pacuan yang diadakan di-11 Gelanggang didaerah Ngalau Limbek ini, berlangsung pada tanggal 7 Juni (kemarin). Warga yang sangat menantikan acara pacuan yang biasanya digelar menjelang musim tanam tiba ini tumpah ruah digelanggang yang telah disediakan. Sebanyak 500 jawi, berlaga dalam helatan yang mengemukakan kebersamaan dan bersifat hiburan ini. Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh penonton mewarnai jalannya pacuan. Adapun yang akan keluar sebagai pemenang adalah sapi yang terlebih dahulu mencapai garis finish yang telah ditentukan. Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional; Berlokasi di GOR M Yamin, Lomba Akbar ini akan diikuti sekita 2000 peserta yang datang dari berbagai daerah nusantara, untuk menunjukkan kebolehan burung peliharaan mereka dalam berkicau. Penentuan pemenang dalam Lomba ini, dimana burung yang kicaunya lebih merdu dan panjang akan keluar menjadi juara, sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan dewan juri. Tidak tanggung-tanggung, GOR M Yamin yang biasanya digunakkan sebagai tempat bermain Badminton dan Festival musik, hari ini (8/6) akan disesaki oleh para pecinta ‘Buruang Bakicau’ dan berbagai jenis burung. Karena selama ini, para pecinta Burung berkicau di Luak Nan Bungsu khususnya, sangat jarang sekali ‘diservis’ dengan lomba.
Panjat Pinang se-Limopuluah Kota; Acara Panjat pinang yang berlokasi di objek wisata air terjun Sarasah Bunta ini, adalah puncak dari segala acara yang diadakan Dinparsenibud Limopuluah Kota. Dimana, sebanyak 200 batang pinang yang dilengkapi berbagai hadiah yang menggiurkan dan dilapisi oli dan gomok telah berdiri perkasa di Sarasah Bunta, menanti berbagai peserta yang umumnya adalah para pemuda yang datang dari semua Nagari di Luak Limopuluah. Dengan jumlah peserta sebanyak 2.000 orang, pelaksanaan panjat pinang ini adalah panjat pinang dengan jumlah peserta terbanyak di-Sumbar bahkan Indonesia. Perlombaan ini jelas menjadi ajang yang bisa mengocok perut penonton serta memacu adrenalin bagi para peserta. Untuk persiapannya, jauh hari sebelum acara ini dimulai, panitia telah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari persipan batang pinangnya, hingga hadiahpun tak luput oleh panitia. Dimaksudkan dalam acara ini sebagai wadah mempererat kebersamaan antara semua insan, terlebih pemuda Luak Nan Bungsu. Dengan adanya acara ini, seluruh pemuda Luak Limopuluah akan bertemu di arena ini jadi dengan adanya lomba ini akan terjalin suatu kebersamaan yang erat serta sebagai ajang bertukar pikiran bagaimana Nagari ini bisa berubah kearah yang lebih baik kelak.
Panjat Tebing; Pagar tebing cadas yang curam dan lurus di Lembah Harau juga menantang untuk olahraga panjat tebing. Sebuah organisasi pecinta tebing setempat secara rutin mengunjungi tempat ini sekali dalam setahun. Wisatawan yang berminat mungkin dapat mencoba untuk menguji olahraga yang satu ini. Peminat akan dipandu seorang instruktur. Bila tak ada sepatu khusus pendaki, tanpa alas kaki pun jadi. Inti olahraga ini adalah mengatasi rasa takut. Pendaki juga diharuskan memakai harnest (alat pengaman tubuh) yang diikat simpul. Tali yang lain dipegang seseorang yang akan menahan tubuh pendaki bila terjatuh. Untuk mengurangi keringat saat mendaki, pendaki harus menyediakan bubuk magnesium karbonat. Bagi pemula, kesulitan terbesar antara lain mengalokasikan beban tubuh kepada tangan dan kaki secara seimbang. Kecenderungan yang sering terjadi, beban tubuh hanya ditahan oleh tangan. Akibatnya energi lebih cepat terkuras. Apalagi tempat pijakan dan bergantung amat minim. Sebagai daerah lembah, suara teriakan niscaya akan memantul lagi. Cobalah berteriak di titik nol (echo spot) yang telah ditandai pengelola khusus untuk pengunjung yang ingin mendengar gaung sempurna. Di tempat ini, suara pantulan terdengar lebih keras. Lumayanlah buat melepas stres dan beban hidup.
Dongeng Lembah Harau
Lembah Harau yang memanjakan hati dan mata ini mempunyai legenda sendiri. Menurut hikayat setempat, dulunya di atas tebing berdiri sebuah kerajaan yang penduduknya sangat makmur. Sedangkan lembahnya merupakan hamparan danau. Suatu hari, putri kerajaan terpikat dan jatuh cinta kepada seorang pemuda yang berasal dari keluarga miskin. Ternyata percintaan sang tuan puteri tidak direstui sang raja karena raja menganggap pemuda tersebut tidak pantas mendapatkan cinta puteri. Karena keinginan cintanya yang tulus pada sang pemuda tidak direstui sang ayah, puteri memilih terjun ke danau karena alasan tak diizinkan menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja merasa terpukul dan sedih atas kenekatan dan sifatnya yang tidak memperbolehkan anaknya menikah dengan pemuda pujaan hatinya. Raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga Danau dikeringkan, jenazah sang putri tetap tak ditemukan. Danau yang menjadi daratan itu kini dikenal sebagai Lembah Harau dan menjadi tempat bermukim dan berwisata yang indah.
Seperti dalam benteng raksasa! Barangkali demikian yang dirasakan pengunjung Lembah Harau, Kabupaten Limopuluah Kota. Sepanjang jalan Payakumbuh menuju Lembah Harau, kita akan dimanjakan hamparan pemandangan sawah dan lembah, juga rumah adat Minang —Rumah Adat Bagonjong. Memasuki Taman Wisata Lembah Harau, wisatawan serasa “dikepung” tebing kemerah-merahan setinggi 150 hingga 200 meter. Tebing itu tegak mengelilingi lembah. Di dasar tebing, bentangan sawah dan pepohonan hijau lagi rimbun membuat pesona Lembah Harau makin memukau. Daerah Lembah Harau juga dihuni berbagai jenis hewan dan burung liar. Lembah ini juga makin memikat dengan tujuh air terjun atau sarasah yang mengalir deras. Di waktu musim hujan, air yang mengalir bertambah deras. Pemandangan sekitar lembah makin menakjubkan kala pelangi turun sehabis hujan. (Benny Okva Della)
|