|
UNP Tidak Ciptakan Pengangguran Intelektual |
pdf
|
| cetak |
|
|
Minggu, 08 Juni 2008 |
|
Universitas Negeri Padang (UNP) kembali mewisuda 526 lulusannya, Sabtu
(7/6). Tahun ini UNP melakukan prosesi wisuda tiga kali dalam setahun.
Wisuda kali ini merupakan wisuda pertama yang dilakukan di Bulan Juni.
Rektor UNP Z Mawardi Effendi dalam sambutannya mengatakan peningkatan
frekuensi wisuda dari dua kali per tahun menjadi tiga kali, untuk
memberikan kesempatan kepada mahasiswa memanfaatkan masa studi
seefisien mungkin.
Mereka tidak perlu lagi menunggu masa wisuda berikutnya dalam rentang yang panjang. “Diharapkan kesempatan ini memacu mahasiswa belajar dan menyelesaikan studinya lebih cepat dengan tetap menjaga mutu terbaik,” kata Z Mawardi. Peningkatan wisuda ini diharapkan bisa meningkatkan kinerja universitas. UNP dalam beberapa tahun terakhir ini terus menunjukan perkembangan positif.
Jumlah lulusan dan mahasiwa terus bertambah setaip tahunnya. Jika dibandingkan tahun 2005/2006, lulusan UNP hanya 3165 orang, dan meningkat menjadi 4172 orang pada 2006/2007 dan diperkirakan akan mencapai 5400 orang di tahun 2007/2008. Meski jumlah lulusan terus meningkat, UNP tetap mempertahankan kualitas lulusannya. Caranya dengan membekali lulusan dengan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap (WPKNS). Karena perguruan tinggi bertugas menyiapkan perangkat seperti itu.
Dengan memberikan konsep itu, UNP tidak akan menciptakan pengangguran intelektual. WPKNS ibarat sebuah pancing. Yang pada akhirnya proses pembelajaran berkonsep WPNKS itu berdimensikan dapat, catat dan terap (DCT). Dimensi DCT, kata Mawardi, anak didik dalam proses pembelajaran mendapatkan sesuatu yang baru. “Mendapatkan sesuatu yang baru itu masuk dalam dimensi Dapat (D). Setelah didaptkan, tentu saja harus di catat (C) dan selanjutnya barulah di terapkan (T). Dengan konsep DCT ini memungkinkan anak didik memperoleh pancing, bukan ikan yang disuapi tiap hari,” sebut Mawardi. (nto)
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…
|
|