Saat ini ada 14 tamu online
MGR Martinus Dogma Situmorang OFMCap, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia dan Uskup Padang pdf  | cetak |
Minggu, 08 Juni 2008
Kerukunan Hidup Beragama di Sumbar Cukup Baik
Kontribusi Sumbar dalam perjuangan bangsa tak bisa dipungkiri. Biarpun haluan pemikirannya berbeda, namun tujuan yang mereka emban tetap satu. Apalagi kalau bukan, mampu mendorong percepatan kemerdekaan bangsa ini. Semua mengenal Tan Malaka dengan Islam Sosialis, Syahril lebih kental dengan haluan sosialisnya. Sedangkan Buya Hamka dikenal dengan haluan pemikiran Islam Pembahar uannya.
Kemajemukan ini tak lantas membuat mereka terpecah-belah. Melalui pemikiran mereka masing-masing, tujuan mendasar terbebasnya bangsa besar ini dari belenggu kolonialisme mampu mereka wujudkan. Inilah yang membuat banyak orang bertanya-tanya, faktor mendasar seperti apa yang terkandung dalam kultur budaya Minangkabau. Ini jugalah yang menjadi perhatian dari Ketua Konferensi Waligereja Indonesia MGR Martinus Dogma Situmorang OFMCap.

Terlahir dengan nama Todo Tunggul Tahan Dogma Yohanes Situmorang, Martinus sejak kecil memang terlahir dari keluarga yang bersentuhan dengan keyakinannya. Keseriusannya untuk menjadi pemuka agama, ia buktikan dengan memperdalam spesialisasinya dalam bidang spiritualitas hingga ke sejumlah negara, termasuk Vatikan, Roma. “Sumbar sangat indah. Keindahan itu, baik sisi geografis, etnis maupun kultural yang ke semuanya merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya singkat. Itu jugalah yang membuatnya betah tinggal di Sumbar sejak 1983 lalu. Sumbar ini penuh keunikan dibandingkan daerah lain. “Hampir tak ada perselisihan yang terjadi di daerah ini, termasuk antar-agama atau pun etnis. Semua berjalan begitu dinamis. Kalau pun ada letupan, itu semua masih bisa diselesaikan secara baik-baik. Inilah anugerah tersebut. Mereka tak mudah terprovokasi,” aku Martinus.

Ia melihat kekayaan nilai-nilai kebudayaan, dan masih melekatnya  paham dan falsafah hidup adat bersendikan agama dan agama bersendikan adat. Inilah faktor penentu tenteramnya kehidupan masyarakat di daerah ini. “Secara kasat mata saya melihat kehidupan beragama di Sumbar umumnya Kota Padang khususnya, baik. Ini dapat dilihat dari segi kehidupan beragama, saudara muslim begitu semaraknya kegiatan keagamaan di masjid atau mushala. Kita juga dapat melihat maraknya pembangunan tempat-tempat ibadah di daerah ini. Di samping itu, dapat dilihat dari minat orangtua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah agama. Serta, saling toleransi antar-umat beragama.
Meski sudah baik, tapi saya melihat kehidupan beragama di daerah ini masih memungkinkan untuk lebih besar lagi dan baik. Ini harus diikuti dengan penghayatan keagamaan dari masing-masing umat. “Tentunya, kita harapkan

kerukunan hidup beragama di daerah ini bukan aksesorisnya juga bukan nuansanya. Kehidupan beragama yang cukup baik, ada celah potensial akan timbul konflik. Konflik tersebut terbagi atas dua macam, yakni konflik terbuka dan konflik bathin. Konflik terbuka lebih kepada adanya golongan tertentu yang terlalu mengagung-agungkan agamanya, agama disebarkan terlalu agresif. Akibatnya, kemapanan golongan tertentu jadi terganggu,” katanya. Biarpun begitu, nantinya yang dapat mengganjal tak lepas dari konflik bathin. Pasalnya, sewaktu-waktu konflik ini dapat menelan kerugian jiwa. Gelagat ke arah ini kata Matinus, sudah ada yang memperlihatkan persoalan tersebut. “Tak perlu kita sebutkan daerah mana, namun campur tangan pemerintah daerah dan masyarakat terlalu kental.

Akibatnya kita kesulitan memenuhi infrastruktur paling penting dalam peribadatan, salah satunya gereja. Sebaiknya, kita semua perlu mendudukan persoalan ini. Toh, kebutuhan akan rumah ibadah merupakan persoalan krusial yang perlu dicarikan jalan keluarnya,” ungkap Martinus. Konflik bathin lainnya, jelas Martinus yang tak kalah beratnya. Hampir tak ada data Badan Pusat Statistik (BPS) di 19 kabupaten/kota yang mencatat keberadaan umat Khatolik. “Padahal semua tahu, hampir semua daerah pastilah ada masyarakat yang memeluk agama Kristen Katolik. Terkesan ini bentuk ketidak-relaan daerah terhadap kehadiran warga minoritas. Kita berharap pemerintah bisa mengakomodir persoalan ini. Bukankah menganut agama itu adalah hak asasi manusia yang paling fundamental. (Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Catatan Bapedalda Kota Padang, Batang Arau Paling Parah Tercemar

20.11.2008 | Metro Padang

SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…



advert-4.jpg

indosat.gif