|
Kenaikan harga bahan bakar minyak(BBM) membuat pengecer minyak tanah
resah. Usaha mereka terancam gulung tikar. Kalapun ada, mereka terpaksa
menjual dengan harga tinggi. Imbasnya masyarakat kecil pengkonsumsil
minyak tanah menderita. Mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam
menghadapi harga minyak tanah (Minah) yang menggeliat.
Pantauan Tim Telusur di bebarapa pengecer di Kota Padang, banyak pengecar yang terpaksa memakirkan drum kosong dan berkarat. Ujang (38) misalnya, pengecer Minah di Kelurahan Ulak Karang Utara ini, mengaku sudah sebulan ini tidak menjual minyak karena susah mendapatkannya di Kota Padang. “Lah sabulan ko wak dak manjua minyak tanah pak, iko karano suliknyo minyak kini, di pangkalan minyak wak tanyoan indak pulo ado, sampai-sampai oto minyak tanah yang biaso maantaan minyak ka tampek wak dak tibo-tibonyo lai,” ungkap Ujang, bapak dengan tiga anak ini.
Sebelum kelangkaan, biasanya Ujang mendapatkan sekali seminggu untuk satu drum Minah. Dulu berjualan Minah termasuk salah satu andalan keluarganya, namun sekarang dia hanya bergantung dengan dagangan kelontongan. “Sabalum minyak sulik biasonyo wak mambali sakali saminggu ka urang pangkalan tu sabanyak ciek drum ko, kini ka baa lai tapaso wak iduik jo iko lai (dagangan kelontong-red)” tambahnya.
Nasib sama juga dialami Jas (45) warga Kelurahan Gunuang Pangilun. Sama dengan Ujang, Jas juga tidak lagi menjual Minah. Tim Telusur tidak melihat drum Minah miliknya ter-isi, hanya ada drum menguning dengan karatan di seluruh bagiannya. Dia tidak lagi menjual Minah karena sulit mendapatkannya di Padang. “Wak lah 2 bulan sabalum minyak naiak ndak manjua minyak lai, awak bukannyo baranti tapi minyak tu bana nan lah dak ado, ntah abis ntah baa, dak tau wak do, nan jaleh wak lah bara bulan ko dak mandapekan minyak,” tutur Jas yang juga pedagang kelontong di Kelurahan Gunuang Pangilun. Senada dengan dua pengecer di atas, Iyat (36) pengecer Minah di Kelurahan Ampang juga merasakan demikian.
Susahnya mendapatkan Minah membuat ibu dua anak ini hanya bisa terpaku saja. Dia mengatakan kalau Minah sudah beberapa minggu ini tidak dia dapatkan, “Dak tau wak lai pak, lah bara minggu ko dak do wak mandapek minyak do, dulu waktu minyak sadang naiak bana wak tanyoan ka kawan-kawan wak nan manjua minyak, indak pulo manjuanyo do, yo bana sulik pak dak bisa manga wak deknyo do,” jelas Iyat. Rosmi (51) juga mengaku hal yang sama. Pengecer di Kelurahan Andaleh ini mengatakan kalau dua minggu belakangan ini pernah mendapatkan minyak dari mobil tanki di pangkalan Minah, tapi pangkalan menjual dengan harga tinggi seharga Rp3.500 per liter. Ini membuat Rosmi tercengang. Karena dibeli mahal, kepada masyarakat pun dia menjual Rp4.000 per liter.
“Dua minggu kabalakang ko ado oto minyak tanah kasiko, tapi inyo manjua Rp3.500 per liter, tu tacangang wak deknyo mandanga minyak yang naiak sagitu bana. Tapi dek tapaso, wak bali dan wak jua Rp4.000 per liter,” ungkap Rosmi. “Partamo pambali mangaluah jo harago sabanyak tu, tapi baa lai wak mambali jo harago mahal dari pangkalan” tambahnya. Di Kota Payakumbuah, harga Minah ditingkat pengecer kecil mencapai Rp3.500 per liter. Harga itu membuat warga kalangan menengah ke bawah beralih ke kayu bakar untuk memasak. Bukan cuma itu, harga-harga gorengan juga naik dari biasanya.
“Saya terpaksa menaikkan harga gorengan. Biasanya saya jual Rp 500 per biji goreng pisang, tapi sejak harga minyak goreng dan minyak tanah naik, saya terpaksa jual Rp700 per biji. Kalau tidak dinaikkan bisa-bisa saya merugi dan gulung tikar. Tapi dampaknya pelanggan saya malah berkurang” terang Rusdi (30), seorang penjual gorengan yang menggelar dagangannya di Jalan Ahmad Yani. Kas (54), seorang ibu rumah tangga yang biasanya menggunakan kompor minyak, akhirnya terpaksa beralih menggunakan kayu bakar. “Ndak takao mambali minyak tanah lai, rancaklah pakai kayu lai, labiah hemat jo mangirit pengeluaran,”celoteh ibu dua anak yang tinggal di Kelurahan Balai Kaliki tersebut.
Kenaikan harga Minah yang cukup drastis itu, menurut salah seorang pengecer disebabkan penjual eceran Minah harus antri beberapa sekian jam untuk mendapatkannya. Belum lagi biaya menjemput ke pangkalan, yang jaraknya cukup jauh. “Kami tahu minyak yang kami jual melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi), tapi harus bagaimana lagi kalau kami jual sesuai HET, kami akan rugi karena uang yang kami keluarkan dalam menjemput minyak sangat besar,” terang salah seorang pengecer yang biasa menjajakan minyak tanah dengan memakai gerobak dorong. (*)
|