|
YULIANDRE DARWIS
Indonesia bergejolak. Berbagai kericuhan yang menyebabkan ketimpangan
dalam semua segi struktural. Pemerintahan seakan muncrat bak air mancur
yang nyembul dari dasar bumi. Keberadaan kaum muda dalam menyumbangkan
inspirasinya untuk membangun negeri seakan mulai dikikis dan
seakan-akan juga mulai tergusur serta dikebiri. Kondisi tersebut sontak
membuat jiwa salah seorang tokoh muda Ranah Minang Yuliandre Darwis
“berontak” dan angkat bicara akan situasi riskan yang dihadapi bangsa
ini.
Dosen muda Komunikasi Universitas Andalas ini seakan merasa ditarik ke masa lampau, dimana pada saat keberadaan kaum muda begitu diperhitungkan dalam membangun bangsa ini. “Seyogyanyalah, kaum muda yang menjadi tonggak awal kebangkitan bangsa ini dan juga sebagai pencetus ide “dadakan” melalui peristiwa Rengasdengklok dalam memproklamasikan kelahiran bangsa diberikan kesempatan dalam menentukan kemana arah laju perahu kemerdekaan Indonesia, bukannya harus dikucilkan apalagi sampai ditingalkan,” cetus pemikir lajang ini diplomatis.
Tutur demi tutur yang mengalir deras dari mulut seorang Yuliandre Darwis, seakan air bah yang bergulung dan menarik-narik selaput pikiran penulis. Kata-kata nan penuh fakta begitu menggambarkan “kemerdekaan The Youngs” dalam mengendalikan kemudi pembangunan. Tak hanya sebagai pengendali, kaum muda menurutnya, juga menjadi punggawa terdepan dalam jatuhnya pemerintahan “The Smiling General” Soeharto pada tahun 1998. Itu semua seakan makin mengukuhkan peran serta kaum muda dalam membawa bendera perubahan.
“Saya teringat akan ucapan sang maestro Proklamator Indonesia, yang berujar - Beri padaku sepuluh pemuda dan aku sanggup mengguncangkan dunia-. Saya rasa ucapan yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden Sukarno itu bukanlah sekedar pepesan kosong, karena beliau menyadari betapa vital dan dahsyatnya potensi dari kaum muda. Begitupun apa yang pernah terlontar dari mulut salah seorang sejarawan kesohor, Benedict Anderson (1990), bahwa goresan sejarah negara Indonesia berdasarkan lembaran sejarah kepemudaannya dan saya rasa pernyataan ini tidaklah salah apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa yang pernah tertindas ratusan tahun ini,” celoteh mantan Wartawan Mingguan Merapi tersebut seakan mencoba menarik kembali pikiran para pemegang tampuk kekuasaan Indonesia tentang arti kaum muda sebagai penegak bangsa.
Tutur demi tutur yang mengangkat kembali nasionalisme mengalir deras dari mulut seorang Yuliandre Darwis, bagaimana dulu posisi kaum muda begitu vital sebagai pemegang amanah perjuangan bangsa Indonesia tak luput dari jarahan pemikiran mantan Uda Sumbar itu. Dimana, menurut Andre, sejak dari jaman penjajahan selalu menempatkan para pemuda sebagai tokoh strategis dari setiap peristiwa yang terjadi. Buktinya, Gerakan Budi Oetomo tahun 1908, dilanjutkan Soempah Pemoeda pada tahun 1928, hingga puncaknya kemerdekaan Indonesia 1945, para pemuda selalu terlibat di dalamnya. “Kini, sepuluh tahun sudah bangsa Indonesia mengalami reformasi. Transisi dari zaman orde baru hingga reformas saat ini belum menunjukkan hasil dari reformasi yang sesungguhnya. Kesejahteraan rakyat adalah hasil mutlak yang diimpikan oleh semua pihak. Namun hingga saat ini, mimpi tersebut tinggallah mimpi.
Transisi hanya melahirkan transisi istilah dari Orde Lama menuju Orde Baru dan Orde Baru ke Orde Reformasi tanpa melahirkan transisi kepemimpinan yang sesungguhnya, dalam arti kata reformasi penuh baru sebatas angan,” tutur Yuliandre Darwis mengenang. “Saya rasa Pemerintah yang berkuasa cenderung melakukan penyimpangan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Hal ini disebabkan rendahnya pendidikan politik rakyat yang seharusnya menjadi stakeholder bangsa yang secara aktif mengontrol dan mengkritisi jalannya pemerintahan. Disinilah peran kaum muda sebagai agent of change (agen perubahan) sekaligus agent of social control (agen kontrol sosial) menjadi sangat vital dalam upaya mengontrol para penguasa dan pembuat kebijakan.
Karena jika pemimpin dianggap belum mampu memberikan maslahat, maka tugas sebagai kaum muda mengingatkan dan mengkritisinya. Bukan sebaliknya, apatis dan tidak perduli. Namun tentu saja keberadaan kaum muda tersebut harus disokong semua kalangan yang merasa berkompeten dalam membangun bangsa ini kedepannya,” lanjut Wakil Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) ini. Lanjut Yuliandre Darwis, Ternyata, Fenomena lapar akan perubahan dan haus akan kepemimpinan muda mulai bermunculan di masyarakat. Gejala ini muncul karena rakyat kini sudah semakin anti dengan status quo yang terbukti tidak dapat meningkatkan taraf kesejahteraan. Kecenderungan untuk perubahan pun telah nyata dimulai dari kemenangan pasangan muda di Pilkada Jabar, Hade (Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf), sebagai pemenang dimana masing-masing dari mereka masih berumur cukup muda, 41 tahun.
Gejala ini seakan memberikan sinyal kepada para politisi senior untuk tahu diri dan memahami kebutuhan masyarakat akan lahirnya para pemimpin muda. Beliau juga menambahkan bahwa sebetulnya peluang untuk berbakti di negara ini sudah sangat terbuka lebar. Kaum muda segeralah bangkit dan aktif untuk menjadi duta yang baik bagi negaranya karena peran sentral kaum muda yang dalam hal ini mahasiswa, dapat menjadi ujung tombak yang sangat efektif untuk memperkenalkan Indonesia di negara-negara tempat mereka belajar. “Kaum muda selama ini diidentikkan dengan kaum yang idealis, dinamis, dan masih steril dari pengaruh kekuasaan status quo. Hal inilah yang menjadi keunggulan kaum muda meskipun dari segi pengalaman memang belum sehebat para kaum tua. Generasi muda dilihat lebih memiliki harapan untuk melakukan perubahan jika dibandingkan dengan kaum tua yang memang telah nyata gagal pada sekarang ini,” lontarnya.
Karena itu, kita tak dapat menyangkal, peran utama kau muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. kaum muda adalah generasi penerus suatu bangsa. Generasi akan terus berganti dan pemuda adalah generasi penerus yang secara teguh dan konsisten melanjutkan perjuangan yang telah dirintis generasi sebelumnya. Namun yang menjadi pekerjaan rumah bagi kaum muda itu sendiri adalah bagaimana mencetak generasi muda yang memang diharapkan untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Jangan sampai, tongkat estafet pembangunan generasi muda direbut dan diserahkan kepada “mereka” yang tidak memiliki kemampuan dan kapabilitas. Konsep the right man in the right place yang menempatkan seseorang pada tempat dimana keahliannya harus tetap diimplementasikan.
Seharusnya, kaum muda yang memang memiliki kemampuan dan kapabilitas yang memadai harus diberikan kesempatan. Selama ini, sistem pemilihan kepemimpinan berdasarkan pencalonan dari partai menghalangi kaum muda untuk muncul ke permukaan dan kaum tua pun juga masih terlihat enggan untuk memberikan kesempatan. Kaum tua seharusnya mampu menjadi pengayom bagi kaum muda seperti yang terjadi ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu, setelah melalui tarik ulur dan perdebatan antara kaum muda dengan kaum tua di Rengasdengklok, akhirnya diputuskan bahwa kaum muda lah yang akan melakukan deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diwakili oleh Soekarno-Hatta.
Relevansi 100 tahun kebangkitan nasional yang selalu didengung-dengungkan sebagai tolok ukur bangkitnya jiwa nasionalisme kaum muda . Tapi yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah, apakah benar kaum muda bangsa Indonesia sudah bangkit dari keterpurukkan dan dari bayang-bayang kamuflase kaum Tua?. Pastinya, setiap era mempunyai permasalahan tersendiri dan dibutuhkan suatu solusi yang berbeda pula. Kaum muda pada zaman ini dituntut untuk lebih siap menghadapi tantangan global. Perjuangan melawan penjajahan kini bukan hanya dengan mengangkat senjata melawan Belanda atau Jepang, namun lebih mengerikan dari itu.
Globalisasi dengan sistem kapitalisnya telah membawa tantangan tersendiri. Aturan mainnya pun sederhana, “siapa kuat dia yang bertahan”. Namun ironisnya, dalam sistem kapitalisasi ekonomi dunia saat ini, negara-negara maju yang hanya berjumlah kurang dari dua puluh persen menikmati delapan puluh persen kekayaan alam di dunia ini dan sisanya diperebutkan oleh negara-negara miskin dan berkembang. Tantangan-tantangan seperti inilah yang harus terus menerus dipikirkan oleh kaum muda dan dijadikan sebagai cambuk untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik. John F. Kennedy (1961) pernah menyeru kepada rakyat Amerika, “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country”. Pernyataan ini juga yang harus ditanyakan oleh setiap pemuda Indonesia kepada dirinya sendiri pada sekarang ini untuk memikirkan apa yang seharusnya bisa diberikan kepada bangsa dan negara ini, bukan sebaliknya.
Mari, sekaranglah saatnya bersama kita bangkit dari kelalaian dan kelengahan kita selama ini dengan cara meninggalkan segala perdebatan yang tidak bermanfaat. Sekarang saatnya bagi kaum muda untuk menyingsingkan lengan baju bersama dan merebut kepemimpinan nasional dengan elegan dan integritas yang tinggi. Tahun 2008, bertepatan dengan seratus tahun kebangkitan nasional, adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali mengobarkan semangat kepemudaan dan mengembalikan semua kebanggaan yang telah luntur sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia. (benny okva della)
|