|
Sebait tembang anyar ‘Sarjana Muda’ milik Iwan Fals di era ’80-an itu
seperti tak pernah keliru melukiskan masa-masa sulit para pencari
kerja. Berbekal ijazah Diploma III, belum menjamin diterima bekerja
saat menamatkan pendidikan. Waktu tiga tahun—bahkan lebih—untuk
menyelesaikan kuliah, menyisakan kepanikan dan kesulitan untuk mencari
lowongan.
Hampir setiap hari, media cetak lokal maupun nasional, menerbitkan informasi lowongan kerja bagi tamatan D III dan S1. Hanya saja, jumlah lowongan yang tersedia tak cukup untuk menampung mereka. Dengan bekal keahlian dan keterampilan yang dimiliki, mereka terkesan tak mampu menghadapi kejamnya dunia kerja. Dari tahun ke tahun, perguruan tinggi negeri/swasta melahirkan jumlah lulusan yang tak sedikit.
Konsep link and match pun terasa terpinggirkan bila dibandingkan dengan seberapa besar dunia kerja mampu menyerap lulusan Perguruan Tinggi (PT). Alhasil, tak sedikit dari mereka-mereka yang dipersiapkan universitas sebagai tenaga profesional di bidangnya memegang status ‘pengangguran’ di masyarakat. Peluh dan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan gelar hanya menjadi pengorbanan semata. Memang, tidak semua tamatan PT gagal dalam dunia kerja. Tidak sedikit dari lulusan D III yang bekerja di kantor-kantor swasta maupun pemerintah. Tapi, angka tersebut tak sebanding dengan jumlah tamatan yang berstatus menganggur.
Helatan ‘job fair’ beberapa waktu lalu di halaman samping Kantor Gubernur Sumbar di jalan Sudirman, ribuan pencari kerja membanjiri even tersebut. Tercatat sebanyak 5645 pencaker mencari peruntungan di arena ‘job fair’ yang menyediakan 6736 lowongan perkerjaan yang disediakan. Jumlah pencaker terbanyak didominasi kalangan terdidik. Sekitar 59 persen merupakan lulusan Sarjana; 19 persen tamatan D-1 hingga D-3; sekitar 26 persen tamatan SLTA sederajat. Ironisnya, hanya 2531 lowongan kerja yang diminati para pencari kerja. Miris memang bila berkaca pada Job Fair kemarin. Angka pencari kerja tertinggi justru terjadi di kalangan sarjana. Tentunya angka sarjana tersebut terus meningkat karena rata-rata dalam setahun perguruan tinggi melaksanakan dua kali wisuda. Menurut data dari perguruan tinggi di Sumbar, sekitar 10 ribu sarjana dicetak setiap tahunnya. Secara nasional, menurut data Departemen Pendidikan Nasional tahun 2007, perguruan tinggi di Tanah Air melahirkan 350 ribu sarjana. Di Kota Padang, sebanyak 8000 sarjana yang tercatat sebagai pencari kerja/penganggur.
Dedi Ilyas, lulusan Diploma III salah satu perguruan tinggi negeri di Padang mengaku, lebih memilih berwiraswasta ketimbang memasuki lamaran. Laki-laki yang pernah bekerja di salah satu kantor suasta di Padang tersebut enggan untuk bergerilya dari kantor ke kantor untuk mendapatkan pekerjaan. “Sudah cukuplah pengalaman mencari lowongan kerja, kalau cukup modal pengennya buka usaha sendiri,” ujarnya. Saat ini ia memilih mengelola usaha temannya dengan membuka boutiqe pakaian di jalan A Yani. Hal senada juga diungkapkan Zal. Tamatan Diploma III Teknik di PTS tersebut mengaku, kesulitan mendapatkan perkerjaan saat ini. Sempat berpindah-pindah pekerjaan, ia pun terlihat menyerah untuk mencari pekerjaan baru. Faktor usia yang sudah melewati standar perusahaan, membuatnya memikir otak untuk memulai usaha. “Sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai,” akunya.
Potret sukses tamatan perguruan tinggi menggeluti dunia usaha cukup banyak. Bila hanya mengandalkan ijazah untuk mendapatkan perkerjaan, tentunya bukan hal yang tepat untuk era saat ini. Jiwa wirausaha yang mestinya dikembangkan di kalangan lulusan perguruan tinggi. “Tidak perlu menunggu modal banyak, mulai dengan modal seadanya.Yang terpenting itu target dan kerja keras,” aku Zuhrizul, tamatan Diploma III yang suskes dengan usaha biro perjalanannya. Ia mengaku, memulai usaha tersebut saat menerima beasiswa Dikti sebesar Rp 500 ribu. Modal tersebut yang dipertaruhkannya hingga berkembang menjadi perusahaan yang beromset milyaran rupiah per tahun. Menurutnya, pengalaman wirausaha didapatkannya saat aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Kepala Disnakertrans Sumbar Zul Evi Astar, pada wartawan mengaku, rendahnya daya serap lowongan kerja yang disediakan pemerintah dalam job fair kemarin disebabkan karena pencaker terkesan pilih-pilih pekerjaan. Selain itu, minimnya pengalaman pencaker menyulitkan mereka untuk mengisi posisi-posisi bagus yang ditawarkan perusahaan. Tentunya, kenyataan tersebut menjadi pekerjaan besar bagi perguruan tinggi dan Disnakertrans untuk mensiasati program link and match untuk menyerap lulusan perguruan tinggi. Hindari sikap lepas tanggung jawab dari dua lembaga tersebut. Perguruan tinggi tidak bisa lepas tangan begitu saja setelah mahasiswa menamatkan sarjana. Bekali mereka dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau, paling tidak ajari mereka tentang jiwa enterpreneurship (wirausaha). (**)
|