Saat ini ada 3 tamu online
Avian Influenza Jangkiti Unggas, Seribu Ekor Dimusnahkan pdf  | cetak |
Sabtu, 28 Juni 2008
ImagePetugas dari Dinas Pertanian Bukiktinggi, tengah menyulut api sebelum membakar sekitar seribu puyuh, yang terjangkit virus H5N1 kemarin. Selain itu, juga dimusnahkan beberapa ekor unggas warga. Hewan yang dimusnahkan itu, diserahkan secara sukarela oleh masyarakat dalam radios 100 meter.

BUKIKTINGGI, METRO-- Seribu ekor lebih ternak telah dimusnahkan Dinas Pertanian Bukiktinggi. Pemusnahan sejak 21 Juni lalu itu, diantaranya dilakukan pada ternak puyuh, ayam dan burung peliharaan yang ada di radius 100 meter di Jalan Angku Basa, Puhun Tembok, Kecamatan Mandiangin Koto Salayan (MKS). Pemusnahan dilakukan, karena ditemukannya unggas mati mendadak di dekat sebuah peternakan puyuh petelur. “Hasil pemeriksaan melalui rapid test sampel ternak unggas warga Puhun Tembok ini, dinyatakan positif mengidap virus flu burung H5NI (avian influenza/AI). Sesuai standar prosedur penanganan flu burung, maka daerah tersebut harus segera disterilkan.

Sedangkan seluruh ternak yang ada, harus dimusnahkan dengan jalan membakar dan kemudian menimbunnya,” jelas seorang anggota tim pemusnahan dari Dinas Pertanian drh Elvi Silvia, Jumat (28/6). Petugas yang seluruh badannya telah dibungkus baju berbahan plastik berwarna putih, sekitar pukul 16.00 WIB terlihat mulai memotong unggas-unggas tersebut. Setelah dipotong, unggas tersebut dimasukan ke dalam lobang. Dari dalam lobang itu, unggas-unggas tersebut kemudian dibakar untuk kemudian ditutup dengan tanah.

Pemusnahan kemarin, diawasi secara ketat oleh sebuah tim dari Dinas Pertanian. Bahkan, untuk menjaga agar virus tadi tidak menyebar kepada manusia atau petugas yang melakukan pemusnahan, berbagai peralatan steril dipergunakan petugas, mulai dari masker hingga jubah plastik kedap udara. Bahkan, petugas juga melakukan penyemprotan pada titik-titik tertentu, yang dianggap rawan ditulari virus flu burung tadi. Termasuk, pada pakaian yang dugunakan masyarakat ketika dilakukan pemusnahan.

Pemusnahan paling banyak (sekitar 1.000 ekor, red) yakni ternak puyuh petelor (produktif) milik Alrober (25). Unggas itu, dipelihara dalam kandang tertutup, tidak jauh dari lokasi ditemukannya unggas yang mati pertama kali. Menurut Rober, sampai dilakukannya pemusnahan, ternak puyuhnya tidak ada yang mati mendadak. Namun karena adanya kasus unggas mati mendadak disekitar peternakannya, dia secara sukarela menyerahkan untuk dimusnahkan, demi menjaga lingkungan dari bahaya flu burung termasuk demi keselamatan diri dan keluarganya.

Selain itu, belasan ekor ternak ayam serta burung peliharaan milik warga disekitar lokasi pemusnahan, juga ikut dibakar dan dikubur secara sukarela pemiliknya. Hal itu dilakukan masyarakat, setelah dihimbau oleh petugas Dinas Pertanian. Saat pemusnahan itu, petugas tidak mengizinkan masyarakat yang tidak menggunakan pakaian steril untuk mendekat. Sementara, petugas menghitung satu persatu unggas yang dimusnahkan sebelum dikubur kedalam lubang seluas satu meter persegi di pandam pekuburan daerah itu.

“Selain itu, terdapat lima kepala keluarga disekitar lokasi pemusnahan dan penemuan unggas mati mendadak, yang menyerahkan ternak mereka kepada petugas. Tindakan itu dilakukan warga setelah dihimbau oleh petugas, dan langsung dibakar serta dikubur dilokasi yang ditentukan. Jika merujuk kepada rapid test, maka pemusnahan dilakukan pada radius hingga 100 meter. Tapi, jika telah keluar hasil dari pemeriksaan Labor Veteriner, maka pemusnahan harus dilakukan pada radius hingga 1 kilometer,” tandas Elvi Silvia. (wan)

Petugas Pemusnah Seperti Astronot

Merebaknya virus flu burung di sekitar kawasan Jalan Angku Basa, Puhun Tembok, membuat masyarakat sekitar tempat itu panik. Apalagi, satu persatu ayam milik salah satu warganya Dt Payuang Ameh, terus saja mati secara mendadak dalam sepekan terakhir. Kemudian, diikuti dengan mulai tak sehatnya kondisi seribu ekor puyuh milik Alrober, yang berada tidak jauh dari lokasi rumah Dt Payuang Ameh.

Begitu enam orang petugas Dinas Pertanian ke lokasi itu, langsung disambut masyarakat dengan respon hangat. Ditengah petugas mempersiapkan peralatan dan mengenakan pakaian untuk melindungi diri dari dijangkiti flu burung, satu per satu masyarakat mulai berdatangan mengantarkan ternaknya yang akan dimusnahkan.Sementara, sebagian masyarakat lainnya mulai menggali lobang berdiameter satu meter persegi dengan kedalaman sekitar satu setengah meter, sebagai tempat pembakaran unggas yang sudah positif terjangkit flu burung. Lobang itu digali, di dekat pandam pekuburan salah satu keluarga di Jalan Angku Basa. Setelah persiapan tuntas, unggas warga yang telah berada di dalam kantong plastik itu dalam kondisi sudah mati, segera dilakukan langkah-langkah pemusnahan.

“Walaupun hati saya terasa berat untuk memusnahkannya, puyuh namun saya harus merelakan seribu ekor puyuh ini. Hal ini demi keselamatan saya dan masyarakat lainnya,” terang pemilik puyuh Alrober. Begitu unggas dalam karung dan burung yang masih ada dalam sangkarnya diletakkan sekitar lobang pemusnahan, petugas yang sudah memakai pakaian lengkap berwarna putih—semua seperti berpakaian ala astronot—, dengan pasti dan percaya diri mulai menghitung satu persatu unggas yang akan dimusnahkan. Sejurus kemudian, langsung memasukkan dalam lobang. Bagi unggas yang masih hidup, petugas melakukan penyembelihan terlebih dahulu.

Ketika petugas mulai menghitung tersebut, masyarakat yang menggunakan masker yang dibagikan petugas maupun yang tidak mengenakan, tidak berani mendekat ke lobang tempat pemusnahan. Prosesi penusnahan semuanya dilakukan oleh petugas, tanpa diizinkan seorangpun dari masyarakat untuk membantu. Mulai dari pemotongan unggas yang masih hidup, sampai menyiram minyak tanah yang sudah dipersiapkan serta menyulut api membakar unggas ke dalam lobang. Sementara itu salah seorang petugas lainnya, mulai menetralisir lokasi dengan menyemprot lokasi sekitar pembakaran. (*)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

PDAM Dinilai Langgar Prosedur, Azhar: BPKP Telah Mengaudit

11.10.2008 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO-- Anggota DPRD Kota Padang menilai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, tidak profesional dalam melaporkan…



advert-4.jpg

indosat.gif