|
Narkoba yang disebut narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif
lainnya—atau dikenal NAPZA merupakan masalahglobal yang dapat merusak
dan mengancam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Tiap tahun
kasus Narkoba di Indonesia makin meningkat. Hal itu diikuti dengan
peningkatan kasus Narkoba ini berimbas pada menyebarnya HIV/AIDS.
Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif atau biasa disebut Narkoba seolah-olah tidak bisa lepas dari HIV/AIDS. Rasa ketagihan, keracunan, dan ketergantungan—mental ataupun fisik—yang akhirnya menyebabkan kematian. Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang diperingati setiap tanggal 26 Juni merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memberantas Narkoba. Dalam setiap peringatan HANI selalu ditandai dengan pemusnahan barang bukti (BB) berupa minuman keras, putau, dan zat adiktif lainya.
Narkoba sekarang menjadi suatu ancaman yang sangat serius bagi bangsa dan generasi muda. Banyak diantara generasi muda yang telah terjerumus dalam dunia hitam dan melakukan tindak kriminalitas akibat pengaruh negatif dari mengkonsumsi Narkoba. Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Sumbar Prof Marlis Rahman MSc menyebutkan, Sumbar merupakan urutan ke-12 di Indonesia, dalam pengungkapan penyalahgunaan Narkoba. Diperlukan peran serta masyarakat dalam memberantas penyalahgunaan Narkoba.
“Memberantas penyalahgunaan Narkoba tidak saja tugas dan tanggungjawab polisi. Tapi, adalah tanggungjawab semua pihak yakni, guru, orang tua, serta tokoh masyarakat,” ujar Marlis Rahman usai peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Bukiktinggi beberapa waktu lalu. Dikatakannya, peringatan HANI setiap tanggal 26 Juni, merupakan momentum dalam menyamakan visi internasional dalam mengatasi masalah Narkoba. Salah satu hal yang perlu dipahami bersama yaitu peredaran dan penyalahgunaan Narkoba akan sangat bersentuhan dengan kekuatan raksasa transnasional,” tukasnya.
Iseng dan ketagihan
Makin tingginya kasus Narkoba di kalangan anak muda saat ini karena berbagai alasan. Salah satunya, berawal dari ditawari Narkoba oleh seorang teman. Atau karena penasaran, terutama jika mereka mempunyai teman yang menggunakan obat-obatan terlarang tersebut atau mungkin juga mereka menjadi pengguna karena merasa tertekan.
Marlis Rahman yang juga Wakil Gubernur Sumbar ketika dihubungi POSMETRO, Sabtu (28/6) menyebutkan keinginan memakai drugs dan obat-obatan di kalangan remaja lebih disebabkan ingin lari dari masalah yang mereka hadapi. Atau remaja yang masih labil dengan jati dirinya.
“Sangat penting mencari tahu apa masalah yang sedang dihadapi oleh anak-anak. Acapkali masalah di rumah seperti ketidakpedulian orang tua, tekanan dari orangtua atau ketidakmampuan sang anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah bisa menjadi pemicu sang anak menggunakan arkoba,” ulas mantan Rektor Unand. Selain itu, pemicu lain yang menyebabkan anak-anak remaja mengkonsumsi narkoba katanya, keinginan bersenang-senang dan ingin diterima dalam lingkungan sosial—istilah anak muda sekarang tidak gaul jika tidak mencicipi narkoba.
Penyalahgunaan dan peredaran Narkoba, jelasnya, akan selalu mengalami peningkatan yang mencemaskan dari waktu ke waktu. “Narkoba bukan masalah hari ini, tapi menyangkut nasib masa depan bangsa. Untuk itu, menciptakan solusi yang tepat dengan pola penanggulangan yang efektif semua lapisan dituntut untuk turut aktif mengatasinya,” ujarnya. Marlis mengajak masyarakat dalam memerangi Narkoba, dengan cara melaksanakan beberapa hal yaitu, tingkatkan berbagai upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk menghargai eksistensi dirinya sebagai masyarakat yang memiliki budaya dan agama, yang melarang keras penyalahgunaan narkoba. (reni/hamriadi)
|