|
Biaya energi terus menghantui para pelaku usaha, tak terkecuali di
industri semen. Batu bara yang semula dijadikan alternatif terus
melambung harganya sebagai konsekuensi sebagai barang substitusi minyak
yang juga kian menanjak harganya.
Dirut PT Semen Gresik Tbk Dwi Soetjipto mengatakan, biaya energi berkontribusi sekitar 32 persen dari total ongkos produksi di pabriknya. ”Mayoritas (biaya energi) habis untuk batu bara,” ujarnya di Jakarta kemarin. Jika diturunkan, 32 persen biaya energi itu masing-masing adalah untuk kebutuhan listrik 14 persen dan batu bara 18 persen. Mengantisipasi kenaikan harga batu bara, perseroan akan mengonversi batu bara yang selama digunakan diganti dengan yang kualitasnya lebih rendah. Selain itu, penggunaan energi alternatif juga terus berupaya dilakukan.
”Ini (pemakaian energi alternatif, Red) sudah dimulai di pabrik Tuban sejak 21 Juni,” ujarnya. Bahan bakar alternatif yang dipakai, antara lain, limbah dari pertanian dan limbah industri. SMGR beberapa tahun terakhir ini juga sudah membentuk task force yang khusus mencari jalan alternatif agar biaya energi bisa dikoreksi, dari semula 44 persen menjadi 30 persen. Hingga Mei 2008, sales SMGR naik 12,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dari 6,5 juta ton menjadi 7,3 juta ton. Dengan penjualan mencapai Rp 1,53 triliun, laba usaha pemimpin pasar industri semen nasional itu mencapai Rp 322 miliar, naik 51 persen dibandingkan Mei 2007.
Secara terpisah, Relationship Management Director PT Holcim Indonesia Tbk Rusli Setiawan menyatakan, mahalnya batu bara membuat beban biaya energi di pabrikan semen semakin berat. ”Kenaikan biaya energi akan menjadi driver kenaikan harga semen,” ujarnya. Di pabriknya, biaya energi juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap total biaya produksi. ”Kontribusinya sekitar 40 persen,” ujarnya. Karena itu, pihaknya kini kian giat melancarkan berbagai upaya untuk mencari energi alternatif. ”Kita sekarang sudah berusaha memakai energi alternatif berupa tanaman sekampadi dan serbuk gergaji,” terangnya.
Upaya mencari energi alternatif juga dilakukan pabrikan terbesar kedua di industri semen, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), yang kini tengah melirik bahan bakar berbahan dasar tanaman jarak. Sementara itu, konsumsi semen domestik sepanjang Mei 2008 naik 22,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Konsumsi semen tumbuh dari 2,91 juta ton menjadi 3,56 juta ton. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyebutkan, permintaan konsumsi semen tertinggi pada Mei dicatat oleh Nusa Tenggara, yaitu sebesar 51 persen. Kemudian, disusul Sulawesi 46 persen. Dari sisi volume, Jawa masih menjadi penyerap semen terbesar, yaitu 56,8 persen dari total konsumsi.
Meski pada awal tahun sempat memasang target moderat, baik Dwi maupun Rusli kini sama-sama masih optimistis growth semen akan terus meningkat. ”Mungkin growth-nya lebih baik dari tahun lalu,” ujar Dwi. Rusli menyatakan, melihat kinerja penjualan hingga Mei, pihaknya tetap optimistis mampu terus meningkatkan volume sales. ”Konsumsi masih kuat. Sentimen kenaikan harga membuat konsumen buru-buru membeli semen. Kita sendiri menargetkan mampu menguasai market share khusus Jawa sebesar 23 persen,” terangnya. (jpnn)
|