|
Terus Berupaya Agar Anak Bisa Sekolah, Berhutang pun Saya Mau |
pdf
|
| cetak |
|
|
Minggu, 29 Juni 2008 |
|
Setiap tahun ajaran baru datang, Wirdawati (45), warga Kelurahan
Parupuak Tabiang pasti merasah resah. Mengapa tidak, sudah terbayang
lembaran-lembaran rupiah yang harus di usahakannya untuk membeli
peralatan sekolah ke-3 anaknya.Namun pada tahun ajaran baru sekarang,
keresahan yang dirasakan Wirdawati kian mendesak. Kalau dulu dia hanya
memikirkan baju serta buku untuk anaknya yang bersekolah di Sekolah
Dasar dan SMP.
Tapi seiring bergantinya tahun, sekarang ke-3 anaknya sudah mau melanjutkan sekolah. Dua anaknya yang SD sudah mau mendaki jenjang pendidikan ke tingkat SMP dan yang anak pertamanya juga sudah mau masuk SMA. “Mau bagaimana lagi nak, sudah takdir. Walau bagaimanapun anak-anak harus melanjutkan sekolahnya. Saya akan berusaha untuk mencarikan dana. Berhutangpun saya mau asal anak-anak sekolah,”terang Wirdati. Tapi Wirdawati sedikit lega, karena anak-anaknya yang mau masuk SMP tak lagi harus membayar uang “pangkal” seperti beberapa tahun belakangan. Sekarang dia fokus untuk mencarikan dana pembangunan yang nantinya diminta pihak sekolah anaknya yang pertama.
“Untunglah sekarang untuk masuk SMP tidak lagi mengeluarkan dana yang banyak. Sejak pemerintah memperlakukan bantuan dana bagi anak SMP. Kalau tidak ada bantuan demikian entah bagaimana nasib anak-anak saya. Mungkin mereka terpaksa berhenti untuk sementara. Kini saya bisa fokus untuk mencarikan dana bagi anak pertama saya yang mau masuk SMA. Tapi mau tidak mau, saya harus menyisipkan dana ekstra. Mana tahu nanti di tengah jalan SMP yang jadi tujuan anak saya menerapkan dana awal untuk pembayaran ini itu,”ulas Wirdawati sedikit ragu.
Lain dengan Wirdati, Suriati (40) yang juga warga Parupuak Tabiang terlihat tenang. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan dana untuk keperluan anak-anaknya yang akan masuk ke SD dan SMP. “Saya tidak ragu lagi karena baju dan buku untuk ke-dua anak saya sudah ada. Lagian masuk sekolah SD dan SMP kan sekarang tidak dipungut biaya. Tapi sama dengan buk Ati (Wirdati) saya juga menyediakan dana ekstra untuk mewanti-wanti kalau nanti sekolah mintak uang untuk pembangunan. Saya harap semua itu tidak akan ada. Untuk makan sehari-hari saja sekarang sudah payah nak,”celoteh Suriati kepada Tim Telusur, ketika ditemui di kediamannya, Kamis (26/6). (*)
|
|
|
|
28.09.2008
SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…
11.10.2008 | Metro Padang
SAWAHAN, METRO-- Anggota DPRD Kota Padang menilai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, tidak profesional dalam melaporkan…
|
|