|
Warga Harus “Paksa” Anak Sekolah |
pdf
|
| cetak |
|
|
Senin, 30 Juni 2008 |
|
KOTO BARU, METRO-- Guna menekan angka putus sekolah sekaligus
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Solok,
pemerintah daerah selain melakukan terobosan dengan mendirikan sekolah
satu atap di daerah tertentu, juga mengharapkan agar seluruh warga
masyarakat dapat “memaksa” anaknya untuk tetap bersekolah di tempat
yang telah disediakan.
Salah satu cara pemerintah untuk “memaksa” warga untuk menyekolahkan anaknya tersebut adalah dengan jalan menerapkan kebijakan yang tidak memberatkan orang tua pada saat tahun ajaran baru masuk. Tak sekadar himbauan, Dinas Pendidikan Kabupaten Solok pun akan memantau secara langsung proses penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang ada.
“Pemerintah hanya bisa menghimbau dan berharap agar masyarakat dapat memaksa anak atau kemenakan mereka bersekolah. Untuk keperluan itu, pemerintah telah membangun sejumlah sarana pendidikan baru. Walaupun ada yang bernama sekolah satu atap, percayalah mutu dan kualitasnya tetap bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu, kami minta agar tidak ada masyarakat yang membiarkan anaknya tidak bersekolah,” ucap Kadis Pendidikan Kabupaten Solok H Naspi Dt Mudo Nan Itam SH MM kepada POSMETRO di Kotobaru, Minggu (29/6) kemarin. Seandainya masih ada anak usia sekolah yang tidak melanjutkan sekolahnya atau putus sekolah karena berbagai alasan, diharapkan tokoh masyarakat atau aparatur pemerintahan nagari setempat untuk dapat melaporkannya kepada pemerintah daerah.
“Meski angka putus sekolah di Kabupaten Solok sudah rendah, namun kita berupaya agar angka tersebut terus menurun dan kalau bisa mencapai angka nol. Untuk mewujudkannya tentu tidak mudah, karena membutuhkan koordinasi dengan semua pihak,” ujarnya. Apa yang diutarakan Kadis Pendidikan itu, memang sejalan dengan kebijakan yang diterapkan Pemkab Solok. Bahkan Bupati Solok H Gusmal Dt Rajo Lelo SE MM yang dalam berbagai kesempatan selalu saja mengajak masyarakatnya untuk berani berinvestasi di bidang pendidikan bagi anaknya. Pola pikir masyarakat yang masih beranggapan bahwa sekolah tidak menjamin suatu pekerjaan nantinya harus diperangi.
Sebab menurut Gusmal, tingkat pendidikan seseorang, sangat menentukan pola hidup dan kualitas masyarakat itu sendiri. Memang bersekolah tidak sepenuhnya menjamin suatu pekerjaan bagi masyarakat, akan tetapi dengan pendidikan masyarakat diharapkan dapat mandiri dan membuka lapangan kerja sendiri. Menyadari begitu pentingnya pendidikan terhadap kualitas masyarakat, Pemkab Solok terus memerangi angka putus sekolah di daerahnya. Bahkan untuk yang satu ini, Pemkab Solok menerapkan sistim jemput bola ke tengah-tengah masyarakat agar angka putus sekolah dapat ditekan serendah mungkin. (e)
|
|
|
|
06.09.2008
JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…
06.09.2008 | Metro Padang
Mulai 10 September, Pemadaman 3 Jam Saja SAWAHAN, METRO-- Semakin gencarnya keluhan masyarakat sekaitan dengan kebijakan pemadaman…
|
|