Saat ini ada 4 tamu online
Potret Penjual Bungo Rampai pdf  | cetak |
Kamis, 03 Juli 2008
Walau Susah, Tak Tertarik BLT
Hidup adalah perjuangan dan juga perkelahian. Seiring dengan perguliran waktu, susah dan senang adalah sesuatu yang pasti ditemui dalam sebuah kehidupan. Perkara mampu atau tidaknya seseorang menghadapinya, jawabannya berpulang kepada kesiapan mental orang bersangkutan untuk mejalaninya.
Begitulah prinsip yang tertanam dalam diri lelaki paroh baya bernama Bujang (57) yang telah menjalani profesinya sebagai penjual Bungo Rampai semenjak tahun 60-an di komplek Pasar Raya Padang. Meskipun hidupnya masih bagaikan gali lobang tutup lobang, namun dari hari ke hari ia selalu melakukannya dengan penuh semangat dan apa adanya. Kerasnya kehidupan di Pasar Raya Padang dan naiknya harga kebutuhan sehingga mulai mencekik urek mariah, tidak mampu menyurtkan langkah pria yang seluruh rambutnya masih hitam ini.

“Ambo yo bantuak iko satiok hari. Walau mode iko, tapi ambo indak ingin mambabankannyo ka urang lain. Ambo masih kuek,” tutur Pak Tua ini saat disapa POSMETRO, Rabu (2/7). Kalau dikaji secara mendalam, berdagang Bungo Rampai adalah perkerjaan yang memiliki resiko yang cukup besar. Sebab objek yang dijual hanya bisa bertahan satu hari saja. Kalau tidak terjual, terpaksa dibuang karna besoknya akan layu. Selain itu, Bungo Rampai hanya diburu pembeli menjelang puasa atau balimau saja. Sedangkan pada hari biasa, omzetnya tidak pernah tetap.

Hasil penjualan tersebut, memang tak bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Kendatipun demikian, Bujang tidak pernah kehilangan akal. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia mencari sampingan sebagai kuli barang kalau pembeli sepi. Sementara di tempat tinggalnya, Bujang menekuni profesi sebagai tukang ojek saat malam datang. Kondisi kehidupan yang jauh dari memuaskan, tak pernah menyurutkan tekad Bujang untuk bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, kepada istrinya, Bujang memesankan benar agar mengurus anak secara baik agar di kemudian hari kelak bisa menjadi orang yang berguna.

“ Ambo ingin anak-anak manjadi urang. Ambo marasai alah biaso, nan paralu anak-anak jan sarupo iko pulo,” tuturnya berharap.  Ketika orang-orang memperebutkan Bantuan Lansung Tunai (BLT) yang diprogramkan pemerintah, sehingga rela berdesak-desakan bahkan tak sedikit yang berbuntut kepada aksi ujuk rasa dan kerusuhan, Bujang malah tak tertarik sama sekali.  “Bialah urang lain nan manarimo, ambo indak berhak samo sakali. Kok tulang lapan karek ko kuaik, ranacklah awak bausaho,” ungkapnya beralasan.(***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Gaya Rambut 2009

20.11.2008 | Metro Gaya

GAYA potongan maupun pewarnaan rambut yang dipilih dapat membangun karakter dan imej seseorang, pun demikian dengan kaum pekerja.…

peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Catatan Bapedalda Kota Padang, Batang Arau Paling Parah Tercemar

20.11.2008 | Metro Padang

SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…



advert-4.jpg

indosat.gif