Saat ini ada 2 tamu online
Durian Membawa Perubahan pdf  | cetak |
Jumat, 04 Juli 2008
Matahari baru saja terbenam. Kegelapan mulai menyelimuti seantereo jagat. Tapi semua itu tak jadi alasan bagi Mardi (42), warga Tarusan, Kabupaten Pasisia Selatan untuk menunda pekerjaan. Dengan telaten, bapak tiga anak tersebut menyusun satu persatu buah durian yang dijualnya di sepanjang trotoar Jalan Sisingamangraja, Padang.
Pekerjaan sebagai penjual buah berduri nan beraroma menusuk hidung ini, ternyata telah dilakoni Mardi semenjak tiga minggu belakangan.  Keinginan untuk merubah nasiblah yang menyeret Mardi hingga sampai ke Padang. Mardi yang dulunya petani, adalah contoh hidup warga perkampungan. Tinggal di kaki bukit dengan kondisi rumah beratap rumbia dan dinding berbilik bambu.

“Dulunya saya adalah petani nak. Tinggal di kaki bukit. Punya anak tiga dan tinggal di dangau beratap rumbia. Setiap harinya, sebelum durian berbuah, saya bekerja sebagai pengolah sawah orang lain. Dengan upah tak seberapa. Hanya cukup untuk “ngepulin asap” dapur sehari. Tapi sejak musim durian datang, saya pun mencoba peruntungan untuk menjual buah berduri ini. Hasilnya lumayan, dalam semalam saya bisa meraup omset sekitar dua juta rupiah,” celoteh bapak berkopiah hitam itu  kepada penulis, Kamis (3/6).

Menurut Mardi, saat ini durian seakan tumpah ruah di kampungnya, Tarusan. Biasanya, seiring musim durian, kehidupan warga kampungnya sedikit lebih baik. Seakan durian adalah buah pembawa berkah. Karena hasil dari menjual durian dalam semalamnya bisa berpuluh kali lipat dari hasil yang didapatnya sebagai petani di Tarusan selama ini. Tapi, biaya untuk merawat batang durian tak pula sedikit. Dimana, semenjak durian berbunga, perawatan ekstra sudah dilakukan.

Mardi dan warga lainnya pun melakukan garo (perawatan pada batang durian agar bunga tidak rontok). Hingga durian “buang busuk” perawatan pun terus dilakukan. Sedangkan untuk mengangkut buah durian dari Tarusan ke Padang, Mardi harus menyewa truk dengan tarif Rp 1000 per durian yang dibawanya. “Manggaro adalah faktor yang penting agar buah durian tidak rontok. Contohnya memberi pupuk kandang di sekitar batang durian. Biayanya tak sedikit, tapi tak apalah. Toh untungnya berlipat. Kalaupun tidak digaro, nantinya buah durian kurang enak dan banyak yang jatuh sebelum masak,” ulas Mardi.

Sekitar 50 penjaja durian setiap malamnya tumplek memadati Jalan Sisingamangraja. Walaupun menggangu, tapi pada kenyataannya warga Kota Padang merasa bahagia dengan hadirnya para pedagang tersebut. Namun, seiring menumpuknya penjual durian di Jalan Sisingamangaraja. Arus lalu lintas pun sedikit tertanggu karena hampir setengah badan jalan terpakai pedagang untuk menggelar dagangannya. Kondisi tersebut ditakutkan nantinya menimbulkan kecelakaan lalulintas.

Tidak hanya penjual yang mendapat berkah buah berduri itu, pemuda yang tinggal di sekitar Jalan Sisingamangraja pun kebagian rezki. Dimana selama pasar durian ada, para pemuda menawarkan jasa sebagai penjaga kendaraan atau tukang parkir. Dengan mengutip Rp 1000 per kendaraan. “Kan lumayan, semalam saja kami kadang bisa mendapat Rp 50.000. Dari pada nongkrong tak tahu arah, lebih baik begini. Kami juga tidak memaksa untuk diberi uang,” terang Eri Kasui (22) sembari mengatur parkir bersama tiga orang temannya.(***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Tetap Cantik dengan Blazer

11.10.2008 | Metro Gaya

Blazer dan wanita karir, sudah seperti satu kesatuan dalam hidup keseharian. Bagi wanita karir yang bekerja di perkantoran…

peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

PDAM Dinilai Langgar Prosedur, Azhar: BPKP Telah Mengaudit

11.10.2008 | Metro Padang

SAWAHAN, METRO-- Anggota DPRD Kota Padang menilai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang, tidak profesional dalam melaporkan…



advert-4.jpg

indosat.gif