|
Fenomena PSB Online 2007/2008, Pakaian Gaul dan Merokok |
pdf
|
| cetak |
|
|
Jumat, 04 Juli 2008 |
|
SUDIRMAN, METRO-- Ada fenomena menarik saat Pendaftaran Siswa
Baru (PSB) online tahun ajaran 2007/2008. Remaja putri berusia belasan
tahun berbondong-bondong datang ke sekolah—SMA 1 Padang, SMA 2 Padang,
SMK 3 Padang, SMP 1 Padang— dan sekolah lainnya tempat pendaftaran PSB
online.
Remaja putri yang baru menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut tidak menggunakan jilbab, berpakaian ketat dan merokok. Sesuai dengan peraturan walikota, siswa putri (muslim) diwajibkan memakai jilbab di sekolah. Namun kenyataan di lapangan siswa putri yang datang ke sekolah untuk mendaftar tidak mengenakan jilbab.
Yang menyedihkan lagi siswa putri ada yang mengenakan celana pendek (ukuran hingga lutut), rok pendek (ukuran hingga lutut). Siswa yang datang bersama-sama teman-temannya tersebut sangat bergaya ala anak baru gede (ABG)—sesuai dengan umur mereka yang rata-rata berusia 14-15 tahun.
Dari pantauan POSMETRO sejak Rabu (2/7) dan Kamis (3/7), siswa—putra dan putri—datang ke sekolah dengan segala atribut anak muda. Malah siswa putra seenaknya merokok di lingkungan sekolah. Pemandangan itu bisa ditemui saat pendaftaran PSB online. “Sekarang kan belum sekolah kak, hanya pendaftaran. Tidak ada larangannya kok harus pakai jilbab. Biasanya sehari-hari juga tidak pakai. Hanya ke sekolah aja pakai jilbab,” ujar Fitri pelajar salah satu siswa SMP di Padang yang sedang mendaftar.
Jawaban dari siswa tersebut sungguh menyedihkan. Meskipun sekolah telah menyuruh memakai jilbab tapi kesadaran dari dalam diri siswa belum muncul. Menurut mereka jilbab hanya sekedar kewajiban yang harus dipatuhi ketika di sekolah. “Sebenarnya mau juga sih pakai jilbab ke sekolah. Tapi karena sehari-hari tidak berjilbab jadi malas aja. Teman-teman yang lain juga enggak ada yang makai,” kata Dwi bersama teman-temannya ketika mendaftar di SMA 1 Padang.
Wakil Kepala Sekolah SMA 1 Padang bidang Kesiswaan Drs Ramadhansyah sendiri tidak memungkiri fenomena siswa-siswa yang mendaftar ke SMA 1 Padang yang membuka jilbab, pakaian ketat dan merokok di lingkungan sekolah. “Pihak sekolah telah menghimbau kepada calon siswa yang mendaftar di SMA 1 Padang untuk berpakaian rapi dan tidak merokok. Tapi himbauan itu tidak diindahkan,” kata Ramadhansyah. “Saya dan guru-guru tentu tidak bisa mengusir mereka hanya karena alasan tidak pakai jilbab. Karena mereka belum siswa SMA 1 Padang. Kalau siswa SMA 1 wajib memakai jilbab di sekolah,” tambahnya.
Calon siswa yang datang ke sekolah, kata Ramadhansyah bahkan dengan bangganya memperlihatkan rambut yang dicat warna-warni, rambut rebonding. Hal tersebut mencerminkan siswa yang menjadi korban sinetron-sinetron bertema remaja di televisi. “Kita akan selalu mengingatkan siswa untuk berpakaian sopan datang ke sekolah dan tidak merokok di lingkungan sekolah. Bagaimanapun sebagai pendidik kita ingin anak-anak yang akan masuk di SMA 1 atau sekolah lainnya adalah siwa yang berbudi dan tahu sopan santun,” tandasnya. (ren)
|
|
|
|
06.09.2008
JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…
07.09.2008 | Metro Padang
LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…
|
|