Saat ini ada 2 tamu online
Bukiktinggi Target Teroris, "Incaran Kelompok Palembang" pdf  | cetak |
Jumat, 04 Juli 2008
Image Lokasi cafe yang sempat menjadi incaran Kelompok Palembang yang ditangkap Densus 88 1 Juli lalu.

BUKIKTINGGI, METRO-- Ditangkapnya 10 orang tersangka terorisme di Palembang, menyerempet hingga ke Kota Bukiktinggi. Salah seorang tersangkanya, ‘AT’ alias ‘M’ dikabarkan terlibat dalam perencanaan Peledakan Cafe Bedudal yang ada di kawasan Kampuang Cino.

Kapolresta Bukiktinggi AKBP Eko Parasetyo Siswanto belum mau berkomentar banyak, soal dijadikannya cafe yang berlokasi beberapa meter saja sebelum Jembatan Limpapeh—dari arah Jam Gadang—, target pengeboman jaringan teroris paling di cari di Indonesia pada medio 2005 lalu. “Ini masalah nasional. Kita tidak bisa gegabah,” tegas Eko saat dikonfirmasi POSMETRO, Kamis malam (3/7).

Walaupun begitu, Eko mengaku telah melakukan langkah preventif, terkait informasi seputar cafe yang jadi target peledakan oleh ‘Kelompok Palembang’ yang telah ditangkap Densus 88 Mabes Polri 1 Juli kemarin. Langkah preventif ini, menurut Kapolda Sumbar Brigjend Pol Drs Ino Suripno memang sudah menjadi perintahnya kepada Kapolresta Bukiktinggi. Hal itu dikatakan Ino, saat ditemui koran ini usai rapat Muspida lengkap minus Kajati di Gubernuran kemarin malam. (baca Deteksi Dini).

Kawasan Kampuang Cino, bisa dikatakan pusat turis mancanegara di daerah ber-icon kota wisata di Sumbar ini. Kurang lebih sama seperti kawasan Legian di Bali. Ditempat itu, Paddy’s Cafe telah diledakkan oleh jaringan Dr Azhari dan Noordin M Top—teroris asal Malaysia yang beraksi di Indonesia— oleh dua orang eksekutornya Amrozi alias Imam Samudra cs, medio Oktober 2002.

Terungkapnya rencana pengeboman terhadap cafe yang pengunjungnya kerap didominasi warga negara asing ini, saat Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira memberikan keterangan pers di Mabes Polri, di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan kemarin. Saat itu, jenderal bintang dua itu menyebut soal keterlibatan Kastari dengan Hasan—sebelumnya ditulis H—warga Singapura yang dibekuk di Sumatera Selatan (Sumsel). Hasan adalah rantai yang membuka ‘Kelompok Palembang.’ Dimana, polisi telah membekuk total 10 orang tersangka.

Lelaki 35 tahun itu dibekuk oleh Densus 88/Antiteror Mabes Polri pada Sabtu 28 Juni di Sekayu, Banyuasin, Sumsel.  Polisi mencium keberadaan guru bahasa Inggris tersebut, setelah pemerintah Singapura mengeluarkan red notice (daftar pencarian orang) atas diri Hasan yang dituduh terlibat JI.  “Dia juga terkait dengan Kastari yang lari,” tambah Abubakar dalam keterangan pers itu.

Selama di Indonesia, Hasan mengajarkan kemampuannya merakit bom kepada orang-orang di Palembang yang berasal dari segala penjuru di Indonesia termasuk Solo. Salah satu yang mendapat pelatihan untuk merakit bom adalah ‘AT’ alias ‘M’ (35). Tersangka yang satu ini merupakan amir Forum Anti Pemurtadan (Fakta) Palembang.

Bersama AT, Hasan menjadi pimpinan kelompok teror dan sempat berencana mengebom kafe Bedudel di kawasan Kampuang Cino, Kota Bukiktinggi. AT juga dituduh polisi terlibat percobaan pembunuhan dan penganiayaan pendeta Joshua di Bandung pada 2005. Ciri khas Kastari ini, jalannya terpincang-pincang. Cacat ini didapatnya, karena pernah melompat dari lantai II gedung Polda Riau beberapa waktu lalu.

Waspadai Kaki Tangan

Menindaklanjuti informasi ini, Kapolresta Bukiktinggi mengaku tengah menunggu perintah selanjutnya dari Mabes Polri. Selain itu, Kapolresta menegaskan belum pernah menerima laporan operasi intelijen anak buahnya, tentang ancaman bom di kota seluas 25,24 Km persegi itu.

“Cafe itu, belum pernah mendapat ancaman sebelumnya. Yang perlu diwaspadai oleh jajaran kepolisian di Kota Bukiktinggi sekarang ini yakni, soal kemungkinan masih adanya kaki tangan (anggota ‘Kelompok Palembang’) yang berkeliaran ataupun sudah berada di Bukiktinggi demi menghancurkan tempat yang sudah menjadi targetnya sebelumnya,” tegas Eko Parastyo. (wan/nto/jpnn)

Brigjen Ino Suripno (Kapolda Sumbar), Deteksi Dini

Entah kenapa, tiba-tiba Gubernur Sumbar bersama Muspida minus Kajati menggelar pertemuan yang terkesan mendadak tadi malam. Namun, hal ini dibantah Sespri Gubernur Devi Kurnia.  “Tidak, pertemuan ini sesuai dengan jadwal,” kata Devi Saat bersamaan, di Bukiktinggi, Walikota Bukiktinggi-pun menggelar rapat SKDP. Belum jelas apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. 

Walikota Bukitinggi, Drs Jufri yang dihubungi koran ini, sampai tadi malam pukul 10.50 Wib menit masih menggelar rapat. Dua kali koran ini menghubungi ke telepon selulernya, kedua kalinya juga dijawab oleh ajudannya. “Bapak sedang rapat. Tidak tahu jam berapa selesainya,” katanya. Di gubernuran sendiri, tak seorangpun dari staff Gubernur yang mengetahui apa materi pertemuan Muspida Provinsi Sumbar ini. “Saya sendiri tak boleh masuk. Jadi apa agendanya saya tidak tahu,” kata staff Humas Pemprov Sumbar Zardi.

Sekitar pukul 22.15 WIB, pertemuan tertutup yang dimulai sejak pukul 20.30 WIB tersebut berakhir. Kapolda Sumbar Brigjend Pol Drs Ino Suripno yang dicegat POSMETRO awalnya enggan untuk menjawab pertanyaan tentang adanya keterangan dari Kadiv Humas Mabes Polri yang menyebutkan teroris kelompok Palembang yang ditangkap dua hari laluoleh Tim Densus 88 pernah menjadikan Bukiktinggi sebagai sasaran. “Informasi dari mana itu,” kata Kapolda balik bertanya.

Setelah dijelaskan kembali bahwa hal itu adalah keterangan pers dari Kadiv Humas Mabes Polri Irjend Pol Drs Abubakar N, Kapolda baru buka suara. “Apapun itu, kan baru berupa informasi. Jadi, informasi itu kan bisa salah bisa benar. Yang pasti informasi itu bukan dari saya,” kata Kapolda lagi. Lebih jauh, Kapolda menekankan bahwa warga tidak perlu resah dengan perkembangan. Hal yang paling penting adalah meningkatkan kewaspadaan. Namun, Kapolda sendiri sepertinya tak ingin lengah. Kendati informasi tersebut masih disanksikannya, Jenderal bintang satu ini tetap memerintahkan Kapolresta Bukiktinggi dan jajarannya untuk siaga.

“Saya sudah perintahkan Kapolresta Bukiktinggi untuk melakukan deteksi dini. Setiap tempat-tempat yang dianggap rawan diawasi. Tak hanya itu. Tempat-tempat strategis, seperti Hotel dan Restoran serta tempat hiburan saya minta untuk diawasi,”kata Kapolda. Sumber koran ini di Mapolresta Bukikttingi mengakui hal ini. Sumber yang tak ingin disebutkan namanya ini menyebutkan dirinya baru saja kembali dari melaksanakan tugas pengawasan di tempat-tempat seperti yang diperintahkan Kapolda.

Intel Mabes Polri?

Sementara itu, sumber koran ini di Polda Sumbar menyebutkan bahwa anggota Intel dari Mabes Polri justru sudah berada di Sumbar sejak dua hari lalu. Belum diketahui langkah-langkah seperti apa yang dilakukannya. Kapolda sendiri, enggan untuk menjelaskan hal tersebut. Ditanya apakah pertemuan Muspida yang berlangsung tertutup ini membahas hal tersebut, Kapolda kembali menampiknya. “Ach tidak lah..,” tukuk Kapolda sambil tersenyum sumringah.

Allah Melindungi

Sementara, Walikota Bukiktinggi Drs H Djufri yang dihubungi tadi malam, mengaku kaget dengan informasi yang didapat dari pihak kepolisian ini. Namun, dia merasa bersyukur kota yang dipimpinnya pada masa tugas kedua ini, terhindar dari percobaan teror pengeboman. Katanya, ini adalah pertanda, Allah sangat menyayangi warga kota.

“Kita harus bersyukur kepada Allah, karena ini adalah pekerjaan Allah, bukan kesanggupan manusia. Tidak ada manusia yang tahu rencana itu, kecuali dibukakan oleh Allah. Ini juga sebagai bentuk peringatan bagi kita semua,” kata Jufri usai memimpin rapat Muspida Bukiktinggi, terkait kondisi tersebut. Djufri mengharapkan warga tidak panik dengan keadaan ini, tapi terus meningkatkan kewaspadaannya. Masyarakat jangan sampai mengarah pada kondisi risau yang berlebihan. Insya Allah, katanya, pihak kepolisian, telah mensiagakan anggotanya untuk berjaga-jaga setiap saat. Pemko juga tidak ketinggalan menurunkan Pol PP untuk memantau keadaan.

Lokasi target teroris, sebuah kafe di Kampung Cino, Djufri mengatakan, kafe itu sudah dikendalikan oleh pemko. Maksudnya, tidak ada aktifitas yang berlebihan, yang bersinggungan dengan penyakit masyarakat. Dia berharap, kondisi ini tidak akan berpengaruh kepada sektor pariwisata Bukiktinggi.  “Saya paham, dengan adanya pemberitaan yang menasional ini, akan berpengaruh kepada wisata. Untuk itu, kewaspadaan dan langkah antisipasi, harus terus kita tingkatkan. Tentunya langkah promosi wisata, akan terus dilakukan,” katanya di balik telepon genggam. (rvi/mat/nto)

Kampuang Cino Dikawal Ketat


Bedudal, sebuah cafe terletak di kawasan Jalan A Yani Kota Bukiktinggi, terlihat biasa-biasa saja. Sejumlah pengujung yang datang menghabiskan malam di cafe tersebut, tampak biasa-biasa saja. Namun, informasi cafe itu pernah menjadi target pengeboman ‘Kelompok Palembang,’ mulai mendapat respon.  Tadi malam, aparat polisi dari Mapolresta Bukiktinggi berpakian preman terlihat berjaga-jaga.

Selain Bedudal, sekitar tiga cafe yang ada di kawasan Jalan A Yani Bukiktinggi juga mulai mendapat pengawasan ketat aparat. Pemilik cafe disarankan, untuk mengawasi setiap tamu yang datang berkunjung. Bahkan, untuk keamanan tong sampah dianjurkan untuk diperiksa. Cafe Bedudal bersebelahan dengan Salon Lily tepatnya di depan Bank Danamon ini, dari Taman Jam Gadang Kota Bukiktinggi berjarak kurang lebih 100 M dengan jarak tempuh 5 menit jalan kaki. Rata-rata pengujung cafe kebanyakan dari turis mancanegara. Sepintas, tidak ada yang mencolok di cafe yang telah berdiri selama 12 tahun ini, selain musik, TV dan beberapa komputer dilengkapi internet tidak ada dimiliki cafe ini. 

Dari Taman Jam Gadang, cafe Bedudal ini terletak sebelah kiri jalan A Yani Kota Bukiktinggi. Persisnya, sebelum Jembatan Limpapeh. Kalau dari Simpang lampu merah tembok, cafe ini terletak sebelah kanan setelah Jembatan Limpapeh. Pemilik cafe Deni menyebutkan, cafe miliknya buka mulai dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Katanya, turis Eropa yang datang ke cafe miliknya biasanya dari Negara Belanda, Inggris dan Jerman. “Mulai Juni hingga akhir November 2008 turis dari Eropa banyak datang berkunjung itu sudah hal biasa. Soalnya, di Eropa Juni sampai November merupakan libur musim panas,” paparnya.

Tiga tahun lalu, cafe ini pernah menjadi target kelompok Palembang. Kelompok teroris yang dibekuk dua hari lalu di Kabupaten Musih Banyuasin, Sumatera Selatan ini pernah menjadikan Cafe Bedudel salah satu lokasi pengeboman. Ini di katakan sendiri oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, dalam keterangan persnya kemarin,  Terungkapnya fakta cafe miliknya pernah menjadi target, membuat Deni makin waspada. Sekarang, dia akan memperhatikan setiap tamu yang datang berkunjung ke cafe miliknya itu. Bila perlu, setiap pengunjung yang masuk ke kamar mandi (WC) setelah keluar akan segera diperiksa. (***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Deplu Siap Fasilitasi KPU

06.09.2008

JAKARTA, METRO-- Rencana Komisis Pemilihan Umum (KPU) untuk mengadakan membentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri ke-14 negara direspons positif…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Tradisi Asmara Subuh, Pelampiasan Ruang Kontak Sosial?

07.09.2008 | Metro Padang

LUBUAK LINTAH, METRO-- Tradisi Asmara Subuh bagi kalangan remaja di sebagian Kota di Sumbar, merupakan kronologis penyimpangan dari…


selamat_metro.jpg

advert-4.jpg

indosat.gif