|
Tubuh renta Eni (40), terlihat sosoknya lebih tua dari umurnya. Sesekali pandangannya menyapu para pengguna jalan Veteran yang tak pernah sepi. Dia hanya seorang pedagang rokok. Pedagang yang stiap hari kena gusur saat Pol PP melakukan razia. Tapi banyak yang tidak tahu.
Kalau hasil dagangan digunakan untuk menghidupi sembilan anak yatim yang diasuhnya. “Saya punya sembilan anak asuh. Mereka adalah anak tanpa orang tua yang saya pungut dari jalan. Ah... kan kasihan melihat mereka yang seharusnya mendapatkan kehidupan yang layak tapi tak bisa merasakannya. Malah di usia dini mereka harus berjibaku melawan kerasnya dunia. Saya tidak sanggup melihat itu semua,”ulas Eni kuyu. Selain sembilan anak jalanan yang diasuhnya. Eni juga memiliki lima anak kandung. Tapi Eni tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang antar anak asuh dan anak kandungnya. Malah, walaupun dengan susah payah dan berpeluh nanah Eni menyekolahkan anak-anak tersebut. Sedangkan suami Eni, Rusdi tak punya pekerjaan tetap. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk membantu Eni di lapaknya yang bertempat di depan Kantor Pemuda Puruih IV. “Saya tidak punya pekerjaan tetap. Kadang saya pergi bertukang. Tapi hanya sesekali, biasanya saya hanya membantu istri di kedai,”ujar Rusdi. “Saya tidak pernah membedakan anak-anak. Bagi saya mereka semua sama. Kalau satu beli baju maka semuanya harus dibeliin. Tak ada cerita “anak emas”. Saya menyayangi mereka sepenuh hati. Biar apapun yang terjadi mereka akan tetap saya sekolahkan. Walaupun itu semua berat. Mereka berhak untuk itu semua. Namun terkadang harap tak sejalan dengan kenyataan yang ada,”tambah Eni menerawang. “Alhamdhulilah, dari hasil berdagang saya bisa menghidupi semua anak-anak. Tapi saya sering ketakutan kalau Pamong praja datang. Mereka main sikat saja. Kalau sudah kena razia otomatis kami makan hanya sekali sehari. Walaupun kedai saya memakan “sedikit” badan jalan. Tapi saya mohon jangan gusur saya karena anak saya banyak. Mereka mau makan apa kalau kedai ini digusur,”tambah Eni berharap. Eni berharap kelak anak-anak yang di asuhnya bisa sekolah tinggi dan berhasil menggapai cita-citanya. Namun terkadang ragu menyelimuti hati Eni. Dengan kondisi tubuh yang sudah renta. Mana mungkin Eni bisa kuat bekerja dan suaminyapun begitu juga. “Mungkin tidak ya akan datang seseorang yang membantu kehidupan kami. Saya harap anak-anak berhasil kelak. Walau mungkin selepas kepergian saya,”desah Eni sembari mengelap air matanya yang oerlahan menetes tanpa di sadarinya. (Benny Okva Della) |