Saat ini ada 5 tamu online
Di Balik Pemadaman Listrik, Gerutu dan Bahagia Berbaur Jadi Satu pdf  | cetak |
Jumat, 04 Juli 2008
Kendati PLN (Perusahaan Listrik Negara) sudah mengumumkan tentang perpanjangan jadwal pemadaman bergilir di Kota Padang. Namun tetap saja warga merasa dirugikan dengan kebijakan yang menurut mereka “terlalu menyiksa”. Namun demikian, ternyata ada pula yang bernostalgia dengan pemadaman ini.

Bagi warga yang mempunyai usaha mikro di rumahnya, pemadaman listrik secara bergilir tentu sangat mengganggu dirasakan sekali dampaknya. Seperti yang diungkapkan Inaf (22). Warga Parak Laweh yang menekuni usaha bordir di rumahnya ini, sangat kecewa dengan kebijakan itu. Kenapa tidak, saat ini orderannya sedang menumpuk dan harus mengejar waktu. Dengan pemadaman listrik, tentu waktu penyelesaian akan terganggu.

“Ondeh, indak ado ciek alahnyo PLN ko do. Tiok subanta lampu di puduaanyo. Indak siang, indak malam lampu ko mati. Sabana manyeso. Kok cando iko, berang pelanggan ka ambo dek jahitannyo indak salasai. Alun pulo lai nasi nan acok indak rancak masaknyo, karano tiak sabanta angek sabanta dingin,” gerutu Inaf bersungut-sungut.

Lain pula dengan Ida (45). Selama lampu mati, otomatis dia harus mandi ke sungai karena sumur yang dipakainya tak lagi berfungsi semenjak listrik mati. “Sejak lampu mati, saya dan anak-anak harus mandi ke sungai karena mesin air saya tak lagi berfungsi. Sebenarnya saya sangat keberatan. Apalagi jalan ke sungai sangat curam. Sejak lampu mati dan mandi ke sungai sudah dua kali saya “jatuh”,” ulas Ida sambil memamerkan pinggangnya yang lebam.

Tak disangka, “hanya” karena listrik padam, penderitaan yang dialami warga begitu mendalam. Seakan warga merasa kembali pada zaman 40-an. Dimana waktu itu, lampu teplok sangat beken dan jadi primadonna. “Kalau lampu yang mati, PLN tenang saja ya. Tapi coba kalau kami yang telat bayar rekeningnya. Otomatis berbagai layangan surat dengan embel-embel pemutusan akan setiap waktu mampir. Ini tak adil lanjutnya.

Banyak yang menggerutu tentang pemadaman ini. Namun tak sedikit pula yang diam menanggapi hal itu. Terlebih golongan lanjut usia yang sudah terbiasa dengan kegelapan di masa mudanya.”Kalau lampu mati saya jadi terkenang pada waktu muda dulu. Pergi mengaji menggunakan obor dan belajar dengan lampu teplok. Paginya hidung sudah hitam karena asapnya yang mengepul. Ada rasa senang saja dengan semua ini. Tapi yang jadi kendala adalah harga minyak tanah yang tinggi (***)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Wanita Karir dan Perawatan Kecantikan

14.10.2008 | Metro Gaya

Selalu dituntut untuk tampil cantik, menjadi keseharian kalangan wanita karir. Kulit sehat dan wajah yang bersih dari bintik-bintik…

peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Data Pemilih Sudah Final, Warga Tak Terdaftar Tak Diakomodir Lagi

14.10.2008 | Metro Padang

ULAKKARANG, METRO-- Meski sudah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) sejak 23 Agustus lalu sebesar 539.660, tidak mustahil masih…



advert-4.jpg

indosat.gif