|
Kota kecil memang identik dengan terbatasnya potensi yang dimiliki. Begitu pula halnya dengan Kota Solok. Daerah seluas 57 Km2 ini, tak memiliki banyak areal yang bisa dimaksimalkan sebagai daerah wisata. Karenanya, warga masyarakat Kota Solok selalu mengayunkan langkah ke daerah tetangga untuk berlibur.
Kondisi ini, seharusnya menjadi alasan bagi Pemko Solok untuk memaksimalkan potensi yang ada. Bahkan kalau bisa mencari areal lain yang bisa disulap sebagai kawasan wisata. Salah satu kawasan yang diyakini bisa dikembangkan itu adalah kawasan Ampang Kualo yang selama ini dijadikan gelanggang pacuan kuda. Di areal ini, selain terhampar pemandangan indah ke kaki Bukit Barisan yang ada di depannya, juga keberadaan dua telaga mungil persis di tengah gelanggang. Sayangnya, hal ini tak tersentuh sama sekali oleh Pemko Solok. Kalau saja Ampang Kualo diberdayakan secara maksimal, tentu kawasan yang bersisian dengan Taman Wisata Pulau Belibis ini bisa menyerap fulus untuk mendongkrak pendapatan daerah. Kalau dulu kawasan ini selalu identik, kenapa sekarang tak bisa diberdayakan sebagai kawasan rekreasi dan wisata yang baru untuk Kota Solok. Ampang Kualo sebenarnya telah mempunyai nama, kalau ingin lebih memberdayakannya tentu tugas pemerintah tidak lagi berat. Sebab di areal tersebut, kalau memang dibenahi secara serius, masyarakat bisa melepas penat dengan memancing di telaga mungil. Belajar menaiki kuda atau setidaknya bisa menyaksikan bagaimana proses pemeliharaan dan pengurusan kuda pacu. Seandainya pemerintah tidak cepat tanggap, potensi ini akan hilang dengan cepat. Sebab daerah ini juga menjadi incaran developer untuk dikembangkan. Bahkan saat ini, kawasan Ampang Kualo semakin padat oleh warga yang membangun rumah mereka di sana. Tak dipungkiri, sekali setahun kawasan ini memang sering didatangi masyarakat. Baik itu untuk menyaksikan pacu kuda, atau untuk memeriahkan kegiatan jambore PKK dan lain sebagainya. Ini tentu bukan sebuah jawaban untuk tidak mengembangkan Ampang Kualo. Sebab dengan dilengkapi dengan sarana prasarana penunjang, tentu warga tidak lagi datang sekali setahun. Kebijakan Pemko Solok dengan menjadikan telaga Ampang Kualo sebagai arena pancing, sebenarnya telah menggugah dan memperbanyak frekwensi kedatangan warga ke sana. Apalagi kalau nantinya telaga mungil itu dilengkapi dengan sarana prasarana dan infrasruktur pendukung lainnya. Tentu selain ramai, Ampang Kualo bisa memberikan konstribusi kepada kas daerah. Melirik kawasan Ampang Kualo yang terletak di pinggiran Kota Solok dewasa ini, memang melahirkan kekecewaan. Sebab Pemko Solok sebagai pemilik wilayah tak terlalu tertarik untuk berinvestasi dalam membangun Ampang Kualo. Entahlah kalau Pemko Solok telah merasa puas dengan kondisi yang telah tercipta sekarangt ini. Alasan pendanaan yang tak memadai yang selalu muncul ke permukaan, seharusnya tak perlu terjadi. Sebab Pemko Solok bisa bekerjasama atau menawarkan pembangunannya dengan pihak ketiga secara bagi hasil. Rasanya, hal tersebut di atas tak perlu dibesar-besarkan. Karena bagaimanapun juga, tanpa melahirkan konsep yang jelas, mustahil Ampang Kualo bisa diberdayakan. Di sini, Pemko Solok sudah harus melahirkan konsep yang jelas untuk pengembangan kawasan Ampang Kualo. Apakah hanya dijadikan arena pacuan kuda saja, atau dijadikan arena pancing. Atau malah menggabungkan konsep olahraga dan hobby. Semua tergantung keinginan dan kemauan pemerintah. Karena bagi masyarakat, yang terpenting bagaimana Ampang Kualo menjadi daerah tujuan wisata baru di Kota Solok. Selama ini, harus diakui Ampang Kualo bagaikan manusia tanpa kelamin. Kalau tidak ada kegiatan, lapangan terbuka dibiarkan tetap terbuka tanpa perawatan sama sekali. Namun sebaliknya saat ada pacuan kuda, Ampang Kualo bagaikan benteng pertahanan yang tangguh dengan deretan tiang tinggi untuk menghalangi pandangan mata. Sekarang tentu timbul pertanyaan, perlukah kawasan ini diberdayakan secara maksimal sesuai dengan peruntukannya sebagai tujuan rekreasi? Jawabannya adalah bagiaman keseriusan dan kemauan Pemko Soloksendiri. Ke depan, Ampang Kualo jangan hanya sebatas dilirik. Tapi benar-benar diberdayakan secara maksimal. Dengan dukungan sarana transportasi memadai plus aspal hotmix, rasanya tak ada ganjalan untuk memajukannya.*** |