|
Program Engku M Syafei Berlanjut Serta Dikembangan Hingga Kini Seiring dengan kemajuan zaman, program-program Engku M Syafei terus dilanjutkan generasi INS Kayutanam berikutnya. Hingga kini di kepalai Azwan Amin bersama 50 staf termasuk di dalamnya 34 orang tenaga guru. Kini INS Kayutanam telah memiliki berbagai macam fasilitas bantuan dari berbagai pihak di negara ini. Apalagi saat ini Ketua Yayasan INS Kayutanam dipimpin Ir H Azwar Anas.
Pola-pola pendidikan untuk kemajuan anak bangsa hingga saat ini terus dipersiapan oleh kepengurusan INS saat ini. Namun demikian pola-pola didikan yang disiapkan para guru dan kepala sekolah INS saat ini adalah untuk jenjang SMA. Siswa-siswi SMA disiapkan mental dan akhlak yang Islami. Azwan didampingi Drs Yasrizal—salah guru senior di INS—, setelah siswa-siswi tersebut tamat dari kampus ini mereka telah siap untuk menciptakan lapangan kerja baru dengan mental Islami. Walau program tersebut telah diterapkan Syafei sebelumnya, namun sekarang lebih ditingkatan. Karena mental dan akhlak Islami tersebut mamang perlu ditanamkan setiap masing-masing pelajar. Atas dasar itu dari tahun ke tahun INS semakin berkembang. Sayangnya, memasuki era reformasi, INS seperti jalan di tempat. Padahal saat itu sarana para sarana pendidikan telah lengkap. Walau dasar-dasar pendidikan kini ada empat item. Dasar tersebut sangat relevan dengan program pendidikan dari pendirinya. Misalnya, generasi muda saat ini bukan tidak cerdas atau tidak memiliki ilmu untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Hambatannya, karena mereka tidak terlatih dan tidak terdidik dalam berdisiplin serta tidak mau berkerja keras. Dari berbagai sisi itu mereka malas untuk berfikir. Mereka generasi muda itu lebih banyak menempuh jalan pintas, setamat mereka dari bangku sekolah lebih banyak memilih perkerjaan di kantor-kantor. Tragisnya, setelah mendapat perkerjaan, mereka tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan benar. Kemudian kalau tidak mendapatkan perkerjaan mereka lebih banyak menjadi pengangguran. Berdasarkan pemikiran tersebut, yayasan INS kembali melanjutkan program pendirinya. Sebab, generasi penerus itu tidak salah mereka, tapi bagaimana saat ini semua pihak di daerah ini memikirkan hal tersebut. Atas dasar itu, INS sekarang menerapkan program-program tersebut dengan empat item. Semangat juang yang menegakkan dirinya sendiri secara mandiri. Ditambahkan Yasrizal, enggan memilih perkerjaan awal dalam upaya meningkatkan prestasi atau karir untuk kemajuan mereka ke depan, baik di kantor maupun di lapangan usaha lain yang mandiri. Apalagi ditambah dengan lulusan sekolah kejuruan juga demikian. Adapun, masing-masing sekolah itu tidak mampu mengikuti perkembangan dunia usaha, karena tidak terdidik untuk memiliki sektor kerja. Berdasakan hal demikian INS membuat kurikulum dari SMP dan SMA. INS membuat sistem pendidikan dengan aktif dan kreatif yang dapat diakui sebagai pendidikan alternatif. Hal itu sangat berguna untuk kualitas anak didik yang dihasilkan sesuai dengan tuntutan zaman makanya INS memiliki SMP/SMA plus. Artinya, siswa-siswi INS telah ditekatkan para pendidikanya agar mereka dalam menimba ilmu, tidak seperti mereka meminta buah durian pada pohon rambutan. Tapi bagaimana setiap buah tersebut menghasilan buah yang berkualitas. Pasalnya, masing-masing siswa-siswi tersebut memiliki talenta. Berdasarkan talenta tersebut INS membina masing-masing siswanya dalam mata pelajaran kreatif di samping mata pelajaran umum. Apalagi setiap siswa tidak sama talenta. Telenta itu adalah bakat atau bakat dasar siswa tersebut yang dibawa semenjak lahir. Karena itu, hingga kini INS menempa setiap siswa-siswi dalam tiga bidang yakni akademis, keterampilan dan akhlak mulia yang Islami. Pendidikan seorang siswa tanpa dilandasi oleh Agama tidak akan baik hasilnya, setelah tanam di bangku sekolah. Karena itu, INS melakukan hal demikian. Jadi kualitas siswa yang dihasilkan INS terus membaik dari tahun ke tahun. Namun saat ini INS baru miliki siswa SMA. Empat tahun belakangan ini kata Anasrizal ST salah seorang guru di SMA INS Kayutanam, siswa SMP ada, tapi kini tidak ada lagi. Lihat sekarang jumlah murid SMA tinggal 216 tahun ajaran 2007/2008. Namun demikian, setiap murid tetap diasramakan, karena itulah ada ciri khas sekolah ini semenjak didirikan. (bersambung) |