Saat ini ada 5 tamu online
Kebijakan Wajib Jilbab Belum Matang pdf  | cetak |
Jumat, 04 Juli 2008
PADANG, METRO-- Peraturan Walikota Padang, mengenai wajib berjilbab bagi siswi di sekolah dari segi aplikasi di lapangan prosesnya belum matang. Justru di lapangan banyak disaksikan siswi yang menggunakan pakaian yang cendrung mengkopi paste budaya luar. Mereka hanya memakai jilbab ketika jam sekolah saja, namun ketika ada kegiatan yang bersifat ekstra terjadilah pertukaran budaya.

Tidak ketinggalan pemandangan pesta busana ala anak Baru Gede (ABG) yang tampak dari suasana Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang tengah berlangsung saat ini pada tiap sekolah di Kota Padang. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak sampai kepada mereka. Para pelajar berjilbab seolah-olah hanya sebuah peraturan sekolah yang harus ditaati. Mereka merasa kemerdekaan yang luar bisa setelah jam sekolah usai. Seakan-akan memakai jilbab menjadi beban mental bagi siswa. 

Apalikasi dari peraturan tersebut perlu pembenahan yang intensif. Agar antara kebijakan dan aplikasi berimbang.  “ Konsensistensi sikap siswa dalam sehari-hari perlu dibina, dalam hal ini harus sampai ke lubuk hati mereka dengan melakukan penekanan instringsik,” ungkap DR. Efrinaldi MAg Ketua Jurusan Jinayah Siyasah (Pidana dan Politik) Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang kepada POSMETRO, Jumat (4/7) di ruang kerjanya.

Dosen ilmu politik ini juga menyebutkan Peraturan Walikota (Perwako) Padang, siswa (perempuan) wajib berjilbab di sekolah adalah sebuah program yang sesuai dengan kultur masyarakat minang. Namaun sejauh mana usaha program pemerintah tersebut perlu evaluai yang intensif kembali. Proses yang belum maksimal diperlukan sinergi dari beberapa pihak. Pembenahan kurikulum yang mengarah kepada kepribadian siswa, profesionalisme guru dalam mengajar dan membina para siswa serta peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) para siswa.

Ditambahkan pakar ilmu politik muda Sumbar ini, munculnya anggapan , wajib berjilbab merupakan peraturan akademis semata merupakan dampak segitiga yang tidak beraturan antara pemerintahan kota, pihak sekolah dan siswa memperlamban gerak dari program tersebut. Dalam hal ini  perlunya kerjasama dan sinergisitas yang berdampingan antara pemko dengan semua pihak, agar  peraturan tersebut yang membawa dampak luas terhadap siswa di sekolah dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Padang sebagai etalasenya Minangkabau hari ini yang berkultural  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSBK). Sangat tepat untuk mengembangkan nilai-nilai ABSK tersebut. Melalui  program pemerintah yang bersifat pembinaan mental, kereaktefitas, budaya dan moral sebagai regenerasi, bukan hanya sekedar peratun yang monoton. “Keseriusan Pemko Padang harus lebih tampak dalam menjalankan program ini demi mengembangkan citra Minangkabau yang kuat adat dan selaras sarak, “  ucapnya mengakhiri. (z)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Parsenibud Solsel Ikuti Fiesta Nusa II di Bali

28.09.2008

SOLSEL, METRO-- Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya (Parsenibud) kabupaten Solok Selatan akan mengikuti Fiesta Nusa II di Bali…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Data Pemilih Sudah Final, Warga Tak Terdaftar Tak Diakomodir Lagi

14.10.2008 | Metro Padang

ULAKKARANG, METRO-- Meski sudah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) sejak 23 Agustus lalu sebesar 539.660, tidak mustahil masih…



advert-4.jpg

indosat.gif