Tiba-tiba, Cafe Bedudal di kawasan Kampuang Cino, Kota Bukiktinggi ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Karena, 2002 lalu lokasi ini dikabarkan target peledakan bom oleh ‘Kelompok Palembang’ yang ditangkap Detasemen 88/Antiteror Mabes Polri di Palembang 1 Juli lalu.
BUKIKTINGGI, METRO-- Dua orang anggota Satuan Intelijen Polresta Bukiktinggi, terlihat menyusuri ruas Jalan A Yani Bukiktinggi Jumat (4/7). Dengan kertas dan pena di tangan, mereka terlihat mencatat nama-nama toko yang ada di sepanjang kawasan pecinan kota wisata itu, sekitar pukul 16.00 WIB. Aparat tampak makin awas! “Polisi telah melakukan langkah antisipasi ‘Kelompok Palembang,’ yang berkemungkinan memiliki jaringan di Kota Bukiktinggi ini. Bahkan, upaya-upaya deteksi dini, juga telah kita lakukan,” tegas Kapolresta Bukiktinggi AKBP Eko Parasetyo Siswanto kepada wartawan Jumat (4/7). (baca: ‘Waspadai Pengunjung’ di Halaman 14).
Entah ada kaitannya dengan informasi Kota Bukiktinggi jadi sasaran teroris, Kapolda dan Wakapolda Sumbar mendadak dipanggil ke Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta pagi kemarin. Agenda orang nomor satu dan dua di Polda Sumbar itu, tidak dijelaskan secara rinci oleh Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Djoko Erwanto. “Bapak hanya berpesan, berita ini (seputar Bukiktinggi sasaran teroris, red) tidak terlalu dibesar-besarkan,” ungkap Djoko kepada wartawan di ruang kerjanya.
Sebagaimana diberitakan POSMETRO edisi Jumat kemarin, 10 orang ‘Kelompok Palembang’ yang ditangkap Detasemen Khusus 88/Antiteror Mabes Polri diketahui, mereka pernah menjadikan kota wisata ini sebagai bagian dari lokasi peledakan bom, medio Oktober 2005 lalu. Lokasi yang dijadikan target mereka, Cafe Bedudal di Jalan A Yani (Kampuang Cino, red).
Kampuang Cino adalah daerah yang diapit dua tebing, di kota seluas 25,24 Km persegi ini. Diatas tebing sisi sebelah kanan (dari arah Jam Gadang), merupakan objek wisata TMSBK (Kebun Binatang). Tebing disisi seberangnya, merupakan lokasi objek wisata Benteng Fort de Kock. Dua objek wisata itu, dihubungkan dengan Jembatan Limpapeh. Beberapa meter dari dua buah kaki Jembatan Limpapeh yang berada di Jalan A Yani inilah, berdiri Cafe Bedudal yang mayoritas dikunjungi wisatawan mancanegara.
Menurut informasi yang terungkap dalam pemeriksaan tersangka teroris yang diamankan di Palembang, penyaluran amunisi ke Sumbar telah dilakukan sejak satu tahun lalu. Sekitar 2007, para tersangka dan jaringannya telah menyelundupkan bahan peledak ke wilayah Sumbar. “Sampai saat ini, kita belum menemukan jaringan teroris yang di Palembang itu ada di Sumbar,” tegas Djoko.
Sewaktu dicegat wartawan sesuai MoU pengamanan Pemilu dengan KPU, Kapolri Jendral Sutanto kembali menegaskan, target pengeboman ‘Kelompok Palembang’ ini memang di Kota Bukiktinggi. “Sekarang, belum ditemukan indikasi bom yang telah ditemukan itu, akan diledakkan di Jakarta. Indikasinya, ke daerah yang disebutkan kemarin (Bukiktinggi, red),” jelas jendral polisi berbintang empat ini.
Jalur Masuk Diperketat
Keyakinan Polda Sumbar bahwa kondisi daerah ini masih kondusif, ditegaskan Djoko dengan menyebutkan, telah disiagakannya Densus 88 sejak tragedi bom Bali. Kesiagaan itu, juga diperkuat dengan operasi intelijen yang dilaksanakan secara tertutup. Dengan beredarnya informasi Sumbar target teroris setelah Bali, Djoko mengaku Polda Sumbar telah meningkatkan intensitas pengawasan. Terutama, terhadap jalur-jalur masuk menuju Sumbar. “Kegiatan patroli dan razia-razia, meningkat dibanding kondisi normal. Sedangkan tindakan sweeping (penggeledahan, red), untuk saat ini belum perlu dilakukan. Untuk berjaga-jaga, kita memperketat pengawasan jalur-jalur masuk menuju Sumbar baik darat maupun laut,” aku Djoko.
Ia mengaku, kepolisian tetap melakukan tindakan pre-emptiv dan preventiv, demi menjaga stabilitas keamanan di daerah. Hal tersebut dilakukan, dengan meningkatkan koordinasi antara kepolisian dengan masyarakat. Sejauh ini, tindakan intelijen yang di back up Densus 88, semakin digencarkan Polda Sumbar untuk melakukan pencegahan dini terhadap kasus teroris yang berkembang belakangan.
Sayangnya, Djoko enggan menyebutkan jumlah personil intelijen dan Densus 88 yang disebarkan, untuk mempertahankan kondusifnya kondisi keamanan di Sumbar. “Bisa jadi seratus atau lebih,” ujarnya singkat.
Sejauh ini, Kabid Humas Polda Sumbar beranggapan, keamanan di Sumbar cukup kondusif. Hanya saja, Polda menghimbau, agar masyarakat dapat berperan aktif mengamankan lingkungannya dan meningkatkan kewaspadaan terhadap orang asing. “Kalau ada yang mencurigakan laporkan kepada ketua RT setempat, demi menghindari tindakan main hakim sendiri,” harap Djoko.
Pada 2005 lalu, media massa terbitan Padang pernah mempublikasikan sebuah bengkel di daerah Manggih, Kecamatan Mandiangin Koto Salayan (MKS), dicurigai sebagai tempat perakitan bom. Namun, setelah bengkel las shock breaker itu digrebek tim Gegana dan Densus 88/Antiteror Polda Sumbar, polisi tidak menemukan tanda-tanda lokasi itu sebagai tempat perakitan bom. “Waktu itu, pembicaraan dari mulut ke mulut memang santer disebutkan. Apalagi, setelah tempat itu digrebek polisi. Sayang, itu hanya persoalan isu semata. Sehingga, sulit untuk di ungkapkan kebenarannya,” ungkap sumber koran ini di Polresta Bukiktinggi kemarin.
Penggrebekan yang dilakukan polisi itu, juga dibenarkan seorang wartawan senior di kota wisata ini Osman Purba. Dikatakannya, “Saya waktu itu masih aktif sebagai wartawan. Saya ingat betul tentang kejadian 2005 silam, tepatnya sehabis Bom Bali II yang menyatakan, kalau di Bukiktinggi terdapat salah seorang teroris yang aktif merakit Bom dan dia merupakan salah satu anggota Imam Samudra—yang merupakan otak dari peledakan Bom Bali. Kota ini buncah dibuatnya waktu itu,” terang Osman di dampingi Kepala Kantor Seni dan Pariwisata (Parsenibud) Bukiktinggi Nasrul M Phietra.
Wisawatan Tak Terpengaruh
Sementara, Kepala Pasenibud Bukiktinggi Nasrul M Phietra menyatakan, semenjak dua hari belakangan seiring dengan tertangkapnya 10 orang ‘Kelompok Palembang’ dan Bukiktinggi sebagai salah satu taget akan diledakkan, diyakininya tidak ada pengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Dikatakan Nasrul, berdasarkan laporan Ketua Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Bukiktinggi kepadanya, sampai sekarang pengunjung hotel untuk Bukiktinggi di musim liburan ini, masih banyak. Karena, bertepatan dengan masa liburan anak sekolah. “Selain laporan PHRI, kita juga melakukan peninjauan langsung ke Cafe Bedudal. Lokasi itu masih beraktifitas seperti biasa dan juga masih diminati wisatawan mancanegera,” terang Nasrul. (r/ham/wan)
|