|
Kepedulian Soal Banjir Kurang |
pdf
|
| cetak |
|
|
Senin, 07 Juli 2008 |
|
Sembari menimba air yang mulai merembes memasuki kedai nasi goreng miliknya. Ramli (45) terus saja berceloteh. Bercerita tentang nasib dan kesialan yang menimpa kalau musim hujan mulai mengguyur Kota Padang. Entah sudah berapa puluh kali dia menimba air. Namun kedainya yang berdiri di pinggiran jalan Perintis Kemerdekaan masih saja tergenang dan becek.
“Sudah biasa nak, Kalau hujan turun deras, daerah sini selalu banjir.
Menurut saya itu semua disebabkan karena tidak berfungsinya saluran air
yang tersumbat karena sampah yang dibuang masyarakat. Inilah balasannya
kalau masyarakat tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Kalau sudah
begini kan kita juga yang repot,”Ulas Ramli tak henti menimba air yang
perlahan merembes ke lapak miliknya.
Memang, Hujan lebat yang mengguyur Kota Padang Sore kemarin , Kamis
(3/7) menimbulkan petaka mendalam bagi sebagian warga Kota Bingkuang.
Terlebih yang tinggal di sepanjang bantaran kali” yang melingkari
Padang. Tak terkecuali para warga yang tinggal di pinggiran Banda Jati
yang menjadi satu-satunya saluran air sepanjang Jalan Perintis
Kemerdekaan dan Tan Malaka. Banda “mengamuk”. Air meluap dan
menggenangi badan jalan hingga mencapai kedalaman setengah meter.
Tak alang, puluhan rumah dan warung warga yang berdiri sepanjang Banda
disawoni air yang berwarna hitam pekat. Puluhan kendaraanpun menerima
jatah kiriman air tersebut. Air yang menggenangi jalan perlahan
merembes ke mesin kendaraan. Akibatnya, busi basah dan alhasil mogok
serta jejeran pengendara yang mendorong kendaraannyapun seakan menjadi
pemandangan yang menakjubkan di tengah derasnya hujan.
“Mau bagaimana lagi nak. Kalau hujan telah turun, daerah sini selalu
tergenang air. Mobil saya sudah dua kali kogok di sini. Tidak bisa
apapun yang kita lakukan. Mesin di rembesi air. Busi basah. Terpaksa
mobil saya tinggal dulu menjelang pagi. Kalau dikawal bikin capek saja.
Lebih baik pulang. Minum teh hangat dan berselimut tebal di atas
pembaringan. Lebih hot, lebih asik,”ceracau Oyon (45) yang berprofesi
sebagai sopir angkot jurusan Pasar Raya - Kampuang Talawi.
Tak hanya Oyon yang ketiban sial. Robi (17) pengendara “supra” juga
harus berjibaku menyingsing lengan baju di tengah guyuran hujan.
Mendorong motor yang mogok saat melintasi genangan air. “Saya berniat
membeli bakso. Tapi sialnya banjir. Air masuk ke busi, mogok dech,”ulas
Robi mengelap businya dengan baju yang dipakainya.
Bukan hanya Jalan Perintis dan Tan Malaka yang mendapat “berkah” jika
hujan mengguyur Kota Padang. Simpang Kalumpang, Lubuak Buayo dan Ruas
jalan sepanjang simpang Haru, Mato Aia, Banuaran dan daerah lainnya tak
luput dari genangan air yang menyebabkan terganggunya aktivitas jalan
raya.
Tentu yang paling ketiban sial adalah daerah Lubuak Buayo nan saban
hujan seolah berubah menjadi lautan coklat nan pekat. Perahu menjadi
alat transportasi yang paling di butuhkan saat itu. Kendaraan
bermotorpun hanya bisa jadi pajangan. Kalau ditanya penderitaan. Sudah
terlalu banyak air mata yang tertumpah dan harta yang diseret air.
Puluhan nyawapun sudah tersering lenyap bersama derasnya air. Tapi
kenapa musibah rutin ini tak jua berlalu. Apakah benar semua karena
ulah kita ataukah memang yang Kuasa sudah murka.
Yang pasti, persoalan banjir di Kota “muara sungai” ini seakan tak
pernah ada ujungnya. Seolah, banjir adalah undangan rutin yang setiap
tahun pasti mendatangi Padang. Tidak berfungsinya saluran air menjadi
Persoalan klasik dan tak pernah ada matinya. Saat Pemerintah dengan
giat membangun saluran.
Berganti lagi persoalan pada kesadaran
masyarakat Kota yang sudah kebal telinga. Kebal terhadap imbauan Pemko
agar jangan membuang sampah sepanjang daerah aliran air. Mungkinkah
Pemerintah harus mengeluarkan Perda baru sebagai ujud pelarangan untuk
itu semua? (BENNY OKVA DELLA)
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…
|
|