|
Dililit Kemiskinan, Siswa SMP Akhirnya Dikhitan
PASIE KANDANG, METRO-- Kelurahan Pasie Nan Tigo di Koto Tangah, masih menjadi salah satu kantong kemiskinan di Kota Padang.
Di sana pernah ditemukan anak busung lapar yang berujung ke RSUD. Setidaknya itu terlihat mencolok, saat SDN 31 Padang melakukan khitanan massal, Sabtu (6/7) di sekolah yang terletak di Pasia Kandang itu. “Lingkungan ini memang masih memiriskan. Kehidupan sebagai nelayan, tidak lagi menjamin hidup warga (di sini, red),” kata Kepala SDN 31 H Soenini SPd.
Hari itu, sekolah yang sering terendam banjir saat pasang naik dan hujan lebat itu memang berbeda. Jejeran anak-anak nelayan miskin gembira, karena salah satu kewajiban orang tua mereka dapat diselesaikan tanpa haru menguras dana yang dapat digunakan untuk makan sehari-hari. Sebanyak 25 orang siswa SD setempat dan 17 Anak Panti Asusan Budi Mulia, mendapatkan pelayanan khitanan tanpa dipungut biaya.
“SD 31 Padang tidak melaksanakan sendiri acara ini. Kami para guru bekerjasama dengan 60 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK) Angkatan 2005. Mereka menyediakan 7 meja operasi untuk mengkhitan anak-anak. Tetap saja, dosen-dosen mereka ikut serta sebagai pengawas,” kata Soenini, usai acara yang juga dihadiri Lurah Pasie Nan Tigo Richard.
Soenini menyebutkan, bakti sosial yang dilakukan ini ditujukan hanya untuk anak-anak tidak mampu di sekitar SD. “Alhamdulillah, kegiatan ini dapat meringankan beban keluarga miskin dan siswa kurang mampu untuk berkhitan. Kita tahu, sekarang, biayanya mencapai Rp 100 ribu. Kami berterimakasih pada FK Unand, atas pekerjaan yang luar biasa ini. Pekerjaan yang butuh tenaga, fikiran dan biaya yang tidak sedikit,” lanjut Soenini lagi.
Masyarakat setempat berharap, program ini juga berlanjut. Meski terlihat sepele bagi sebagaian orang, mengkhitan anak, masih menjadi pekerjaan berat bagi keluarga tidak mampu yang memenuhi pinggi partai itu. “Kami sangat mengharapkan, kegiatan ini tidak hanya dilakukan sekali saja. Paling tidak tahun depan juga dilakukan,” harap warga yang terharu di sekolah.
Baru Disunat
Di Mushalla Nur Ikhlas di Ampalu Kelurahan Pagambiran Ampalu Kecamatan Lubuak Bagaluang, pemuda tanggung berusia sekitar13 tahun terlihat malu memasuki mushalla tersebut. Di belakangnya, seorang ibu paruh baya sekali-kali mendorong putranya itu untuk terus melangkah. “Anak ambo ko memang malu pai ka siko (Mushalla Nur Ikhlas-red). Katonyo, yang pai kamari hanyo anak-anak SD sajo,” kata si Ibu minta namanya tidak ditulis.
Alasan anak itu malu ke mushalla memang masuk akal. Di usianya yang beranjak 13 dan duduk di Kelas II SMP, dia belum berkhitan alias disunat. Sementara, kawan-kawan sekolahnya sudah dikhitan, sebelum memasuki SMP. “Bukannyo ndak nio, tapi pitih tu bana nan dak ado,” kata si ibu saat ditemui Anggota DPRD Kota Padang Heri Ramadan BSc, Sabtu (6/7) saat menggelar sunatan masal untuk 50 anak di mushalla tersebut.
100 anak
Sementara itu, untuk memperingati HUT-nya yang ke 30, FKPPI Kota Padang melaksanakan khitanan massal. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan sosial yang dilaksanakan organisasi yang menjadi wadah putra putri anggota TNI-Polri. Menurut Ketuanya, Budi Iman Prasetyo SPi, kegiatan yang termasuk untuk memperingati seabad kebangkitan nasional ini juga melakukan kegiatan penanaman sejuta pohon, pemberian bantuan anak-anak tak mampu dan donor darah.
Sunatan massal sendiri dilaksanakan bagi 100 anak kurang mampu yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Padang di gedung SD Kartika 1/10 dan 1/11, Senin (7/7).
Pembina kegiatan, Letkol Drs H Haris Sarjana sangat merespon apa yang telah dilakukan FKPPI yang telah memberikan berbagai santunan dan dedikasi kepada Kota Padang. “Saya harap, untuk tahun selanjutnya FKPPI selalu konsisten melaksanakan berbagai kegiatan ini. Karena FKPPI juga bagian masyarakat Padang. Saya mendukung semuanya,” harap Haris Sarjana.(rvi/o)
|