Petugas sedang membongkar lapak-lapak milik PKL di kawasan M Yamin
M YAMIN, METRO-- Episode kedua penggusuran PKL di Jalan M Yamin,
Selasa (22/7) berjalan “panas”. Perang mulut antar kedua kubu tak dapat
dielakkan. Para PKL tuding petugas penggusuran melanggar janji yang
sudah disepakati pada Senin (21/7).
Tak tanggung-tanggung, tanpa berleha-leha, delapan lapak yang berdiri
di atas trotoar M Yamin dibongkar paksa 250 orang petugas penggusuran
yang terdiri dari tim gabungan, Sat Pol PP, Dishub, Dinas Pasar serta
polisi dan Tim SK4. Kontan, aksi main paksa petugas mendapat perlawanan
dari para PKL yang telah berkumpul. Buntutnya, perang mulut, adu
argument dan aksi main tudingpun tak terelakkan.
“Jangan main paksa pak. Lapak ini adalah sarana kami cari makan. Kalau
lapak ini rusak kami mau makan apa?. Bapak oke lah, setiap bulan gaji
hidup, belum lagi cekeran luar. Itu semua bisa buat bapak sejahtera.
Sementara kami, harus mengumpulkan keping logam ratusan untuk
menyambung hidup. Lagian kemarin bapak sudah berjanji untuk tidak
membuka lapak yang ada di atas trotoar,” hardik seorang PKL bertubuh
gempal kepada Anggota Sat Pol PP yang merobek tenda biru PKL dengan
belatinya.
Suasana kisruh, Namun melalui perdebatan yang panjang PKL minta
penggusuran ditunda sejenak sampai ketua mereka datang ke lokasi
pembongkaran. Keinginan PKL dipenuhi Satuan Pol PP yang langsung
dikomandoi Kasi Operasi, Noferman. “Kami beri waktu 10 menit. Kalau
sampai ketua kalian tak datang. Terpaksa semuanya harus “diratakan”.
Kami tak bisa menunggu lama. Masih banyak pekerjaan lain,”ulas Noferman.
Akhirnya, ketua PKL M Yamin, Madi (40) datang ke lokasi penggusuran.
Melihat lokasi lapak yang telah centang perenang, Madipun sedikit
emosi. “Dalam pembongkaran kemarin, Sat Pol PP mengatakan hanya
menertibkan lapak dan gerobak yang ada di badan jalan. Tapi sekarang
kok semuanya yang dibongkar. Apa guna janji kemarin?,”geram Madi.
Menanggapi ketidakpuasan PKL, Kasi Operasi, Noferman mengungkapkan
kepada POSMETRO kalau lapak-lapak itu berdiri di atas trotoar. Itu
semua juga melanggar Perda 11 Tahun 2005 tentang penyalahgunaan
fasilitas umum. “Lapak tersebut berada di atas trotoar dan sudah
jelas-jelas menggangu dan melanggar aturan. Trotoar adalah tempat untuk
pejalan kaki bukan untuk berjualan,”terang Noferman.
Perdebatan antara Kasi Operasi dan PKLpun “pecah”. “Utusan” Dishub Kota
Padang, Syafdan Noer yang berniat meredam suasana panaspun hanya
melongo saat dirinya dituding PKL sebagai orang yang paling bernafsu
menggusur mereka. Tak alang, tuduhan itu membuat Kasi Tekhnik sarana
Dishub Kota Padang meradang.
“Kalian sudah mengganggu ketertiban umum.
Wajar saya berniat menggusur kalian. Kalau kalian kurang senang dengan
ini semua saya siap lakukan apapun demi pengabdian untuk negara,”teriak
Syafdan Noer lantang. “Memang semua untuk negara pak. Tapi bukan untuk rakyat. Apa gunanya
bapak berjuang untuk negara kalau itu semua berimbas pada kemelaratan
rakyat,”sahud Madi tak kalah lantang.
Demi menjaga agar suasana tak bertambah panas. Kasi Operasi dan
jajarannyapun menghentikan penggusuran sejenak. Dialogpun kembali
dilancarkan. Konsweksensinya para PKL tak ingin Lapak mereka dibongkar
Sat Pol PP. “Biarlah kami yang membersihkan ini semua. Kalau memang itu
maunya Pemerintah. Tapi kami harap ada hitam putih dari semua ini. Kami
harus dicarikan lokalisasi yang tepat. Kalau tidak kami akan tetap
berjualan. Kami hanya numpang cari makan. Bukan cari kaya. Tolong beri
kami tempat yang cocok,”tambah Madi disela membersihkan puing lapak
yang berserakan.
Menurut Madi, PKL yang berjualan disepanjang trotoar adalah PKL yang
terkena imbas pembangunan SPR (Sentral Pasar Raya). Lokalisasi yang
diberikan Pemko tak memadai. Bahkan menurut Madi, dulu Pemko berjanji
membangun terminal beserta tempat untuk berdagang para PKL.
“Namun
janji hanyalah janji. Terminal dan lapak yang kami harapkan tak pernah
muncul. Sampai kapan janji akan terus menghampiri kami. Satu hal pesan
saya pada petugas, kalau memang mau buat Kota Padang bersih jangan
tanggung-tanggung. Bersihkan semuanya, Jangan hanya kami yang kena
gusur,”harap Madi mengakhiri.(o)
|