Saat ini ada 7 tamu online
Penertiban PKL Berjalan Panas, Petugas Langgar Janji pdf  | cetak |
Selasa, 22 Juli 2008
ImagePetugas sedang membongkar lapak-lapak milik PKL di kawasan M Yamin

M YAMIN, METRO
-- Episode kedua penggusuran PKL di Jalan M Yamin, Selasa (22/7) berjalan “panas”. Perang mulut antar kedua kubu tak dapat dielakkan. Para PKL tuding petugas penggusuran melanggar janji yang sudah disepakati pada Senin (21/7).

Tak tanggung-tanggung, tanpa berleha-leha, delapan lapak yang berdiri di atas trotoar M Yamin dibongkar paksa 250 orang petugas penggusuran yang terdiri dari tim gabungan, Sat Pol PP, Dishub, Dinas Pasar serta polisi dan Tim SK4. Kontan, aksi main paksa petugas mendapat perlawanan dari para PKL yang telah berkumpul. Buntutnya, perang mulut, adu argument dan aksi main tudingpun tak terelakkan.

“Jangan main paksa pak. Lapak ini adalah sarana kami cari makan. Kalau lapak ini rusak kami mau makan apa?. Bapak oke lah, setiap bulan gaji hidup, belum lagi cekeran luar. Itu semua bisa buat bapak sejahtera. Sementara kami, harus mengumpulkan keping logam ratusan untuk menyambung hidup. Lagian kemarin bapak sudah berjanji untuk tidak membuka lapak yang ada di atas trotoar,” hardik seorang PKL bertubuh gempal kepada Anggota Sat Pol PP yang merobek tenda biru PKL dengan belatinya.

Suasana kisruh, Namun melalui perdebatan yang panjang PKL minta penggusuran ditunda sejenak sampai ketua mereka datang ke lokasi pembongkaran. Keinginan PKL dipenuhi Satuan Pol PP yang langsung dikomandoi Kasi Operasi, Noferman. “Kami beri waktu 10 menit. Kalau sampai ketua kalian tak datang. Terpaksa semuanya harus “diratakan”. Kami tak bisa menunggu lama. Masih banyak pekerjaan lain,”ulas Noferman.

Akhirnya, ketua PKL M Yamin, Madi (40) datang ke lokasi penggusuran. Melihat lokasi lapak yang telah centang perenang, Madipun sedikit emosi. “Dalam pembongkaran kemarin, Sat Pol PP mengatakan hanya menertibkan lapak dan gerobak yang ada di badan jalan. Tapi sekarang kok semuanya yang dibongkar. Apa guna janji kemarin?,”geram Madi.

Menanggapi ketidakpuasan PKL, Kasi Operasi, Noferman mengungkapkan kepada POSMETRO kalau lapak-lapak itu berdiri di atas trotoar. Itu semua juga melanggar Perda 11 Tahun 2005 tentang penyalahgunaan fasilitas umum. “Lapak tersebut berada di atas trotoar dan sudah jelas-jelas menggangu dan melanggar aturan. Trotoar adalah tempat untuk pejalan kaki bukan untuk berjualan,”terang Noferman.

Perdebatan antara Kasi Operasi dan PKLpun “pecah”. “Utusan” Dishub Kota Padang, Syafdan Noer yang berniat meredam suasana panaspun hanya melongo saat dirinya dituding PKL sebagai orang yang paling bernafsu menggusur mereka. Tak alang, tuduhan itu membuat Kasi Tekhnik sarana Dishub Kota Padang meradang.

“Kalian sudah mengganggu ketertiban umum. Wajar saya berniat menggusur kalian. Kalau kalian kurang senang dengan ini semua saya siap lakukan apapun demi pengabdian untuk negara,”teriak Syafdan Noer lantang. “Memang semua untuk negara pak. Tapi bukan untuk rakyat. Apa gunanya bapak berjuang untuk negara kalau itu semua berimbas pada kemelaratan rakyat,”sahud Madi tak kalah lantang.

Demi menjaga agar suasana tak bertambah panas. Kasi Operasi dan jajarannyapun menghentikan penggusuran sejenak. Dialogpun kembali dilancarkan. Konsweksensinya para PKL tak ingin Lapak mereka dibongkar Sat Pol PP. “Biarlah kami yang membersihkan ini semua. Kalau memang itu maunya Pemerintah. Tapi kami harap ada hitam putih dari semua ini. Kami harus dicarikan lokalisasi yang tepat. Kalau tidak kami akan tetap berjualan. Kami hanya numpang cari makan. Bukan cari kaya. Tolong beri kami tempat yang cocok,”tambah Madi disela membersihkan puing lapak yang berserakan.

Menurut Madi, PKL yang berjualan disepanjang trotoar adalah PKL yang terkena imbas pembangunan SPR (Sentral Pasar Raya). Lokalisasi yang diberikan Pemko tak memadai. Bahkan menurut Madi, dulu Pemko berjanji membangun terminal beserta tempat untuk berdagang para PKL.

 “Namun janji hanyalah janji. Terminal dan lapak yang kami harapkan tak pernah muncul. Sampai kapan janji akan terus menghampiri kami. Satu hal pesan saya pada petugas, kalau memang mau buat Kota Padang bersih jangan tanggung-tanggung. Bersihkan semuanya, Jangan hanya kami yang kena gusur,”harap Madi mengakhiri.(o)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Syawir seorang Pemulung Tanpa Tempat Tinggal, Hidup Sebatang Kara

03.09.2008 | Metro Humaniora

Usaha pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesajahteraan masyarakat telah tertata rapi. Namun secara kontek perlu penelusuran,…

Gaya Rambut 2009

20.11.2008 | Metro Gaya

GAYA potongan maupun pewarnaan rambut yang dipilih dapat membangun karakter dan imej seseorang, pun demikian dengan kaum pekerja.…

peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Catatan Bapedalda Kota Padang, Batang Arau Paling Parah Tercemar

20.11.2008 | Metro Padang

SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…



advert-4.jpg

indosat.gif