Saat ini ada 18 tamu online
Pacaran Sehat Remaja pdf  | cetak |
Minggu, 03 Agustus 2008
MASA remaja adalah masa yang indah. Banyak hal yang terjadi dalam masa transisi remaja dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Satu proses masa yang semua anak manusia telah, sedang dan akan terjadi dalam sebuah proses tumbuh kembang remaja.
Dunia remaja memang unik, sejuta peristiwa terjadi dan sering diciptakan dengan ide-ide yang cermelang dan positif. Namun demikian, tidak sedikit juga hal-hal negatif yang terjadi.  Salah satu yang menarik dan terjadi dalam dunia remaja adalah tren pacaran yang digemari sebagian remaja— walau tidak sedikit juga orang dewasa gemar melakukannya.

Dan kalau boleh dibilang pacaran bak makan kacang rebus saat nonton sepak bola. Bahkan ada rumor  yang menarik— bila masih ada remaja yang belum punya pacar berarti belum memperoleh identitas diri yang lengkap. Sebagian ada yang mendefinisikan pacaran adalah ajang dari untuk mendapatkan kepuasan libido seksual, atau pacaran hanya sebagai lebel “ saya punya pacar dan dapat mendongkrak rasa percaya diri (PD) “. 

Atau pacaran adalah suatu hal yang penting, karena dengan pacaran, ada yang bisa membantu kita dalam mengatasi persoalan hidup. Pacaran atau tidak di zaman canggih sekarang ini, adalah sebuah pilihan. Tak ada lagi aturan yang mengatakan bahwa remaja nggak gaul kalau tak pacaran. Kalau tidak ingin pacaran, ya tidak usah pacaran. Orang pacaran musti jelas motivasinya, dan harus positif.

Yang namanya pacaran pasti ada efeknya dengan kehidupan kita. Bisa berefek positif, bisa juga berefek negatif. Namun, semua tergantung bagaimana kita menjalaninya. Pacaran boleh saja, tapi harus mengerti batasannya. Pacaran “sehat” harus diterapkan oleh para remaja agar tidak terkena akibatnya. Nah, bagaimana gaya pacaran yang bisa kita sebut dengan pacaran sehat?

Sehat secara psikologis

Pacaran biasanya tujuannya untuk saling mengenal satu sama lain. Buat remaja pacaran biasanya identik dengan hepi-hepi. Bisa saling mengekspresikan rasa sayang, cinta, saling memberi dukungan, dan pokoknya ada temen yang asik punya untuk diajak kemana mana. Pacaran menjadi tidak sehat kalau mulai main paksa paksaan, cemburu berlebihan, terlalu posesif. Bukannya senag-senang yang didapat, tapi malah bikin stress, ketakutan, tertekan, selalu terpaksa.

Sehat secara fisik

Biasanya yang paling ditakutkan orang tua kalau sang anak pacaran adalah bahwa anaknya--terutama perempuan-- tidak bisa menjaga diri agar “tetap utuh”. Karena orang tua tahu dan masih ingat bagaimana yang namanya remaja itu sangat bergejolak, selalu ingin coba coba, dan mudah terpengaruh. Banyak remaja perempuan hamil karena pengen coba coba dan tak bisa menolak bujukan pacar.

Akhirnya gara gara mereka berdua tak punya kekuatan untuk menjadi diri sendiri, jadinya tergelincir dan mencoba melakukan hubungan seksual dan akhirnya menyesal seumur hidup. Tadinya hubungan seks pertama yang mereka pikir bakal indah tidak terlupakan, ternyata memang bener bener tak terlupakan, saking menyesalnya. Kehamilan hanya salah satu resiko. Belum kalau kena PMS (Penyakit Menular Seksual). Nah, jadi pacaran yang sehat salah satunya adalah tidak menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, dan gangguan fisik lainnya (selaput dara robek, dll).

Sehat emosional

Hubungan kita dengan orang lain akan terjalin dengan baik apabila ada rasa nyaman, saling pengertian, dan juga keterbukaan. Kita tidak hanya dituntut untuk mengenali emosi diri sendiri, tetapi juga emosi orang lain. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengungkapkan dan mengendalikan emosi dengan baik.

Sehat seksual

Secara biologis, kaum remaja mengalami perkembangan dan kematangan seks. Tanpa disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Kedekatan secara fisik dapat mendorong keinginan untuk melakukan kontak fisik yang lebih jauh. Jika hal itu diteruskan dan tidak terkontrol, maka dapat menimbulkan hal-hal yang sangat berisiko.

Sehat secara sosial

Pacaran sebaiknya bersifat tidak mengikat, artinya hubungan sosial dengan yang lain tetap harus dijaga dan kita tidak selalu fokus hanya pada pacar saja. Sekarang, banyak remaja yang pacaran di tempat umum yang membuat mata melotot. Pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMP pacaran di halte bus kota dan pusat perbelanjaan. Tanpa memikirkan sekelilingnya, mereka sambil pegang tangan dan saling pelukan tak peduli banyak orang ngelihat.

Perilaku pacaran remaja yang sudah "bebas" seperti itu tidak pantas. Jangan lupa bahwa kita hidup di masyarakat yang memiliki norma dan adat istiadat yang berlaku umum di lingkungan kita. Kalau gaya pacaran  sudah membuat masalah di lingkungan, berarti pacaran kita udah nggak sehat. Selain norma masyarakat kita juga punya norma agama. Agama juga memberikan batasan batasan bagi kita dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. (ren)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Catatan Bapedalda Kota Padang, Batang Arau Paling Parah Tercemar

20.11.2008 | Metro Padang

SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…



advert-4.jpg

indosat.gif