|
Tindakan menyimpang masyarakat yang marak terjadi akhir-akhir ini,
menurut akademisi IAIN Imam Bonjol Padang (IAIN IB Padang), Dr Duski
Samad, indikasi kemerosotan moral, sosial dan agama. Lembaga keluarga
yang selama ini mengontrol tingkah laku tergerus dan makin rapuh.
Menurutnya, kontrol masyarakat yang pertama ada pada keluarganya. Keluarga bukan saja ayah, ibu dan anak-anak, tetapi juga masyarakat. “Ini bukti lemahnya keluarga. Sudah saatnya back to family,” katanya yang dihubungi Tim Telusur, Sabtu (2/8). Setidaknya ada tiga indikasi terjadinya penyimpangan prilaku, termasuk pembuangan bayi. Selain bukti terjadinya kemerosotan moral, sosial juga agama. Terjadinya perubahan sosial yang begitu cepat, tidak mampu diikuti kedewasaan masyarakat berfikir. Selain itu, juga dampak tontonan dan tayangan.
“Setiap hari masyarakat melihat perbuatan-perbuatan seperti itu di layar kaca. Akhirnya lama-lama menjadi kebiasaan. Perbuatan membuang bayi, anak sendiri, sunguh tindakan yang biadab. Binatang saja tidak melakukan hal itu,” jelasnya. Meski faktor ekonomi juga berpengaruh, tindakan membuang bayi juga indikasi lemahnya kontrol sosial. “Yang paling utama penyebanya ada pada pribadi. Kalau faktor ekonomi, sepertinya tidak terlalu kuat,” tambahnya.
Duski Samad menghimbau masyarakat menghargai hidup. Karena hidup bukan saja material saja, tetapi juga pengetahuan agama. Ulama, pemerintah dan tokoh masyarakat harus turun tangan memperkuat moralitas masyarakat. Pasalnya prilaku menyimpang adalah bukti labilnya masyarakat Minangkabau. “Ketertiban sosial kita melemah. Perlu digalakan pengembangan kesadaran masyarakat. Karena ini bukti labilnya masyarakat kita,” tandasnya. (***)
|