Saat ini ada 16 tamu online
Maraknya Kasus uang Bayi di Sumbar pdf  | cetak |
Minggu, 03 Agustus 2008
Bahkan Jin Pun  Tak Buang Anak
Saat itu, Sabtu 23 Februari 2008 silam. Jam menunjukan pukul 03.30 WIB saat Fera pertamakali mendengar tangisan pilu itu. Dia yakin, tangisan bayi tersebut berasal tepat dari belakang rumah permanen milik keluarganya. Seketika keluarga itu terhentak dari tidur lelapnya dan mencoba mencari asal muasal suara tangisan.  Butuh setengah jam, sebelum mereka menemukan sumber suara itu.
Ada ketakutan, karena itu bukan kejadian biasa. Apalagi rumah keluarga Fera berada di tempat yang agak sepi. “Aneh memang, di dekat rumah kami, tidak ada yang baru melahirkan,” Fera Martanela (24) berujar dalam hati. Perlahan, seluruh keluarga itu tersentak saat melihat sebuah baskom Merah Hati. Didalamnya terdapat bayi merah yang masih diselimuti darah dan ari-ari (tali pusar). Bayi inilah yang terus menangis dan ditemukan keluarga Fera. Ditelisik, bayi ini berjenis kelamin laki-laki.

Kata Fera, saat ditemukan, bayi malang ini diperkirakan benar-benar baru dilahirkan. Sangat jelas, kalau darah yang masih menempel itu menandakan belum ada 2 jam bayi itu menikmati dunia luar. Saat ditemukan, bayi ini hanya beralaskan sebuah kantong kresek. Dia ditemukan di bawah tali jemuran keluarga Nini (50)-orang tua Fera. Melihat kondisi rumahnya, Fera tidak yakin kalau bayi laki-laki itu dibuang tetangga sekitar mereka. Kemungkinan besar, bayi itu dibuang seseorang yang cukup jauh dari rumah mereka, tapi memahami jalur ke Jalan Pertanian itu.

Dia memperkirakan, kalau bayi itu dibuang orang dengan mengendarai sepeda motor atau mobil. Penemuan bayi oleh keluarga Fera itu, merupakan rangkain kisah panjang pembuangan bayi oleh orang tua atau kerabatnya. Data yang dimiliki koran ini, sepanjang 2007 sampai 2008, ditemukan 18 kasus bayi yang dibuang di Sumbar. Umumnya saat ditemukan warga, sang bayi malang yang belum berdosa ini sudah tidak lagi bernyawa.

Angka itu bukan angka valid. Dipastikan puluhan atau bahkan ratusan kasus serupa bisa saja terjadi. Tapi tidak terungkap publik. Melihat trendnya, terjadi peningkatan yang signifikan jumlah pembuangan bayi di tahun 2008 ini. Sampai Juli, setidaknya telah ditemukan 6 bayi yang dibuang atau ditinggal orang tuanya. Itu artinya, setiap satu bulan ada satu bayi yang ditelantarkan. (Lihat : Bayi yang Dibuang Selama 2007-2008) Sebenarnya apa yang mendorong manusia setega itu melakukan perbuatan yang bahkan Jin sendiri pun, tidak akan membuang anaknya. Banyak faktor penyebab.

Namun yang pasti, hanya ada dua jawaban kenapa seseorang membuang anak yang baru dilahirkan, kalau bukan hasil hubungan seks pranikah oleh remaja, berarti hasil hubungan gelap (selingkuhan). Menurut Plh Kepala BKKBN Sumbar Drs Ary Goedadi, pendidikan reproduksi bisa menjadi salah satu solusi mengatasi hamil diluar nikah, yang seringkali berujung pada pembuangan bayi. Meski tidak bisa mengatasi, setidaknya pendidikan reproduksi terutama untuk remaja, berguna mengenalkan mereka pada alat-alat reproduksi.

Didampingi Kasi Advokasi dan KIE BKKBN Sumbar Elfa Zulmaini SE MPd, Ary Goedadi mengatakan pendidikan reproduksi remaja dilakukan secara sensitif gender, pada laki-laki dan perempuan. “Banyak pihak yang terlibat dalam mengatasi hal ini, BKKBN memiliki domain pada pemberian pendidikan kepada remaja. Kepolisian, ulama dan Dinas Kesehatan juga berperan aktif,” katanya.

Bukan saja pembuangan bayi, seks pranikah juga berujung pada Aborsi. Menurut survei yang dilakukan sebuah lembaga kesehatan (SKI) 2002 kasus aborsi terjadi 2,5 juta tiap tahunnya yang berujung pada kematian. Perbuatan yang dilakukan pasangan sudah menikah dan remaja ini berkontribusi besar dalam kasus kematian ibu dan anak di Indonesia saat ini.

Pornografi Disekitar Kita

Meski bukan satu-satunya penyebab, maraknya penyebaran VCD porno bisa menjadi salah satu faktor hamil di luar nikah. Dalam survey yang dilakukan Yayasan Kusuma Bangsa (YKB) yang dimuat dalam buku Sumber advokasi keluarga berencana terbitan BKKBN, menyebutkan remaja laki-laki di bawah umur 20 tahun sebanyak 48,8 persen sudah pernah menonton film porno pertama kalinya saat berumur 16,3 tahun.

Sedang yang berumur di atas 20 tahun, sebanyak 71,4 persen menonton film porno saat berumur 17,9 tahun. Sementara untuk remaja perempuan, usia dibawah 20 tahun sebanyak 15,9 persen terpapar bacaan porno pertama kali saat berusia 16 tahun. Dan remaja perempuan berusia diatas 20 tahun, sebanyak 23,8 persennya terpapar bacaan porno pertama kali saat berusia 18,9 tahun.

Survey diatas dilakukan oleh YKB pada tahun 1993. Bayangkan persentase saat ini, dimana pornografi ada disekeliling kita. Internet, VCD porno bisa didapatkan dimana saja. Penelusuran Tim Telusur di sepanjang Jalan Permindo Padang beberapa hari yang lalu, setidaknya menggambarkan hal itu. Baru saja Tim Telusur menjejakan kaki di salah satu pedagang VCD, langsung disodorkan beberapa keping VCD porno.

“Ko mantap ma bang. Wak lah nonton sado alahe,” ungkap sang pedagang. Diperkirakan umurnya masih remaja, sekitaran 15 atau 16 tahun. Melihat Tim Telusur ragu, remaja ini langsung menawarkan hal lain. “Kalau yang sabananyo adoh juo bang,” tambahnya. Maksud kata-kata “nan sabananyo” itu adalah film-film dewasa. “Film triple bang,” katanya santai. Bukan cuma anak muda penyuka film-film seperti itu. Saat Tim Telusur berkunjung ke salah satu instansi pemerintahan, dengan santai beberapa pegawai membahas film dewasa itu.

Salah seorang PNS tanpa sungkan meminjam beberapa keping VCD. “Yang patang tu ma pak, ambo alun nonton sadonyo lai,” ujarnya PNS perempuan ini. Dengan pornografi di sekitar kita, makanya bukan lagi kejutan jika remaja hamil pranikah. Yang pada akhirnya bisa saja berujung pada pembuangan bayi, tindakan terendah manusia, yang Jin saja mungkin tidak akan menirunya. (***)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

Catatan Bapedalda Kota Padang, Batang Arau Paling Parah Tercemar

20.11.2008 | Metro Padang

SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…



advert-4.jpg

indosat.gif