|
Pendidikan kesehatan reproduksi (Respro) salah satu cara mengatasi
prilaku menyimpang remaja. Mereka diajarkan mengenal alat reproduksi,
sehingga bisa meng hindari seks luar nikah dan aborsi. Pengetahuan
remaja—berusia 14 hingga 24 tahun—tentang resiko melakukan hubungan
seks masih rendah.
Plh Kepala BKKBN Sumbar Ary Goedadi kepada Tim Telusur, Jumat (1/8) mengatakan pencegahan prilaku menyimpang itu dilakukan melalui program promotif, preventif dan kuratif. Diantaranya, dengan pelatihan kepada remaja untuk membentuk PIKK KRR (Pusat Informasi Konseling Kesehatan Repruksi Remaja).
BKKBN menempuh pendekatan dalam membentuk PIKK KRR ini melalui sekolah dan luar sekolah. Sejak lima tahun terakhir, sudah dilatih guru-guru Biologi dan remaja SMP-SMA untuk menjadi konselor bagi remaja lainnya. Saat ini setidaknya ada 742 konselor sebaya (remaja) dan 436 orang pendidik sebaya di Sumbar. “Teman sebaya lebih tinggi pengaruhnya daripada orang tua dan guru. Remaja lebih mau terbuka dengan teman-temannya,” lanjutnya didampingi Kasi Advokasi dan KIE BKKBN Sumbar Elfa Zulmaini SE MPd.
Pernyataan Goedadi ini senada dengan hasil survey indikator kinerja KB nasional/SIPI 2003. Dalam kajiannya terhadap remaja 10-24 tahun, hanya 46 persen remaja yang pernah membicarakan KRR (Kesehatan reproduksi remaja) dengan ibunya dan hanya 17 persen yang membicarakan dengan ayah. Demikian juga untuk remaja wanita, hanya 49 persen yang bicara KRR dengan orang tuanya dan 13 persen remaja laki-laki yang membicarakan dengan orang tua. Ini berarti mereka lebih sering membicarakan soal itu dengan teman sebaya atau lainnya.
“Seks dan reproduksi remaja masih tabu. Orang tua masih malu berbicara terbuka tentang masalah tersebut kepada anaknya. Padahal itu penting. Tinggal bagaimana penyampainnya,” terangnya. Program Pusat Informasi dan Kosultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) itu diharapkan dapat membantu remaja untuk saling tukar informasi. Program KRR bertujuan membantu remaja agar memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan prilaku kehidupan—sehat, bertanggung jawab.
“Selain PIKK KRR, kita juga memberikan pelatihan kepada orang tua dalam bentuk BKR (Bina keluarga Remaja). Kita masuk pada semua lini. termasuk juga Saka Kencana yang diintegrasikan dengan kegiatan pramuka,” imbuhnya. Idealnya, seorang anak belum masa puberitas, paling tidak telah mengetahui sistem, proses, dan fungsi reproduksi secara sederhana. Pada masa puberitas, remaja akan mengalami perubahan seperti mendapatkan menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah untuk laki-laki.
“Dengan adanya informasi kesehatan reproduksi remaja para remaja tidak lagi mengalami rasa bersalah, kebingungan dan stres,” tukasnya. Tukar informasi anak dengan orang tua mengenai pengenalan reproduksi remaja akan membantu anak mengetahui alat reproduksinya. Prilaku hubungan seksual sebelum menikah makin sering dipraktekan oleh para remaja. Makin banyak remaja yang terjangkit berbagai jenis penyakit menular seksual (PMS). Dan tidak sedikit remaja yang melakukan tindakan aborsi (pengguguran kandungan).
Analisa yang dilakukan Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi Univesrsitas Indonesia, sekitar 43 respoden melahirkan anak pertamanya kurang dari 9 bulan sejak tanggal pernikahannya. Meski angka tersebut meliputi angka kelahiran prematur—namun tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat proporsi cukup besar di antara mereka yang hamil sebelum menikah. Sedang aborsi, diperkirakan kasus aborsi adalah 2,4 juta per tahun dan sekitar 700 ribu dilakukan oleh remaja. Hal itu, tentu sangat menyedihkan dan harus diantisipasi sedini mungkin. (***)
|