|
“Halo, sekarang saya dalam perjalanan menuju Padang. Tunggu saya di..?
Hallo...hallo,” teriak Hamdi (21) mahasiswa FISIPOL Universitas Eka
Sakti (Unes). Namun tak ada jawaban, hanya bunyi tut...tut..tut yang
terdengar dari seberang sana. Jaringan GSM Hamdi terganggu, sinyal
rusak.
Wajah Hamdi terlihat kusut, sudah beberapa hari ini jaringan hand phonenya rusak melulu. Padahal, Hamdi lagi butuh. Namun entahlah, Hamdi tidak tahu apa kendala yang dihadapi provider seluler di pusatnya sana. Sejenak dia memperhatikan HP-nya, model keluaran terbaru dengan fasilitas yahud. “Kalau kayak gini lama-lama saya bisa pangling. Saya butuh telephone dengan jaringan yang bersih, tanpa kendala dan bisa menjamin sinyal kuat dimanapun saya berada. Kapan ya, di Kota Padang hadir fasilitas seperti itu,” ulas Hamdi dengan wajah tak ceria.
Gayung bersambut, keinginan Hamdi terwujud sudah dengan lahirnya revolusi jaringan telephone baru. Tepat 4 Oktober 2007 silam, Esia Bakrie Telephone yang terkenal dengan tarif murah hadir di Kota Padang. Pemanjaan kepada masyarakat pemakai Esia pun dilakukan. Tidak kurang 20 ribu nomor Esia dan 1000 nomor Wifone telah disiapkan perusahaan “Cap Jembol” itu untuk melayani Kota Padang. Tak sampai disitu, Bakrie Telecom juga menyiapkan 5 ribu unit HP Esia yang dipasarkan dengan harga Rp 199 ribu (diluar Ppn). Suatu jawaban bagi para perindu jaringan murah dan terjamin.
“Datangnya” Esia ke Kota Padang membuat sumringah para maniak SMS Kota Padang. Begitu pun dengan Hamdi, mahasiswa semester empat ini bangga dengan hadirnya esia. Berselang satu hari bercakap dengan penulis, keesokkannya ponsel Hamdi sudah berganti Esia warna keluaran terbaru. “Pakai Esia hemat banget. Nelpon ke semua nomor esia dan Wifone se-Indonesia, dari menit pertama hanya Rp50,-/menit. Bahkan kalau nelphone sejam non stop cuma Rp 1000, saya benar-benar puas. Bahkan baterainya tahan sampai beberapa hari. Yahud abis,” ujar Hamdi sembari memamerkan HP-nya.
Terus berlanjut, revolusi memanjakan konsumen terus digalakkan Bakrie Telecom. Sebanyak 50 unit telephone koin atau disebut Esiatel, disebar merata di penjuru Kota Padang. Tak pelak lagi, kehadiran Bakrie Telecom yang selama ini dikenal sebagai operator pelopor tarif telepon murah, semakin meramaikan pasar persaingan telepon di Kota Padang. Menurut Amdoni Vice President Marketing Support BTEL, persaingan itu adalah suatu hal yang wajar. Bahkan berdampak positif, karena masyarakat punya lebih banyak pilihan memenuhi kebutuhan teleponnya.
Walaupun telah dikenal sebagai operator telepon murah, Bakrie Telecom lewat Esia & wifone tidak akan terjebak dalam perang tariff yang saat ini ramai mewarnai persaingan antar operator telekomunikasi di Indonesia. “Ini penting karena kami ingin transparan kepada pelanggan. Dengan Rp 50 per menit dan Rp 1000 per jam, tarif Esia & Wifone tetap hemat dan terjangkau bagi pelanggan. Sekaligus juga masih memberikan keuntungan bagi perusahaan untuk berkembang lebih lanjut. Kami ingin perusahaan tumbuh sehat sehingga tetap dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat, baik melalui tarif percakapan telepon, pengiriman sms maupun kualitas layanan.
Pun bagi bangsa ini dengan membuka ruang isolasi daerah dengan membuka akses telekomunikasi yang memungkinkan potensi daerah menjadi lebih bergairah” jelas Amdoni. Di 2007 lalu, Esia & Wifone yang adalah produk unggulan Bakrie Telecom telah membuka layanan di 34 kota dengan jumlah pelanggan mencapai 3,8 juta pelanggan. Diharapkan laju pertumbuhan itu semakin meningkat, sehingga akhir tahun 2008 mendatang, jumlah pelanggan Bakrie Telecom bisa mencapai 7 juta pelanggan.
Selain perluasan wilayah layanan, Bakrie Telecom juga memperhatikan tingkat kualitas layanan di wilayah yang telah dilayaninya selama ini. Tidak kurang seribu BTS akan ditambah, dengan mengandalkan 80% diantaranya melalui penggunaan menara bersama. Strategi memanfaatkan BTS secara, bersama selain akan mempercepat laju perluasan wilayah layanan, juga akan mengefisienkan dana pembangunan jaringan. Dengan strategi menjalin kemitraan dengan pihak lain dalam memanfaatkan BTS, Bakrie Telecom dapat menghemat belanja modal hingga 25 persen.
Bakrie Telecom telah menganggarkan belanja modal (capex) sebesar US$ 232 juta pada 2008 ini. Dari anggaran sebesar itu, BTEL memanfaatkan US$ 136,8 juta diantaranya untuk menambah BTS, kemudian US$ 39,4 juta untuk pengadaan sarana penunjang transmisi dan US$ 55,6 juta untuk pengembangan teknologi informasi. Esia juga mengeluarkan HP CDMA paling murah. HP kreasi warna tersebut dilabeli dengan nama HUAWEI C2601.
Hanya dengan harga Rp.199 ribu. Esia Bakrie berharap, hal itu membuat para konsumen GSM berpindah aliran menjadi pengguna CDMA. Dengan fitur yang ngak malu-maulin dan menjadikan HP ini primadonna CDMA saat ini. M Anis Yunianto, VP Regional Business Operation of West Indonesia menekankan bahwa Esia semakin berbenah untuk menarik pangsa pasar. "Paket "Hape Esia Dobel Untung” dan paket ”Hape Esia Penuh Warna” telah menunjukkan bahwa kami semakin solid untuk mewujudkan misi memperluas akses telekomunikasi dengan kualitas ponsel yang terjaga," katanya.
Banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh para Esia maniak. Tarif percakapan murah, kualitas ponsel prima dan dukungan jaringan yang memadai adalah sederet kemudahan yang diberikan Esia Bakrie. Memang untung pakai Esia. Tak percaya, lebih baik langsung dicoba. Esia bukan sekedar tebar pesona namun juga mengutamakan mutu serta, tentu saja berbagai kemudahan. (***)
|