|
Minggu pagi (10/8) gedung SPR (Sentral Pasar Raya) tampak ramai
dikunjungi. Ratusan orang tampak berbondong-bondong menghamburkan uang
di sentral grosir Kota Padang itu. Namun, di tengah kerumunan masa
tersebut, tampak sebentuk tubuh renta perempuan tua. Kepalanya nampak
dibebani nampan yang berisi gundukan kacang rebus yang masih
mengeluarkan asap hangat.
Aminah (56), begitulah wanita tua itu disapa. Memakai baju rendaan tipis warna orange tubuh kurus Aminah tampak menyelinap di antara kerumunan orang. Beban dikepalanya seimbang megikuti irama langkah kakinya yang hanya dialasi sandal berlainan warna, hijau dan biru. Aminah tampak tertatih menapak di atas aspal yang ditimpa mentari pagi.
“Kacang rebus, masih hangat, balilah nak agak sagaleh,”lantang Aminah meneriakkan dagangannya di samping SPR. Namun tak ada yang peduli. Teriakan Aminah tertelan bunyi klakson oplet yang berhampur pagi itu. Aminah tak menyerah, dia pun mulai menghampiri satu per satu orang-orang yang ada di depannya. Teriakan untuk menawarkan kacangnya semakin nyaring. Tak banyak yang mengetahui atau yang peduli dengan Aminah. Di usia senjanya, Aminah hidup sebatang kara. Jalan Gurun Pasir adalah tempat Aminah berdiam.
Kacang yang dijajakannyapun diambil dari orang lain dengan perjanjian bagi untung. Walaupun sudah tua, Aminah tampak tabah menjalankan hari-harinya sebagai penjual kacang keliling. “Mau bagaimana lagi nak, kalau tidak begini, nenek mau makan apa?. Nenek tak punya siapa-siapa untuk dijadikan tempat sandaran. Nenek hidup sendiri semenjak kakek meninggal 10 tahun yang lalu. Nenek tak punya anak,”celoteh Nenek membuka bongkahan kain yang menopang kepalanya dari beban nampan kacang rebus.
Kehidupan Aminah memang berliku, dari pencari barang buruak, kaleng bekas hingga tukang penghuni WC-pun pernah dilakoninya. Hanya satu tujuan Aminah, agar perut kerempengnya tak pernah berhenti makan. Aminah tetap tegar. “Alah banyak nan dijalani nak. Samakin batambah tuo hiduik ko, nampaknyo samakin marasai badan ambo. Alah untuang masih bisa karajo. Kalau indak, alamaik panyakik nan ka tibo karano kurang makan,”celoteh Aminah sembari melayani seorang kenek oplet yang membeli kacangnya seribu rupiah.
Tiba-tiba Aminah berdiri. Dengan cekatan tangannya menyambar gagangnampan, menaikan ke atas kepalanya. “Saya mau ke Imam Bonjol, kalau pagi minggu biasanya banya yang senam di sana. Mudah-mudahan kacang laku agar saya bisa cepat pulang,” ulas Aminah seberangi jalan M Yamin, menelikung disamping Tugu Pancoran dan menghilang di balik angkot yang berjejer disekeliling tugu tersebut, (***)
|