|
Bantu Orang Tua Cari Barang Bekas |
pdf
|
| cetak |
|
|
Rabu, 20 Agustus 2008 |
|
Rumah gubuk di persimpangan Jalan Jakarta Ulak Karang Padang itu terlihat kotras dengan bangunan sekelilingnya. Beratap rumbia, berdinding papan, dengan beranda dari bambu seorang bocah duduk sembari memilah tumpukan barang bekas di depannya.
Bocah sekolah dasar itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Namanya
Anto Putra. Orang tuanya saat POSMETRO bertandang tidak berada di
rumah. “Sedang berjualan di Ulak karang,” kata Anto menjawab pertanyaan
POSMETRO, beberapa waktu lalu.
Diperhatikan seksama, tumpukan barang bekas yang dipilah sang bocah
bukanlah sampah kotor sisa limbah rumah tangga. Melainkan sampah yang
terdiri dari puluhan botol plastik, kaleng alumunium dan kertas koran.
Melihat komposisi tumpukan itu, tahulah kita kalau barang yang ada di
depannya itu sudah melewati seleksi pula sebelum berada di depannya
sekarang.
Sepulang sekolah Anto selalu meluangkan waktu untuk memilih tumpukan
barang bekas tersebut. Bila hari libur, dia berkeliling seorang diri
mencari tumpukan sampah dan tempat keramainan dengan harapan bisa
mebawa pulang satu karung barang bekas yang bisa dijual lagi untuk
menambah uang saku.
Ibunya, Nurhayati pulang nanti sore. Sementara bapaknya yang tua
mendekati usia kepala lima bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik
makanan di ulak karang. Penghasilan dari pekerjaan itu terblang
pas-passan. Sehingga rumah kayu yang ditempati bertahan hingga puluhan
tahun. Jauh sebelum Anto terlahir ke dunia fana ini. Sementara itu
dalam waktu relatif singkat, di kiri-kanan tempat dia tinggal sudah
berdiri pemukiman mewah dengan cat dinding mengkilat dan atap tinggi
mengapit bangunan mungil tempatnya tinggal.
Anto lebih mujur dibandingkan teman se usianya yang masih berada di
jalanan menyambung hidup. Kendati dihidupi oleh orang tua kurang mampu
namun ia merasa betah tinggal di rumah dan terus belajar. Penerimaan
rapor kemarin bocah ini belum mendapat juara kelas. Tapi semangatnya
belum pudar untuk tetap eksis di sekolah.
Berbekal niat seperti itu, jari-jari mungilnya lincah memilah tumpukan
barang bekas. Kata Anto, barang bekas itu dijual satu kali seminggu.
Saat itu jumlahnya sudah cukup banyak dibandingkan harus di jual setiap
hari.Kertas, kaleng dan botol plastik yang dihargai Rp 2.000-4.000/kilo
itu terkumpul uang Rp 40-50 ribu setiap minggu. Pendapatannya itu bakal
berlipat bila mujur mendapatkan besi bukan yang harga jualnya relatif
tinggi.
“Kadang dibantu ibu mencari barang bekas. Tapi sekarang beliau masih
jualan. Biasanya waktu libur kami mencari barang bekas bersama-sama,”
imbuh bocah yang terlihat akrab dengan pekerjaannya itu. Tidak jauh
dari rumah sang bocah, hiruk pikuk politisi terdengar sayup dari kantor
KPUD Padang.(heru dahnur)
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
SUBARANG PALINGGAM, METRO--Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang mencatat Batang Arau sebagai sungai yang paling parah…
|
|