Saat ini ada 2 tamu online
Ramadhan Datang, Balimau Dirancang pdf  | cetak |
Rabu, 27 Agustus 2008
ImageBalimau-Balimau jelang Ramdahan sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di daerah ini. Tampak warga melakukan balimau di salah satu objek  wisata di Kota Padang jelang bulan puasa tahun 2007 lalu.
Belakangan, lanjutnya, tradisi ini mulai disisipi hal-hal yang tidak baik secara agama dan adat. Khusus di Kota Padang, keterbatasan tempat-tempat rekreasi pemandian dan memiliki penduduk yang banyak, membuat masyarakat menumpuk pada titik-titik tertentu. Ajang itu juga terkesan mencampur baurkan laki dan perempuan. “Keinginan masyarakat untuk balimau semakin besar dan tak terbendung,” katanya saat dihubungi kemarin.

Zainuddin menyebutkan, pengertian utama dari balimau adalah bergembira menyambut datangnya puasa dan pergi ke tempat-tempat yang indah. “Tapi, seharusnya kehatian-hatian agar jangan terjerumus dari dosa, harus diantisipasi sejak sekarang. Peranan ninik mamak sangat diperlukan. Mereka harus terus mengkontrol anak kemenakan agar lebih sopan,” tegas Zainuddin.

Untuk limau dan bunga-bungaan, Zainuddin tidak mengartikannya sebagai bentuk yang tidak baik atau seperti kepercayaan. Limau yang digunakan itu hanyalah alat untuk membersihkan tubuh dan membuatnya lebih wangi. Tradisi balimau itu, seharusnya dapat menjadikan masyarakat lebih memaknai datangnya bulan suci. Jangan malah sebaliknya, saling bermaksiat di tempat-tempat tertentu.

Tahun ini, LKAAM Kota Padang kata Zainuddin bersama Pemko Padang akan terus mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu larut dalam melaksanakan tradisi ini. “Kita tidak akan melarang apalagi mengharamkan. Namun, kepada masyarakat kami imbau untuk terus berada dalam koridor dan agama dan adat,” lanjutnya.
Sementara Ketua MUI Padang H Syamsul Bahri Khatib tidak melarang masyarakat untuk melakukan rekreasi (tamasya) untuk menyambut Bulan Ramadhan. Tapi, dia mengimbau, masyarakat terus menjaga norma-norma adat dan atama yang telah ditanamkan sejak lama. “Kalau cuma untuk mandi bersih-bersih, cukup di rumah saja,” ujarnya.

Kegembiraan memasuki bulan suci memang dianjurkan kepada setiap Muslim. Tapi, caranya tetap dalam koridor. Yang paling penting adalah membersihkan bathin dari segala iri, dengki, hasud dan sakwasangka. Setelah itu barulah beranjak untuk membersihan lingkungan sekitar.

“Daripada pergi ke tempat-tempat rekreasi dan membuat maksiat, sebaiknya membersihkan lingkungan tempat tinggal. Mulai dari masjid, mushalla, sura atau jalan-jalan di sekitar RT,” tegas ketua MUI. “Masyarakat harus menampakkan kegembiraan dan kekompakan sebelum puasa. Ini dapat diwujudkan dengan gotong royong.”

Soal fatwa halal haramnya balimau, Syamsul Barhi tidak banyak berkomentar. Katanya, semua pekerjaan itu tergantung niat dan bagaimana melaksanakannya. Kalau cuma sekedar rekreasi keluarga dan tidak bercampur baur di tempat terbuka, tidak akan ada larangannya.

“Yang menjadikannya haram itu adalah, ketika masyarakat tidak lagi menyadari batasan-batasan yang ada. Mereka mandi bersama lelaki perempuan di tempat terbuka dengan aurat yang tampak. Kalau  begini, apa tidak haram,” sesal Ketua MUI. “Jadi, hindarilah upaya-upaya godaan syetan semacam ini.” Intinya, lanjutnya, tidak akan ada yang secara langsung mematwakan balimau haram atau halal. “Semua tergantung bagaimana menjalaninya saja,” tutupnya (rvi)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
peristiwa.gif

Kondisi Jalan di Tuapejat Memprihatinkan

20.11.2008

TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…

banner_padek.gif

metro_padang.gif

BKD Tolak 830 Lamaran CPNS

20.11.2008 | Metro Padang

M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…



advert-4.jpg

indosat.gif