|
Puluhan KK Masih Bertahan di Bukik Lantiak |
pdf
|
| cetak |
|
|
Kamis, 28 Agustus 2008 |
|
BUKIK LANTIAK, METRO-- Puluhan kepala keluarga (KK) masih bertahan menghuni lereng Bukik Lantiak. Bahaya longsor yang bisa menghantam setiap saat seakan terlupakan. Warga masih menunggu proses evakuasi yang bakalan digelar oleh pemerintah kota. Namun hingga saat ini evakuasi belum dilakukan dan bahaya selalu mengintai setiap saat. “Kami mau pindah kalau ada lahan disediakan untuk membangun rumah,” ujar Syaiful, salah seorang warga Bukik Lantiak kepada POSMETRO Rabu (27/8)
Sembari menunggu campur tangan pemerintah, kehidupan warga yang tinggal
di lereng Bukik Lantiak tetap berjalan seperti biasa. Umumnya mereka
bermata pencaharian nelayan dan sebagian kecil berprofesi sebagai
petani.
Setiap hari belasan pelajar menuruni tangga batu yang disusun
sedemikian rupa untuk menuju sekolah di kaki bukit. Sedikit saja
tergelincir, pelajar bisa terperosok dari perbukitan yang berdiri
curam. Namun lagi-lagi resiko seperti itu diabaikan dengan alasan telah
terbiasa melewati jalan tersebut. Sementara itu, bila musim penghujan
tiba, rasa was-was menyelimuti penghuni rumah dikarenakan kerap
terdengar suara gemuruh dari puncak bukit. “Perasaan khawatir tentu
ada. Tapi itu sudah biasa. Ini kampung kami,”imbuh pria yang bekerja
sebagai nelayan itu.
Mengantisipasi datangnya longsor, sejumlah warga mengaku sengaja
menamam banyak pohon di areal puncak bukit. mereka juga menyepakati
tidak akan menebang pohon yang ditanam tersebut. Selain itu, antara
rumah warga yang satu dengan rumah lainnya di buat saluran air khusus
satu jalur supaya tidak terjadi genangan air bila musim penghujan tiba.
Upaya itu kata warga belum bisa dikatakan aman.
Data yang dihimpun POSMETRO pasca longsor tahun 1999 tercatat 54 rumah
yang berada di kawasan rawan longsor yang dihuni 250 jiwa penduduk.
Dari 250 jiwa tersebut, 25 % berasal dari keluarga sederhana, 75 % dari
keluarga miskin atau kurang mampu. Rumah yang sangat rawan adalah 6
rumah, tercatat milik Gadi Rajo Bungsu (70), Yan Yus (48), Janiar (54),
Osman Kecil (61), Linda (43) dan Joni (45).
Kekhawatiran masih menyelinap. Namun mereka belum punya kata sepakat
untuk pindah. Hal itu dikarenakan biaya yang cukup besar ditambah tidak
adanya kejelasan lahan baru yang bisa ditempati. Warga berharap
pemerintah mau mengkaji lagi kemungkinan kepindahan mereka. (u)
|
|
|
|
20.11.2008
TUA PEJAT, METRO--Saat musim hujan datang, kondisi jalan di Tuapejat mulai KM 0 sampai 9 sangat memprihatinkan. Selain…
20.11.2008 | Metro Padang
M YAMIN, METRO--Sebanyak 830 berkas surat lamaran ditolak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang. Saat proses pemberkasan dan…
|
|