|
PADANG, METRO-- Di mana-mana politisi tetap saja sama. Begitu ketemu kesempatan dan peluang bagus, mereka bakal meloncat ke tempat itu. Di Sumbar, setidaknya ditemukan 40-an orang politisi yang loncat pagar dari satu partai ke partai lainnya. Mereka tidak saja berasal dari parpol kecil, tapi juga parpol besar. “Ada 40-50 orang yang loncat pagar. Besok lah kita beri namanya. Sekarang sedang direkap,” kata anggota KPU Sumbar Husni Kamil Manik di ruang kerjanya, Rabu (27/8).
Politisi loncat pagar ini, kata Husni bukan saja berasal dari parpol
kecil namun juga ada dari partai besar. Hampir di semua kabupaten/kota,
kecuali Kota Padang ditemukan fenomena ini. Bahkan salah satu kabupaten
di Sumbar ini menyumbang angka terbesar yaitu 12 orang. Namun Husni
Kamil Manik meminta untuk tidak menulis nama daerah itu.
KPU Sumbar akan berupaya mengatur jadwal pelaksanaan Pergantian Antar
Waktu (PAW), jika Parpol mengganti kadernya yang pindah ke partai lain.
“Perlu penjadwalan kerja, agar proses PAW ini tidak mengganggu tahapan Pemilu 2009,” tambahnya.
Berdasarkan Pasal 16 UU No 2/2008 tentang Partai Politik, anggota
Parpol diberhentikan keanggotannya jika meninggal dunia, mengundurkan
diri secara tertulis, menjadi anggota Partai Politik lain atau
melanggar AD dan ART.
Tak Loyal
Sementara Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Surya
Dharma Ali (SDA) tidak ambil pusing dengan ulah sejumlah kader PPP yang
melompat ke partai lain. Soalnya mereka, menurut Surya Dharma Ali bukan
orang penting partai.
“Politisi loncat pagar itu hal biasa. Di PPP juga ada, tapi bukan
orang-orang penting yang keluar. Kita tidak khawatir. Tapi kalau semua
PPP Sumbar yang pindah, itu artinya memang orang penting yang loncat
pagar. Kalau itu baru perlu diwaspadai,” kata SDA usai membuka pameran
usaha kecil menengah di Gedung Bagindo Aziz Chan, Rabu (27/8).
Menjamurnya partai politik saat ini, memang memberikan banyak pilihan
bagi poltisi. Mereka bisa pindah dari satu partai ke partai lain.
Menurut SDA, kader yang pindah itu adalah kader yang tidak loyal.
Umunya mereka pindah ke partai lain, karena menganggap partai itu lebih
bagus. Meski begitu, tidak jarang mereka kembali lagi ke partai yang
pertama. “Nanti kalau tahu ngak enak, juga bakal balik lagi. Ada yang diterima,
ada juga tidak. Tapi kalau pun diterima lagi, mereka akan memulai lagi
dari bawah. Mereka sudah punya catatan buruk,” katanya.
Dia juga
membantah maraknya politisi loncat pagar sebagai kegagalan parpol
melakukan pengkaderan. Partai politik tidak ubahnya seperti produk UKM. Tiap UKM memiliki
produk berbeda, tidak jarang dalam beberapa awaktu mereka mengeluarkan
produk baru.
Bagi yang loyal, tidak akan beralih. Tapi yang rapuh, akan
pindah ke produk lain. “Mereka otomatis berhenti dari sebagai anggota partai. Kalau dia
anggoat DPRD juga berhenti dari legislatif (PAW-red),” tambah SDA
didampingi ketua PPP Sumbar Epiyardi Asda. (nto)
|