|
PERHATIAN pemerintah Kabupaten Limopuluah Koto, duet Amri Darwis-Irfendi Arbi, terhadap pembangunan, dalam rentang waktu 3 tahun ini, cukup dapat dirasakan oleh masyarakat banyak. Apalagi dengan terealisasinya pembangunan jembatan di beberapa kawasan. Sebab jembatan adalah urat nadi masyarakat, khususnya para petani dan pekebun.
Pembangunan jembatan, selain sangat prinsip oleh para petani, pedagang,
dan pekebun juga untuk memudahkan penyebragan anak-anak bangsa ini
ketika berangkat ke sekolah. Karena keberadaan sekolah seperti SMP dan
SLTA, lokasinya memang tidak di semua nagari.
Seperti yang dikatakan Khainir Dt. Mali Puti (50) salah seorang tokoh
masyarakat Bungo Sitangkai, Kenagarian Bukik Sikumpa, Kecamatan Lareh
Sago Halaban, Kabupaten Limopuluah Koto, kepada POSMETRO, Selasa (26/8)
di kediamannya. Selama ini, masyarakat selalu digeluti oleh kesedihan
dan dihantui oleh ketakutan dengan mempergunakan jembatan gantung.
Namun setelah jembatan di selasai diperbaiki, ekonomi masyarakat
kembali bangkit seperti yang kita harapkan. Kesulitan masyarakat untuk
mengangkut hasil bumi ke pasaran, tidak lagi menjadi sulit dan sudah
dapat dikatakan mengalir seperti air.
Kini untuk mengangkut hasul panen, petani tidak mengeluarkan biaya
besarlagi, seperti membayar jasa ojek. Dengan telah difungsikan
jembatan permanen, maka hasil panen petani sudah bisa diangkut dengan
menggunakan mobil sekali angkat saja.
Kenagarian Batupayung, Balaipanjang dan Sitanang, merupakan nagari
penghasil palawija, gambir, karet, cabe dan padi dengan produksi gambir
80 dan karet 50 ton per minggu. Dengan tinggiya produksi hasil panen
inilah dibutuhkan sekali sarana transportasi untuk mempermudah
pemasaran hasil produksi.
Selain memperlancar arus transportasi bagi masyarakat, dengan aanya
pembangunan jembatan permanent ini juga makin membuka ketiga nagari ini
untuk daerah lain. Hal tersebut terlihat saat ini sudah dibuka pasar
dadakan 1 kali dalam seminggu yakni hari Jum’at di Subarang Air dan
hari Minggu di Toreh.
Dengan adanya pasar Jum’at dan pasar Minggu, ternyata kehidupan
masyarakat semakin membaik. Perekenomian mulai bergerak, perputaran
uang semakin jelas, hasil panen petani dapat dijemput langsung oleh
konsumen ke lokasi. “Habatnya lagi, kebutuhan sehari-hari masyarakat
dapat dibeli di kampong halaman sendiri, “sebut K. Dt. Mali Puti. (*)
|